Poso-Tentena Memulai Babak Baru


Poso-Tentena Memulai Babak Baru


TENTENA dan Poso punya sejarah kelabu. Beberapa tahun yang lalu, konflik bernuasa agama meledak di sana. Banyak korban berjatuhan. Tak terhitung pula total kerugian akibat luluhlantaknya rumah milik warga dan fasilitas umum yang ada.

Tapi, sejarah itu kini perlahan-lahan tenggelam karena warga Tentena dan Poso telah sadar jika konflik beberapa tahun lalu hanya menyisahkan kesedihan. Warga Tentena dan Poso terus beranjak dari keterpurukan. Dua komunitas yang berbeda sepakat untuk bersama-sama membingkai kembali perdamaian. Babak baru menuju pembangunan pun semakin galak dilakukan.

”Saat ini, sudah sangat kondusif. Pemerintah sekarang lebih berusaha menggerakan perekonomian rakyat,” kata Wakil Bupati Poso Abdul Muthalib Rimi, Jumat (5/5) lalu. Di Poso-Tentena, lanjutnya, sudah tidak ada lagi sentimen agama. Sentimen hanya bersifat personal.

Dengan terwujudnya stabilitas tersebut, pemerintah daerah tengah menyusun program yang diprioritaskan yang dapat menggerakan ekonomi kerakyatan guna meningkatkan pendapatan per kapita.

Sektor yang amat potensial untuk dikembangkan adalah pertanian, perkebunan dan perikanan. ”Namun, ada kendala infrastruktur irigasi yang rusak, dan banyak kebun yang ditinggal karena pemiliknya mengungsi sehingga tak terawat.

Ketua Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Pendeta Renaldy Damanik juga mengatakan situasi Poso-Tentena sudah membaik. ”Warga kemana saja di wilayah Poso Tentena tidak jadi persoalan lagi. Setelah perjanjian Malino tidak terjadi lagi benturan kelompok. Yang ada aksi penembak gelap dan bom. Tapi konflik antar komunitas tidak ada lagi. Kita mensyukuri itu,” ujarnya.

Warga rupanya tak lagi mau diprovokasi untuk saling baku hantam. Itu dibuktikan adanya upaya beberapa waktu lalu dari beberapa pihak untuk memunculkan konflik komunal. Tetapi, tidak berhasil, seperti kasus penembakan Sekretaris Gereja Tentena.

”Memang kasus tersebut membangkitkan emosional. Tapi sifatnya individual sehingga tidak memancing terjadinya konflik komunal,” kata Sosiolog Universitas Tadulako, Christian Tindjabate.

Meski secara umum situasi Poso-Tentena sudah membaik, lanjutnya, namun tetap perlu ada kewaspadaan agar konflik laten yang masih ada, tidak meluas menjadi konflik manifest. Karena itu, program yang sifatnya diarahkan untuk merekatkan integritas sosial perlu harus terus didorong.

Christian menjelaskan, transformasi mengenai nilai-nilai ketahanan bangsa untuk menguatkan integritas sosial harus terus dilakukan dengan dengan melibatkan para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, pejabat, maupun TNI dan Polri.

Menurut dia, rekonsiliasi Melino adalah entry point dalam memecahkan konflik Poso-Tentena. Tetapi tidak hanya lewat Malino karena sebatas gerakan di tingkat elit.

”Perlu terus dikerahkan pula sejumlah relawan dengan bekerjasama dengan sejumlah NGO untuk membangun perdamaian di tingkat akar rumput dengan melibatkan dua komunitas yang berbeda sehingga menghilangkan klaim wilayah dan perbedaan,” kata Christian.

Di tingkat elit, kata Christian, harus terus dilakukan sharing politik sehingga menciptakan kestabilan politik. Sementara di tingkat akar rumuput, perlu dibentuk forum-forum yang dapat mempersatukan adat istiadat komunitas warga di Poso-Tentena. Menurut dia, sebenarnya latar belakang sejarah warga yang tinggal di Poso-Tentena, terdiri dari pelbagai suku dan agama.

Penanganan Pengungsi

Namun, Demanik menegaskan, dalam menyelesaikan konflik Poso-Tentena, yang paling penting dilakukan adalah penanganan para korban di kawasan pengungsian.

Demanik mengaku miris melihat kondisi korban yang tinggal di pengungsian. Para korban kerusuhan hingga kini masih banyak yang belum memiliki rumah menetap.

”Itu harusnya menjadi prioritas. Apa artinya membangun universitas jika korban kerusuhan belum diatasi. Apa artinya membangun rumah ibadah, kalau orang-orangnya masih melarat.”

Berdasarkan catatan GKST, jumlah korban pengungsi yang belum ditangani secara baik hingga saat ini mencapai 700 KK. Di kawasan pengungsian, mereka hanya menumpang tanah milik warga sekitar.

Menurut Demanik, respon pemerintah daerah sangat kurang. Penanganan pengungsi rupanya kurang menjadi prioritas. Dia menilai, pemerintah daerah tapi lebih mementingkan pembangunan proyek. Padahal, dana bantuan yang mengalir ke Poso karena pengungsi korban konflik sosial yang terjadi beberapa waktu lalu.

Sementara Ketua Himpunan Pemuda Al-Khairaat (HPA) Ibrahim Ismail mengatakan, masih banyak pengungsi yang terkonsentrasi berdasarkan komunitasnya. ”Seharusnya, saudara Kristiani yang tadinya tinggal di Poso, yang memilih Tentena, dapat kembali ke Poso bersama-sama dengan muslim kembali membangun Poso. Umat muslim di Poso sudah sangat terbuka,” katanya.

Meski demikian, kata Ibrahim, masih ada beberapa tempat seperti Gebang Rejo yang yang ditempati kembali pengungsi karena mereka merasa minoritas.

Dia mencontohkan kawasan eks Desa Lombogia—sumber bergejolak konflik yang diawali pertikaian pemuda yang kemudian meluas menjadi konflik sosial. Sampai saat ini, kawasan tersebut masih kosong. Kawasan masih meninggalkan image sebagai tempat pembantaian dan pertikaian antarumat. ”Seharusnya, kawasan itu harus segera diperbaiki.”

Menurut Ibrahim, interaksi sosial antarkelompok yang sebelumnya sudah mengenal saatnya sudah kembali membaik. Namun, ada juga kelompok yang tidak dapat berkomunikasi khususnya dari para korban. Kalau tidak ada pendekatan psikologi yang efektif, maka dapat menjadi pemicu kerusuhan.

Sejauh ini, kata Ibrahim, pendekatan psikologi yang dilakukan pemerintah bersama NGO sifatnya sangat situasional dan tidak berkelanjutan sehingga hanya menghabiskan anggaran saja. ”Rekonsiliasi yang dilakukan hanya melibatkan para tokoh, sementara akar rumput kurang dilibatkan.”

Ibrahimi juga menekan pentingnya usaha mewujudkan perdamaian di Poso-Tentenadengan mengutamakan kebutuhan dasar masyarakat. Menurut dia, selain pembangunan pesantren modern di Poso dan universitas Kristen Tentena, pemerintah juga harus memperhatikan keberadaan pondok pesantren yang sudah lama yang hingga kini masih beraktivitas. ”Namun, begitu banyak keterbatasan.”

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s