Tentena Mengobati Luka

Ilustrasi, Kota Tentena | Net

TENTENA mempercantik diri. Hampir di sepanjang jalan, dijumpai aksesoris indah dengan warna beragam. Senyum sumringah pun menghiasi wajah penghuninya. Mereka mengubah penampilan kala Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beserta rombongan bertandang ke Tentena, awal pekan lalu.

Kunjungan kepala negara kala itu untuk meletakkan batu pertama pembangunan empat sekolah dasar di daerah eks pengungsian, dan perluasan pembangunan Sekolah Tinggi Theologia Tentena menjadi Universitas Kristen Tentena.

Presiden juga meresmikan Rumah Sakit Sinar Kasih dan Panti Asuhan Yahya, Imanuel serta peresmian rehabilitasi gereja.

Pagi itu, cuaca di Tentena begitu cerah. Semilir angin sejuk menyapa. Warga antusias menunggu kedatangan Presiden.

Dari yang tua hingga anak-anak, ramai memadati pinggir jalan menyambut Presiden. Warga juga memadati tempat acara peletakan batu pertama pembangunan SD dan Universitas Kristen Tentena. Sejumlah polisi nampak berjaga-jaga di setiap sudut kota.

Saat Presiden tiba di tempat acara, riuh bernada senang memecah suasana. Maklum, kala itu, kali pertama bagi warga melihat langsung Presiden. Sejak menjadi Presiden tahun 2004 lalu, SBY memang kali pertama mengunjungi Sulawesi Tengah.

Saat kunjungan ke Tentena, Presiden didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, Menteri Sosial Bahtiar Hamsyah, Menteri Kelautan dan Perikanan Fredic Numberi, Menteri Pertanian Anton Apriantono, Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo, dan Menteri Agama Maftuh Basyuni. Hadir pula pula Gubernur Sulawesi Tengah H.B Paliudju, dan Bupati Poso, Piet Inkriwang.

Tentena dihuni sedikit penghuni. Mayoritas penghuninya memeluk agama Nasrani. Aktivitas warga terpusat di sebuah Pasar Sentral Tentena dan gereja.

Tentena menyimpan sejarah kelabu. Beberapa tahun lalu, warga Tentena dan Poso, terjebak dalam konflik berdarah yang bernuasa agama

Pasar Tentena, Pamona Utara, pernah menjadi sasaran bom. Pasar tradisional itu pernah luluhlantak akibat bom berkekuatan tinggi yang meledak, Sabtu, 28 Mei 2005. Bom meledak sekitar pukul 08.00 dan 08.15 WITA. Saat kejadian, Pasar Sentral Tentena tengah ramai dikunjungi warga.

Korban tewas dan luka-luka tak sedikit. Bom yang diletakkan di sebuah kios pasar tersebut menewaskan 25 orang. Sementara korban yang luka jumlahnya lebih banyak.

Peristiwa berdarah itu terjadi saat berlangsung Pemilihan Kepala Daerah di Poso. Kini, kondisi pasar itu sudah baik. Ledakan bom seolah tak berbekas. Aktivitas warga begitu ramai di pasar itu.

Namun, bekas tragedi berdarah lainnya masih nampak. Sejumlah rumah warga dan rumah ibadah yang hancur dan terbakar akibat konflik masih nampak saat melintasi daerah tersebut. Meski demikian, warga Tentena menganggap kisah kelabu itu tinggal kenangan.

”Di sini, tukang copet tidak ada. Tapi ada perakit bom,” ujar Jafar, warga Palu. Dia mengaku dulu tak berani masuk ke Poso dan Tentena saat kerusuhan meledak.

Tapi, itu dulu. Sekarang, lanjutnya, tidak ada lagi aksi pengeboman yang dipicu agama. ”Sekarang warga Poso tak lagi mudah terprovokasi,” ujar seorang warga yang tinggal di Poso.

Yahya Petiro, Ketua II Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) mengatakan, konflik yang berlangsung sejak Desember 1998-Desember 2006, telah menyebabkan banyak anak-anak yang terpaksa menjadi yatim piatu di Pengungsian, banyak warga yang kehilangan rumah.

Kini, tuturnya, situasi di Tentena dan Poso sudah damai. Perdamaian itu tidak terlepas dari usaha pemerintah dan elemen masyarakat untuk terus menerus mengajak masyarakat untuk melakukan rekonsiliasi.

Menurut Yahya, Presiden SBY pada saat menjabat sebagai Menkopolkam dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang masih menjabat sebagai Menkokesra adalah deklarator Perjanjian Malino.

“Perjanjian tersebut sangat monumental karena mengajak dua komunitas yang bertikai untuk mengakhiri konflik dan sepakat untuk damai,” kata Yahya.

Ishaq Pole, tokoh agama di Tentena juga bersyukur keamanan sudah pulih setelah rekonsiliasi dilaksanakan. “Kami berusaha untuk memahami dan saling menerima kemajemukan sebagai ciptaan Tuhan,” katanya.

Di hadapan warga, Presiden mengatakan, sejak 2001 hingga 2003, dirinya sering berkunjung ke Sulawesi Tengah untuk bersama-sama mengakihiri konflik secara adil, damai, dan bermartabat. ”Kita mengenang masa-masa yang penuh dengan kedukaan,” kata Presiden.

Sekarang, lanjut Presiden, keamanan semakin pulih dan normal. ”Semoga kedamaian, keamanan, adn kerukunan dapat kita pertahankan lebih lagi di waktu mendatang untuk masa depan Tentena,” harap Presiden yang disambut tepuk tangan warga.

Presiden mengingatkan, akibat konflik, terdapat berbagai kemunduran dan stagnasi. Karena itu, Presiden menyambut baik prakarsa Gubernur Sulawesi Tengah dan Bupati Poso untuk segera melakukan percepatan pembangunan daerah.

Presiden juga menyerukan agar umat beragama melaksanakan ajaran normatif agama khususnya nilai-nilai agama yang menghormati kemajemukan sosial. Hal itu perlu guna menghindari terjadinya konflik sosial berbau agama.

Menurut Presiden, peristiwa kelam beberapa waktu lalu harus menjadi pelajaran berharga. Kepala Negara mengharap tidak ada lagi korban yang jatuh, dan menyaksikan gereja dan masjid yang di dalamnya dimulaikan nama Tuhan, menjadi rusak dan binasa. Karena itu, kata Presiden, perlu dilakukan rehabilitasi gereja dan masjid yang rusak. “Jadikan rumah ibadah sebagai rumah Tuhan yang penuh dengan kedamaian.”

“Marilah ajaran normatif agama itu kita laksanakan dalam bentuk pengalaman yang nyata. Hidup dalam kemajemukan sosial, tidak dapat dipungkiri,” ujar Presiden.

Kepada umat Kristen dan Katholik, Presiden mengharapkan agar menjadi umat yang taat dalam menjalankan tuntunan agama sesuai Al-Kitab. Salah satu ajaran Kristen adalah cinta kasih dan perdamaian.

Karena itu, hiduplah dengan sikap dan tindakan saling mencintai, dan kasih mengasihi satu sama lain, serta mewujudkan perdamaian kepada sesama manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Demikian pula umat Islam yang diajarkan untuk saling menghormati dan menghargai agama lain.

Menurut Presiden, umat Kristen dan Islam adalah saudara, sesama umat Tuhan. Presiden kembali mengingatkan, saat menangani konflik di Poso. Kala itu, suasana penuh kedukaan. Konflik Poso telah mengakibatkan banyak anak-anak menjadi yatim piatu dan kehilangan masa depan.

”Mari kita selamatkan masa depan anak-anak agar mereka tidak kehilangan masa depan sehingga masa depan Tentena dengan sikap toleransi yang terus dibangun,” harap Presiden.

Yahya Petiro mengungkap jika ada ribuan anak yang tidak dapat masuk sekolah karena kehilangan gedung sekolah.

Tak sedikit pula anak-anak yang menjadi yatim piatu dan terpaksa tinggal di tempat pengungsian. Sebagian remaja juga tak dapat melanjutkan pendidikan ke luar daerah karena biaya yang semakin mahal. ”Apabila kondisi ini terus berlanjut, maka dikhawatirkan akan terjadi lost generation.”

Karena itu, lanjutnya, dengan perluasan pembangunan Sekolah Tinggi Theologia menjadi Universitas Kristen Tentena, menjadi solusi bagi masa depan anak muda di Tentena. Pun halnya pembangunan empat SD di kawasan pengungsian diharap dapat memberi kesempatan bagi anak-anak ditempat pengungsian untuk belajar.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s