Tentena tak Henti Obati Luka


Tentena tak Henti Obati Luka



TENTENA kala itu tampil mempercantik diri. Hampir di sepanjang jalan dijumpai aksesoris bendera dengan warna beragam.

Senyum sumringah pun menghiasi wajah warga Tentena. Mereka memang harus sedikit mengubah penampilan karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan pada awal pekan lalu bertandang ke Tentena.

Kunjungan kepala negara kala itu untuk peletakan batu pertama pembangunan empat sekolah dasar di daerah eks pengungsian, dan perluasan pembangunan Sekolah Tinggi Theologia Tentena menjadi Universitas Kristen Tentena.

Presiden juga meresmikan Rumah Sakit Sinar Kasih dan Panti Asuhan Yahya, Imanuel serta peresmian rehabilitasi gereja.

Pagi itu, cuaca di Tentena begitu cerah. Semilir angin sejuk menyapa. Warga antusias menunggu kedatangan Kepala Negara beserta rombongan dari Jakarta.

Dari yang tua hingga anak-anak, ramai memadati pinggir jalan menyambut Presiden. Warga memadati tempat acara peletakan batu pertama pembangunan empat sekolah dasar di daerah eks pengungsian, dan perluasan pembangunan Sekolah Tinggi Theologia Tentena menjadi Universitas Kristen Tentena.

Sejumlah polisi berjaga-jaga di setiap sudut kota. Hampir di setiap sudut jalan ditemukan polisi mangkal. Aparat berjaga guna mencegah sesuatu yang tidak diinginkan.

Saat Presiden tiba ditempat acara, riuh bernada senang memecah suasana. Maklum, itulah pertama kali warga melihat langsung Presidennya. Sejak menjadi Presiden, SBY memang kali pertama mengunjungi Sulawesi Tengah.

Saat kunjungan ke Tentena, Presiden didampingi Ibu Negara Hj Ani Yudhoyono, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, Menteri Sosial Bahtiar Hamsyah, Menteri Kelautan dan Perikanan Fredic Numberi, Menteri Pertanian Anton Apriantono, Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo, Menteri Agama Maftuh Basyuni, dan Gubernur Sulawesi Tengah H.B Paliudju, dan Bupati Poso Piet Inkriwang.

Tentena dihuni oleh sedikit penghuni. Mayoritas penghuninya memeluk agama Nasrani. Aktivitas warga terpusat di sebuah Pasar Sentral Tentena, dan gereja. Tentena menyimpan sejarah kelabu. Beberapa tahun lalu, warga Tentena dan Poso, terjebak dalam konflik berdarah yang bernuasa perbedaan agama.

Pasar Tentena, Pamona Utara, pernah menjadi sasaran bom. Pasar berkelas tradisional itu pernah diluluhlantakan bom berkekuatan tinggi pada Sabtu (28/5/2005) pagi. Bom meledak sekitar pukul 08.00 dan 08.15 WITA. Saat kejadian, Pasar Sentral Tentena tengah ramai dikunjungi warga.

Korban yang tewas dan luka-luka tak sedikit. Bom yang diletakkan di sebuah kios pasar tersebut kabarnya menewaskan 25 orang. Sementara korban yang luka jumlahnya lebih banyak lagi. Peristiwa berdarah itu terjadi saat berlangsung Pemilihan Kepala Daerah di Poso. Kini, kondisi pasar itu sudah baik. Ledakan bom seolah tak berbekas.

Aktivitas warga begitu ramai di pasar itu.

Namun, bekas tragedi berdarah bernuasa agama lainnya masih nampak. Sejumlah rumah warga dan rumah ibadah yang hancur dan terbakar akibat konflik masih nampak saat melintasi daerah tersebut.

Meski demikian, warga Tentena menganggap kisah kelabu itu tinggal kenangan. ”Di sini, tukang copet tidak ada. Tapi ada perakit bom,” ujar Jafar, warga Palu. Dia mengaku dulu tak berani masuk ke Poso dan Tentena saat kerusuhan meledak.

Tapi, itu dulu. Sekarang, lanjutnya, tidak ada lagi aksi pengeboman yang dipicu persoalan agama. ”Sekarang warga Poso tak lagi mudah terprovokasi,” ujar seorang warga yang tinggal di Poso.

Yahya Petiro, Ketua II Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) mengatakan konflik yang berlangsung sejak Desember 1998-Desember 2006, telah menyebabkan banyak anak-anak yang terpaksa menjadi yatim piatu di Pengungsian, banyak warga yang kehilangan rumah.

Kini, tuturnya, situasi di Tentena dan Poso sudah damai. Perdamaian itu tidak terlepas dari usaha pemerintah dan elemen masyarakat untuk terus menerus mengajak masyarakat untuk melakukan rekonsiliasi. Hasilnya (perdamaian, red) sudah dapat dinikmati saat ini.”

Menurut Yahya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat masih menjabat sebagai Menko Polkam, dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang masih menjabat sebagai Menko Kesra, adalah deklarator Perjanjian Malino.

“Perjanjian tersebut sangat monumental karena mengajak dua komunitas yang bertikai untuk mengakhiri konflik dan sepakat untuk damai,” kata Yahya. ”Kami bersyukur keamanan sudah pulih, karena rekonsiliasi yang dilaksanakan. Kami berusaha untuk memahami dan saling menerima kemajemukan sebagai ciptaan Tuhan,” kata Ishaq Pole, tokoh agama di Tentena.

Saat dihadapan ratusan warga, Presiden mengatakan, sejak 2001 hingga 2003, dirinya sering berkunjung ke Sulawesi Tengah untuk bersama-sama berikhtiar mengakihiri konflik secara adil, damai dan bermartabat. ”Kita mengenang masa-masa yang penuh dengan kedukaan,” kata Presiden.

Sekarang, lanjut Presiden, keamanan semakin pulih dan normal. ”Semoga kedamaian, keamanan, adn kerukunan dapat kita pertahankan lebih lagi di waktu mendatang untuk masa depan Tentena,” harapan Presiden yang kemudian disambut tepuk tangan warga.

Presiden mengingatkan, akibat konflik, terdapat berbagai kemunduran dan stagnasi. Karena itu, Presiden menyambut baik prakarsa Gubernur Sulteng dan Bupati Poso untuk segera melakukan percepatan pembangunan daerah.

Presiden juga menyerukan agar umat beragama melaksanakan ajaran normatif agama khususnya nillai-nilai agama yang menghormati kemajemukan sosial. Hal itu perlu dilaksanakan guna menghindari terjadinya konflik sosial yang berbau agama seperti yang terjadi di Poso Sulawesi Tengah beberapa tahun lalu.

Menurut Presiden, peristiwa kelam yang pernah terjadi di Poso harus menjadi pelajaran berharga. Kepala Negara mengharap tidak ada lagi korban yang jatuh, dan menyaksikan gereja dan masjid yang di dalamnya dimulaikan nama Tuhan menjadi rusak dan binasa. Karena itu, kata Presiden, perlu dilakukan rehabilitasi gereja dan masjid yang rusak.

”Jadikan rumah ibadah sebagai rumah Tuhan yang penuh dengan kedamaian.

Marilah ajaran normatif agama itu kita laksanakan dalam bentuk pengalaman

yang nyata. Hidup dalam kemajemukan sosial, tidak dapat dipungkiri;” ujar

Presiden saat memberikan sambutan.

Kepada umat Kristen dan Katholik, Presiden mengharapkan agar menjadi

umat yang bersungguh-sungguh taat dalam menjalankan tuntunan ajaran agama

sesuai dengan tuntunan Al-Kitab. Salah satu ajaran Kristen adalah cinta kasih dan perdamaian.

Karena itu, hiduplah dengan sikap dan tindakan saling mencintai, dan kasih mengasihi satu sama lain, serta menegakkan perdamaian kepada sesama manusia sebagai mahluk yang sama sebagai ciptaan Tuhan. Sementara Islam juga mengajarkan sikap menghormati dan menghargai agama lain.

Menurut Presiden, umat Kristen dan Islam adalah saudara, sesama umat Tuhan. ”Sebab itu, sebagai sesama umat Tuhan tidak ada alasan untuk tidak bekerjasama, saling hormat menghormati dan hidup berdampingan.”

Presiden kembali mengingatkan bahwa saat menangani konflik berbau agama di Poso, suasana kala itu penuh dengan kedukaan. Presiden amat terharu jika konflik Poso telah mengakibatkan banyak anak-anak menjadi yatim piatu dan kehilangan masa depan.

”Mari kita selamatkan masa depan anak-anak agar mereka tidak juga kehilangan masa depan sehingga masa depan Tentena dengan sikap toleransi yang terus dibangun,” harap Presiden.

Menurut Presiden, pemerintah mendorong kemajuan di semua komunitas agama di

Indonesia. Pemerintah tidak membeda-bedakan dan wajib memberlakukan

secara adil.

Yahya Petiro mengungkapkan fakta yang paling menggenaskan dari tragedi tersebut adalah terdapatnya ribuan anak yang tidak dapat masuk sekolah karena kehilangan gedung sekolah.

Anak-anak juga tak sedikit yang menjadi yatim piatu yang terpaksa tinggal di tempat pengungsian. Sebagian remaja juga tak dapat melanjutkan pendidikan ke luar daerah karena biaya yang semakin mahal. ”Apabila kondisi ini terus berlanjut, maka dikhawatirkan akan terjadi lost generation.”

Karena itu, lanjutnya, dengan perluasan pembangunan Sekolah Tinggi Theologia menjadi Universitas Kristen Tentena, menjadi solusi bagi masa depan anak muda di Tentena. Pun halnya pembangunan empat SD di kawasan pengungsian diharap dapat memberi kesempatan bagi anak-anak ditempat pengungsian untuk belajar.

Pendeta Ishaq Pole bersyukur karena keamanan sudah mulai pulih karena

rekonsiliasi yang dilaksanakan masyarakat. ”Kami berusaha untuk memahami dan saling menerima kemajemukan sebagai ciptaan Tuhan,” katanya.



M. Yamin Panca Setia

photo: http://www.indonesia.faithfreedom.org



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s