Dalam Kepungan Narkoba

Ilustrasi Narkoba | Net

PARA sindikat pengedar narkoba tak kehabisan amunisi. Tindakan hukum represif yang disertai penjara maksimal, tidak mampu menghentikan laju mereka menebar narkoba.

Dari tahun ke tahun, konsumen narkoba selalu meningkat. Kini, angkanya mencapai lebih dari empat juta orang. Omset dari bisnis barang haram itu amat fantastis. Mencapai Rp12 triliun per tahun. Bahkan, bisa mencapai Rp50 triliun jika ditambah dengan biaya rehabilitasi dan dampak sosial terhadap korban dan keluarganya.

Badan Narkotika Nasional (BNN) memprediksi, kerugian bangsa Indonesia, mulai 2004 hingga 2009, mencapai Rp207 triliun jika peredaran narkoba tak dapat dihentikan.

DKI Jakarta, Bali, Jawa Timur, Bandung, dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia adalah lahan basah yang terus digarap para pengedar narkoba.

Jakarta menempatkan posisi teratas. Sebagai salah satu kota terbesar di Asia Tenggara, Jakarta menjadi tempat transit dan masuknya heroin, morfin, kokain, sabu, maupun obat-obatan berbahaya lainnya.

Sementara Cina, Afganistan, Pakistan, Thailand, dan sejumlah kota di Afrika, adalah pemasok narkoba terbesar ke Indonesia. Sebagian didistribusikan di dalam negeri dan sebagian lainnya disebarkan lagi ke luar negeri.

Dahsyatnya peredaran narkotika di Jakarta dibuktikan dengan menjamurnya pasien penyalahgunaan narkoba. Di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Fatmawati, Jakarta, dalam sehari, 40-50 orang pasien narkoba masuk untuk dirawat lantaran narkoba.

Para sindikat tak hentinya ekspansi ke generasi muda di ibu kota. Gilanya, mereka menjajakan narkoba hingga ke Sekolah Dasar (SD). Temuan BNN beberapa waktu lalu sangat mencengangkan.

Menurut Direktur Pembinaan TK dan SD Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Mudjito, BNN mengungkapkan, sebanyak 800 siswa SD di DKI Jakarta sepanjang 2006 sampai sekarang, telah mengkonsumsi narkoba. Jumlahnya diperkirakan lebih banyak lagi. Karena, angka 800 siswa SD itu hanya yang berhasil terdata.

Narkoba yang menjamah siswa SD dalam hitungan lima tahun terakhir mengalami peningkatan 200 persen. ”Sebelumnya, peningkatannya hanya berlangsung dalam waktu 10 tahun,” katanya.

Tak kalah tragis, penyalahgunaan narkoba di lingkungan siswa SMP yang mencapai 4.000 orang dan SMA 11.000 orang. Jadi, totalnya mencapai 15.800 pelajar di DKI Jakarta menggunakan narkoba. Tragis bukan?

Program Internasional Eliminasi Pekerja Anak (IPEC) ILO Jakarta medio tahun lalu juga menyimpulkan, dari hasil kajian cepat (rapid assessment), ternyata anak-anak Jakarta amat rentan terlibat dalam memproduksi dan mengedarkan narkoba. Sebanyak 50 persen anak yang diwawancarai tim ILO di tiga wilayah Jakarta mengaku, pernah terlibat dalam pembuatan obat terlarang.

Dede Shinta Sudono, National Programme Officer IPEC ILO Jakarta mengatakan, dari survei terhadap 92 anak di Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat, ternyata ada 48 anak atau 50 persen dari mereka terlibat pembuatan obat terlarang.

Anak-anak itu mengepak, membungkus, memasukkan obat ke amplop kecil, dan selanjutnya dijual. Mereka juga turut mengepak narkoba dalam jumlah yang lebih besar untuk selanjutnya dikirim ke pemesan.

Ironisnya, dari 90 anak yang menyatakan telah menjual obat terlarang, sebagian mengakui mulai menjual obat saat menginjak usia 13 tahun. Dengan kata lain, mereka menjadi pengedar narkoba sejak SD.

Fenomena ini sejalan dengan usia kritis keterlibatan anak dalam perdagangan narkoba, yakni 12-13 tahun (pengedar ganja) dan 13-15 tahun (pengedar heroin). Jenis narkoba yang dijual adalah ganja karena mudah diperoleh anak-anak. Kemudian, pil psikotropika, terutama ekstasi. Anak-anak itu terlibat sebagai pengedar narkoba lantaran kemiskinan, tekanan teman sebaya, peran keluarga, peran bandar, dan masalah yang dihadapi di sekolah, termasuk putus sekolah. Sementara tingkat kematian remaja akibat narkoba, BNN memperkirakan, setiap tahun 15.000 remaja tewas di seluruh di seluruh Indonesia.

Kepala Harian BNN Komisaris Jenderal (Polisi) Made Mangku Pastika mengibaratkan, penguna narkoba di Indonesia saat ini seperti pencandu rokok, yang sudah meluas dan mewabah. “Namun, kita tidak akan menyerah melawan para pengedar narkoba. Harus kita cegah, jangan sampai bertambah lagi, dan kita pelan-pelan membuat empat juta pengguna narkoba itu semakin sadar,” katanya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sejak Januari-Nopember 2006, BNN berhasil mengungkap 11.400 kasus narkoba. Kasus itu terdiri 6.319 penyalahgunaan narkotika, 3.585 psikotropika, dan 1.496 kasus bahan adiktif.

Jumlah tersangka narkoba yang ditangkap sebanyak 22.503 orang, yang terdiri 22.457 warga negara Indonesia, dan 46 warga negara asing. Sementara jumlah barang bukti yang berhasil disita antara lain ganja (9.888.994,72 gram), kokain (149,20 gram), heroin (4.042,34 gram), shabu (1.188.113,51 gram), dan ekstasi (180.498,5 tablet).

Narkoba yang merambah masuk ke Indonesia umumnya diproduksi dari luar negeri. Shabu kebanyakan dari China. Sementera ekstasi, heroin, dan zat psikotropika lainnya berasal dari Eropa. Sedangkan ganja banyak yang diproduksi dari orang Indonesia.

Made Pastika menambahkan meski hingga kini belum ada data yang menunjukan frekwensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia, namun kasus penyalahgunaan narkoba yang berhasil ditangkap aparat selalu naik.

Tingginya permintaan mendorong pengedar dengan segala cara memasukan barang haram itu ke Indonesia. “Jika tidak bisa lewat jalur pelabuhan, bisa diturunkan di tengah laut, dengan menggunakan kapal kecil nelayan. Kita tahu, Indonesia sangat terbuka.”

Masuknya 955 kilogram sabu-sabu beberapa waktu misalnya, menggunakan modus tersebut. Barang haram itu dibawa dari kapal besar, kemudian diturunkan ke kapal kecil nelayan yang kemudian membawanya ke pantai.

Genderang perang terhadap narkoba yang ditabuhkan pemerintah bersama masyarakat rupanya tak mampu menciutkan nyali para sindikat pengedar narkoba.

Aris Merdeka Sirait, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, mendesak BNN, Polri, Departemen Pendidikan, dan pihak sekolah untuk membuat dan menerapkan kebijakan yang bisa mensterilkan pelajar dari narkoba.

Menurut dia, temuan itu sangat signifikan, dan tak menutup kemungkinan, keterlibatan pelajar dengan narkoba lebih besar lagi karena tidak sedikit pelajar yang menyalahgunaan narkoba berhasil diidentifikasi. ”Saya prihatin atas temuan tersebut,” katanya.

Komnas Perlindungan Anak juga mendesak pemerintah merehabilitasi pelajar yang menjadi korban narkoba. Sesuai Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak, Pasal 59, pemerintah bertanggungjawab memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, termasuk anak-anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza).

”Jangan jadikan mereka sebagai penjahat, tapi sebagai korban, dan pemerintah harus merehabilitasi,” tegasnya. Dia juga mendesak BNN agar melakukan kampanye dan aksi pada basis yang tepat yaitu di sekolah dan di lingkungan rumah.

”Sejauh ini, pendidikan, kampanye yang dilakukan pemerintah, dan BNN belum maksimal. Aksi dan kampanye perang terhadap narkoba harus betul-betul berbasis sekalola dan keluarga. Sekolah juga harus konsisten menerapkan zona bebas rokok, dan narkoba.”

Dia menilai, anak-anak dan remaja merupakan sasaran empuk yang diincar sindikat. Ketidaktahuan mereka akan dampak narkoba menjadi peluang bagi para bandar untuk memberdayakan anak-anak menjadi pengedar.

Aris mengatakan, anak yang baru berangkat remaja seperti SMP dan SMA sangat rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Mereka begitu mudah menjadi perokok karena pengaruh lingkungan. Mereka tidak tahu dampaknya. Sebagian menganggap merokok merupakan cara memperlihatkan style kepada orang lain.

Karenanya, Aris menilai, untuk menstrerilkan lingkungan sekolah dari narkoba, harus diawali dengan cara mensterilkan sekolah dari rokok.

Sementara Mudjito menekankan pentingnya peran orang tua dan pihak sekolah. Dia orang tua agar memperhatikan anaknya yang mengkonsumsi permen yang mengandung narkoba.

Dia pun berharap, pihak sekolah rutin melakukan tes urine kepada siswa TK maupun SD, termasuk melarang melarang penjualan rokok di sekolah.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s