Tanaman obat terus gulirkan untung


Tanaman obat terus gulirkan untung


Belakangan ini, semakin banyak bermunculan produk pengobatan berbahan baku dari tanaman. Ada yang berbahan baku kelapa, wortel, sampai buah-yang dalam tahun ini menjadi primadona-buah merah dan mengkudu. Semuanya, dengan hasil bak kacang goreng, laris manis tanjung kimpul, barang habis duit kumpul.

Sebab, dengan kisaran harga Rp200.000 hingga Rp1,5 juta bahkan ada yang lebih, orang tidak lagi peduli, obat tersebut ‘disambar’. Ludes. Tak ayal, kondisi itu, membuat produsen obat berbahan baku tanaman, bak jamur di musim hujan.

Kondisi itu, tidak melulu didominasi oleh Indonesia. Kampanye back to nature telah mengakselerasi permintaan di berbagai belahan dunia. Karena kampanye itu telah menyadarkan masyarakat soal keampuhan tanaman sebagai obat, pesatnya dinamika pasar produk obat berbasis tanaman (obat herbal), juga merebak hingga ke Uni Eropa (UE). Kini, perdagangan herbal di UE, telah mencapai US$6 miliar per tahun, sedangkan di Amerika Serikat US$1,5 miliar.

Di Jepang, nilai perdagangannya sudah menembus angka US$2,1 miliar. Sementara di China dan Korea Selatan, perdagangan obat itu lebih besar lagi, US$2,3 miliar. Di Indonesia, yang pada 2002 mencapai Rp2 triliun, pada 2005 melejit menjadi Rp4 triliun.

Wahono Sumaryono, Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, menginformasikan, perkembangan industri farmasi kini terus membesar. “Saat ini, telah berdiri 907 industri kecil, serta 105 industri berskala menengah dan besar,” ujar Wahono.

Di antara pelaku usaha yang mampu tumbuh dari kian membesarnya permintaan akan obat herbal adalah Sanbe, Kalbe Farma dan PT Dexa Medica. Dexa, perusahaan yang didirikan sejak 1969, pada 2004 mampu menduduki peringkat kedua dalam bisnis bidang farmasi.

Bahkan, produk perusahaan yang dulu didirikan di Palembang dan kini berpusat di Jakarta, menyebar ke berbagai negara. Perusahaan yang didukung 4.000 karyawan, yang tersebar di seluruh Indonesia, kini semakin menggencarkan produksi guna menjawab permintaan pasar.

Menurut Wahono, meningkatnya produk obat herbal di Indonesia tidak lepas dari adanya dukungan dari kekayaan alam yang memasok bahan baku.

Berdasarkan data dari BPPT, di Nusantara ini ada sekitar 9.606 spesies tumbuhan obat.

“Bahkan, potensi tersebut belum dioptimalkan,” kata Direktur Manajer PT Dexa Medica Ferry Soetikno.

Berdasarkan data BPPT, dari 9.606 spesies tumbuhan obat, baru 350 spesies yang teridentifikasi. Selanjutnya, hanya 3%-4% yang dimanfaatkan serta dibudidayakan secara komersil.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menetapkan tiga kategori obat alam yang dapat dikonsumsi masyarakat, a.l. jamu, herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Wahono menjelaskan jamu adalah obat alami yang bentuknya seperti ranjangan, serbuk cair, pil, serta kapsul. Sedangkan herbal terstandar adalah sediaan obat alami dengan bahan baku ekstrak tanaman obat yang telah terstandarisasi dan telah lolos uji preklinik (uji khasiat dan toksisitas pada hewan coba). Fitofarmaka adalah sediaan obat alami dengan bahan baku dari ekstrak tanaman obat yang telah terstandarisasi dan lolos uji preklinik dan uji klinik (uji pada pasien rumah sakit).

“Saat ini obat herbal Indonesia hanya mempunyai lima fitofarmaka dan 17 herbal terstandar,” kata Wahono.

Kelompok fitofarmaka a.l. Nodiar, Rheumaneer, Stimuno, Tensigard Agromed, serta X-Gra. Sedangkan kelompok herbal terstandar, a.l. Diabmeneer, Diapet, Fitogaster, Fitolac, Glucogard, Ho Stimuno, Irex Max, kiranti pegal linu, Kiranti Sehat Datang Bulan, Kuat Segar Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao, Lelap, Prisidii, Reumakur, Sehat Tubuh Tian Ran Ling You, Songgolangit, Stop Diar Plus, serta Virugon.

Namun, bagi pelaku usaha biofarmaka atau fitofarmaka, banyak kaedah usaha yang perlu dipegang sebelum meraup sukses. Dalam proses mengubah bahan baku menjadi sediaan yang siap dikonsumsi, misalnya, harus dilakukan tahapan uji farmakologi yang meliputi uji efikasi untuk mengetahui khasiat, atau manfaat dan uji toksitas untuk mengetahui spektrum keamanan ekstrak.

Selanjutnya melakukan formulasi sediaan, yaitu membuat sediaan yang siap dikonsumsi dengan pertimbangan dosis, stabilitas serta praktis dalam pemakaian.

Dalam proses pengembangan secara lebih luas, industri produk obat alam harus didukung peneliti, pemerintah, dokter, pengusaha, bahkan masyarakat.

Tapi, langkah yang tidak boleh dilupakan adalah membangkitkan kecintaan masyarakat untuk lebih memilih obat alam dari pada obat modern. Belajarlah dari China yang terkenal dengan pengobatan tradisionalnya.

China dikenal sangat unggul di bidang pengobatan yang memanfaatkan alam, seperti akar, rumput, daun, batang, pohon dan buah, atau serangga dan sejenisnya sebagai bahan obat-obatan. Pengobatan tradisional tak hanya digandrungi masyarakatnya, namun juga menggurita di bisnis farmasi pasar dunia.

M. Yamin Panca Setia

Photo: http://www.theblisspages.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s