Dari Kebun Mangga Hingga Kincir Angin


MASALAH kemarau berkepanjangan, di samping kelangkaan pupuk dan harga yang anjlok saat panen sudah tidak asing lagi bagi petani.

Saat musim kemarau tiba, air sungai yang biasanya mengaliri saluran irigasi semakin menyusut. Sedangkan kucuran hujan tak jelas kapan membasahi sawahnya. Kekeringan merupakan masalah yang senantiasa dihadapi petani tiap tahun.

Wajar, jika kala itu tak sedikit petani yang hanya bisa berpangku tangan.

Tak sedikit tanaman pun mati lantaran lahan tak lagi produktif karena menyusutnya kandungan air. Tak ada yang bisa diandalkan selain berdoa mengharapkan keagungan Tuhan Yang Maha Esa agar segera menurunkan hujan untuk membasahi sawahnya.

Namun, ada cara lain yang dilakukan petani. Kala kemarau tiba, petani ada yang terpaksa menggunakan pompa diesel untuk mengairi sawah.

Tapi, proses substitusi itu memaksa petani mengeluarkan segepok uang untuk membeli solar sebagai sumber energi penggerak pompa diesel.

Kebun mangga

Keluhan itu pernah dirasakan Nila Rifai bersama teman-temannya di PT Bumi Energi Equatorial (BEE)-sebuah lembaga riset yang fokus pada pengembangan energi yang bertempat di Kota Bogor.

Tepatnya pada 2000, perkebunan mangga mereka seluas 10 hektare di Indramayu kering karena musim kemarau tiba.

Sementara itu, untuk mengandalkan air sungai sangat mustahil karena jaraknya yang amat jauh.

Terpaksa, satu-satunya jalan untuk mengairi lahan perkebunan adalah memompa air tanah dengan mesin diesel.

Untuk mengairi perkebunan mangga itu, Nila dan kawan-kawan terpaksa mengeluarkan biaya sebesar Rp1 juta per minggu untuk pembelian solar untuk pompa diesel.

Karena begitu besar biaya operasional untuk pengairan, mereka pun mulai mencoba membuat kincir angin untuk pompa air.

“Kami memilih kincir angin karena angin merupakan energi gratis yang tersedia sepanjang hari sehingga biaya pembelian BBM untuk pengairan dapat dihilangkan. Sehingga dalam setahun, kami bisa menghemat biaya operasional Rp48 juta,” kata Nila yang menjabat sebagai Direktur PT BEE.

Dia menjelaskan manfaat yang dapat diberikan dengan menggunakan teknologi kincir angin adalah energi angin yang dikonversikan ke energi mekanik maupun listrik, sehingga dapat digunakan setiap hari dengan tanpa biaya alias gratis.

Coba bayangkan jika seluruh petani di Indonesia menggunakan kincir angin. Tentu, petani tak perlu mengeluh-meski harga minyak naik-sehingga dapat meringankan biaya produksi.

Selain itu, petani juga mampu berproduksi pada musim kemarau dengan biaya produksi yang rendah.

Di sejumlah negara seperti Belanda, Jerman, Swedia, China, Jepang, Amerika Serikat, Australia, dan Kanada, energi alternatif, gratis dan amat bersahabat ini telah dikembangkan.

Di Eropa dan Amerika, kincir angin sudah digunakan sebagai pembangkit listrik dengan kapasitas di atas 10 kVA.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Nila menjelaskan jika secara umum energi angin belum terlalu dikembangkan di Indonesia. Masyarakat lebih cenderung mengandalkan energi dari minyak bumi.

Namun, sejumlah lembaga penelitian Indonesia sudah mulai mencoba mengembangkan energi angin. Sayangnya, riset yang dilakukan belum banyak berhasil karena terbentur masalah dana.

Investasi yang diperlukan untuk membuat kincir angin relatif mahal-tergantung lokasi pemasangan.

Dia memperkirakan untuk membuat satu unit kincir angin pompa air dengan tinggi 10 meter, dibutuhkan biaya sekitar Rp45 juta.

Sedangkan biaya untuk pembuatan kincir angin pembangkit listrik menghabiskan dana sekitar Rp45 juta, tapi tergantung kapasitas outputnya. Biaya tersebut belum termasuk biaya pengiriman dan pemasangan.

“Kincir angin ini hanya investasi awalnya saja yang besar, namun setelah itu tidak ada lagi biaya yang dikeluarkan karena energi yang digunakan gratis sepanjang tahun.”

Sejak 2003

BEE telah mengembangkan teknologi kincir angin sejak 2003.

Saat ini, lembaga tersebut sudah berhasil membuat tiga jenis kincir angin yaitu kincir angin dengan nama Egra-singkatan dari Energi Gratis yang dapat digunakan untuk pompa air. Selain itu, BEE juga telah menciptakan kincir angin untuk pembangkit listrik dan kincir angin hibrida (pompa air plus listrik) dengan muatan lokal.

Untuk kincir angin pompa air, BEE menciptakan Egra yang mampu menghasilkan debit air tiga liter per stroke.

Sementara kincir angin pembangkit listrik Egra berhasil membangkitkan kapasitas listrik sebesar 1.000 watt, 2.000 watt, dan 5.000 watt.

“Saat ini kami sedangkan riset untuk membuat kincir angin pembangkit listrik dengan kapasitas 10.000 watt.”

Kincir angin Egra milik BEE sudah terpasang sebanyak lebih dari 20 unit di 10 lokasi di seluruh Indonesia.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s