Nuklir alternatif menjawab krisis energi

Harga minyak mentah di pasar internasional yang bersifat fluktuatif agaknya membuat penghuni dunia tersentak.

Wajar, karena dari waktu ke waktu, kebutuhan akan kuantitas minyak sebagai sumber energi selalu meningkat.

Sekitar 50% kebutuhan energi dunia bersumber dari bahan bakar mi-nyak. Sisanya, disuplai dari batu bara dan gas alam. Sementara energi surya, angin dan sebagainya, hanya memberikan kontribusi yang sedikit.

Beberapa tahun mendatang, energi tak terbarukan itu pun dipastikan akan habis. Mungkin, penghematan dapat menjadi alternatif agar stok minyak dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

Namun, sampai kapan harus terus berhemat. Apalagi, seiring dengan meningkatnya teknologi dan industrialisasi, sangat mustahil, jika seruan berhemat BBM dapat dilaksanakan semaksimal mungkin.

Justru sebaliknya, kandungan minyak di perut bumi akan terus dieksploitasi guna menjawab kebutuhan energi industri dan rumah tangga.

Karena itu, sudah saatnya perlu ada implementasi kebijakan yang revolusioner ke arah inovasi energi nonmigas.

Dalam konteks ini, energi nuklir menjadi alternatif yang harus diperhitungkan.

Laporan World Nuclear Association 2005 berjudul The New Economics of Nuclear Power, menyimpulkan bahwa nuklir adalah alternatif terbaik menjawab persoalan semakin langkanya minyak sebagai sumber energi.

Biayanya jauh lebih rendah dibandingkan dengan energi berbahan bakar lain. Di Spanyol, biaya produksi listrik yang dihasilkan pembangkit nuklir turun hingga 29% selama 1995-2001.

Ongkos bahan bakar energi listrik nuklir juga lebih rendah dibandingkan dengan biaya listrik berbahan batu bara, minyak dan gas-yang kadang menyebabkan masalah logistik, serta pencemaran.

Sementara nuklir, dengan bahan baku uranium dipastikan akan lebih mudah diangkut dan murah biaya.

Volume yang diperlukan lebih kecil dari pada batu bara dan minyak. Satu kilogram uranium alam dapat menghasilkan 20.000 kali lebih banyak energi ketimbang jumlah batu bara yang sama. Dengan nuklir, maka diperkirakan peran batu bara dapat berkurang menjadi 91 juta ton pada 2025, dengan pangsa listrik nuklir yang memadai yaitu 20%.

Namun, pemerintah terkesan kurang berani merealisasi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Muria. Sementara tiga investor asing asal Jepang, Prancis, dan Korea Selatan sudah menyatakan siap mendanai proyek tersebut senilai Rp35 triliun.

Sebenarnya, Indonesia bermimpi membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Muria, Jepara. Tiga investor asing juga sudah menyatakan siap mendanai pembangunannya senilai Rp35 triliun.

Megaproyek di lahan 25 ha yang berlokasi di kawasan Tapak, Lemah Abang, Semenanjung Muria, Kabupaten Jepara itu, dijadwalkan mulai dibangun pada 2010 dan beroperasi 2015.

PLTN tersebut diperkirakan mampu memproduksi listrik dengan biaya yang lebih murah, karena bahan bakar untuk mengoperasikan listrik jauh lebih rendah daripada pembangkit lainnya, yaitu sekitar 40%.

Harga listrik dari PLTN Muria nanti hanya berkisar US$0,03 hingga US$0,04 per kWh. Sementara harga listrik sekarang mencapai US$0,07 per kWh.

Dalam pelaksanaanya, Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) telah membentuk tim nasional yang bertugas menentukan pemilik guna merealisasikan proyek tersebut

Selanjutnya, pemilik akan mengatur pelaksanaan tender proyek kepada para investor yang tertarik menanamkan investasi di sektor PLTN.

Kepala Batan Soedyartomo Soentono mengatakan berdasarkan studi yang dilakukan Batan, investasi PLTN Muria berkisar antara US$1.350 per kilowatt hingga US$1.750 per kilowatt.

Selain itu, penggunaan uranium juga pengaruhnya hanya 5%, termasuk pengolahan dan daur limbahnya yang hanya 25% dari harga listrik yang dijual. “Makanya, negara-negara yang menggunakan PLTN, tarif dasar listriknya tidak naik meski sudah 20-30 tahun,” ujarnya.

Hingga kini pemerintah belum bisa memastikan waktu yang tepat untuk memulai pelaksanaan proyek tersebut.

Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Yogo Pratomo pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan pembangunan PLTN Muria tidak sebatas mempertimbangkan aspek investasi dan keuangan.

Namun, juga harus mempertimbangkan aspek politik, keamanan, dan hubungan internasional dengan negara lain. Indonesia tentu tidak ingin seperti pembangunan teknologi nuklir Iran, yang dikhawatirkan masyarakat internasional.

Kecurigaan yang berlebih terhadap nuklir sudah saatnya dipalingkan. Jangan terlalu over estimate dalam memandang nuklir. Semua teknologi, pasti akan membawa dampak positif dan negatif bagi manusia.

Dan, jika mempertimbangkan pergerakan harga minyak dan gas yang selalu meningkat, tentu harusnya memacu pergeseran ke arah nonmigas. Nuklir menjadi alternatif dalam menjawab hal itu. Jika terus berpijak pada minyak dan gas, maka dipastikan akan semakin mempersulit sistem listrik serta berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia. Jadi, mengapa tidak Indonesia beralih ke nuklir?

*******

Kebutuhan energi listrik diyakini akan semakin meningkat seiring pertumbuhan industrialisasi yang begitu pesat. Pada tahun 2025, kebutuhan listrik pada sistem Jawa Madura Bali (Jamali) diperkirakan mencapai beban puncak hingga 54.600 MW.

Apabila dipenuhi dengan penyediaan dan peningkatan pabrik listrik tenaga uap (PLTU), akan diperlukan sekitar 127 ton batu bara per tahun pada tahun 2025. Besarnya kebutuhan batu bara tersebut, nantinya dapat menimbulkan masalah logistik, transportasi, dan pencemaran.

Sementara dengan menggunakan energi nuklir, kontribusi batu bara berkurang menjadi 91 juta ton per tahun dengan pangsa listrik nuklir yang memadai yaitu 20 persen.

Lewat nuklir, uranium yang berupa sumber energi amat padat dengan mudah dan murah dapat diangkut. Volumenya jauh lebih kecil daripada batu bara atau minyak. Satu kilogram uranium alam menghasilkan 20.000 lebih banyak energi daripada jumlah batu bara yang sama. Uranium juga adalah komoditas yang mudah diangkut dan diperdagangkan.

Kebutuhan nuklir semakin mendesak seiring membengkaknya harga minyak mentah (crude oil) di pasar internasional hingga mencapai 70 ribu per barel. Harganya membengkak karena lebih dari 50 persen kebutuhan energi dunia bersumber dari bahan bakar minyak—yang dipastikan akan habis dalam rentan waktu beberapa tahun ke depan.

Karena itu, Budi Sudarsono, Ketua Forum Peduli Energi dan Lingkungan (FPEL), menyarankan agar pemerintah segera merespon secara serius rencana mengembangkan nuklir di Indonesia.

Menurut dia, rencana pembangunan PLTN di Gunung Muria, baru direspon oleh Menteri Energi Sumber Daya Mineral dan Menteri Riset dan Teknologi. Padahal, pemerintah telah berencana mengembangkan PLTN Gunung Muria—yang diharapkan dapat beroperasi tahun 2016.

Dia mengatakan Indonesia jauh tertinggal dalam mengembangkan energi nuklir. Sementara saat ini, sudah 443 PLTN yang beroperasi. Di Eropa barat ada 135 PLTN, Eropa Timur 22 PLTN, Amerika Serikat 128 PLTN, Afrika 2 PLTN, Bekas Uni Soviet 48 PLTN, Asia Selatan 17 PLTN, dan Asia Timur 91 PLTN.

Menurut dia, seharusnya tahun ini PLTN sudah ditenderkan karena pembangunan pembangkit PLTN akan memakan waktu sekitar enam tahun, sementara sekarang peraturannya saja belum ada. Budi khawatir, rencana pembangunan PLTN Muria akan kembali gagal.

Padahal, sudah tiga investor asing asal Jepang, Prancis, dan Korea Selatan yang menyatakan siap mendanai proyek senilai Rp35 triliun tersebut.

PLTN di lahan 25 ha yang berlokasi di kawasan Tapak, Lemah Abang, Semenanjung Muria, Kabupaten Jepara itu, dijadwalkan mulai dibangun pada 2010 dan beroperasi 2015.

Kepala Batan Soedyartomo Soentono mengatakan PLTN Muria diperkirakan mampu memproduksi listrik dengan biaya yang lebih murah, karena bahan bakar untuk mengoperasikan listrik jauh lebih rendah daripada pembangkit lainnya, yaitu sekitar 40%. Harga listrik dari PLTN Muria hanya berkisar US$0,03 hingga US$0,04 per kWh. Sementara harga listrik sekarang mencapai US$0,07 per kWh.

Batan juga memperkirakan biaya investasi PLTN Muria berkisar antara US$1.350 per kilowatt hingga US$1.750 per kilowatt.

World Nuclear Association 2005 dalam laporannya berjudul The New Economics of Nuclear Power, nuklir adalah alternatif terbaik menjawab kelangkaan minyak sebagai sumber energi.

Biaya nuklir hanya bagian kecil dari seluruh biaya pembangkitan. Biaya dekomisioning dan pengelolaan limbah juga sudah diperhitungkan.

Biaya energi nuklir rata-rata 0,4 sen euro per kWh, sama seperti tenaga air, batu bara lebih dari 4 sen (4,1 – 7,3 sen), serta gas berjangka 1,3 – 2,3 sen. Hanya tenaga angin yang lebih baik daripada nuklir yaitu rata-rata 0,1 – 0,2 per kWh.

Biaya bahan bakar nuklir juga diyakini akan terus efisien karena penurun ongkos. Di Spanyol misalnya, biaya listrik nuklir telah turun 29 persen selama 1995-2001. Hal itu menyangkut penaikan tingkat pengayaan dan pembakaran (burn up) guna mencapai penurunan ongkos sebanyak 40 persen. Secara prospektif, peningkatan burn up lagi sebesar 8 persen akan menghasilkan penurunan ongkos sebesar 5 persen.

Bagi pusat listril nuklir, biaya dekomisioning diperkirakan sebesar 9-15 persen dari biaya modal awal pusat listrik nuklir. Namun, apabila di diskon, biaya tersebut hanya beberapa persen tambahan atas biaya investasi, bahkan lebih kecil lagi terhadap biaya pembangkit.

Di Amerika Serikat, biaya tersebut sekitar 0,1-0,2 sen per kWh, atau tidak lebih dari 5 persen dari biaya listrik yang dihasilkan. Sementara di Prancis, memperlihatkan bahwa biaya nuklir (sen per kWh) mencapai 3,20, gas 3,05-4,26, batu bara 3,81-4,56. Nuklir lebih unggul karena pusat listriknya besar dan baku.

Dalam konteks kontruksi, biayanya cenderung lebih pendek. Pembangunan Reaktor di Jepang Generasi Baru misalnya yang 1300 Mwe yang selesai pada tahun 1996 dan 1997 dibangun dalam waktu tak mencapai empat tahun.

Sementara itu, laporan yang disusun Universitas Chicago, pada 2004 membandingkan, biaya daya listrik levelised dari pembangkit listrik nuklir kedepan. Untuk ABWR dan AP 1000 berjangka antara 4,3 hingga 5,0 s/kWh berdasarkan biaya overnight 1.200 dollar AS hingga 1.500 dollar AS, dengan masa manfaat 60 tahun, masa kontruksi 5 tahun, dan faktor kapasitas 90 persen. Sementara batu bara menghasilkan 3,5 – 4,1 s/kWh dan gas (CCGT) 3,5-4,5 s/kWh, sangat tergantung pada harga gas.

Ongkos bahan bakar energi listrik nuklir juga lebih rendah dibandingkan dengan biaya listrik berbahan batu bara, minyak dan gas-yang kadang menyebabkan masalah logistik, serta pencemaran. Sementara nuklir, dengan bahan baku uranium dipastikan akan lebih mudah diangkut dan murah biaya.

Volume yang diperlukan lebih kecil dari pada batu bara dan minyak. Satu kilogram uranium alam dapat menghasilkan 20.000 kali lebih banyak energi ketimbang jumlah batu bara yang sama. Dengan nuklir, maka diperkirakan peran batu bara dapat berkurang menjadi 91 juta ton pada 2025, dengan pangsa listrik nuklir yang memadai yaitu 20%.

Ongkos bahan bakar nuklir adalah ongkos bahan bakar yang rendah dibandingkan dengan pusat listrik batu bara, minyak dan gas. Namun, uranium harus diproses, diperkaya dan difabrikasi menjadi bahan bakar, dan sekitar dua per tiga daripada seluruh ongkos adalah karena pengayaan dan fabrikasi.

Selain itu, juga harus ditambah biaya pengelolaan bahan bakar bekas pakai yang radioaktif dan penyimpanan akhir bahan bakar bekas pakai tersebut atau limbah yang dipisahkan.

Tragedi Chernobyl

Meledaknya pembangkit nuklir Chernobyl di Ukraina pada 1986 menjadi sebuah tragedi kemanusiaan. Sekitar 5.000 orang meninggal akibat radiasi nuklir Chernobyl. Dampak radiasi pun menyebar ke pekerja, penduduk yang dievakuasi di daerah yang terkontaminasi, serta penduduk yang tidak dievakuasi.

Dari hasil studi kurang lebih 1.000 liquidartors yang bertugas terkena radiasi tinggi, antara 2-20 gy. Pada hari pertama kecelakaan 26 April 1986, dosis rata-rata yang diterima 100 mSv—bahkan ada yang hingga 500 mSv.

Diperkirakan sebanyak 2.200 orang yang akan meninggal karena radiasi.

Diperkirakan pula 5 juta orang yang saat ini tinggal di Belarusia, Rusia, dan Ukraina terkena kontaminasi zat radioaktif dan 100 ribu di antaranya tinggal di daerah yang masuk dalam kategori sebagai daerah strict control.

Namun, dari studi yang dilakukan Chernobyl Forum yang dibentuk tahun 2003,

diketahui kemudian jika para pekerja kedaruratan dan masyarakat yang tinggal di dekat daerah ayng terkontaminasi mendapat dosis radiasi seluruh badan (whole body radiation), sebanding dengan tingkat radiasi akibat alam.

Tidak ditemukan dampak terhadap kesuburan atau bentuk-bentuk anomali.

Gejala leukaemia akibat radiasi juga tidak ditemukan pada penduduk umumnya. Sementara solid cancer dan penyakit lainnya tidak ditemukan pada penduduk biasa. Yodium 131 sebagai salah satu isotop utama dari kecelakaan Chernobyl terakumulasi dalam kelenjar gondok dari aliran daerah sebagai proses metabolisme biasa.

Kecelakaan Chernobyl memang amat menyeramkan. Namun, jika membandingkan jumlah korban yang meninggal dari tragedi Chernobyl 20 tahun yaitu 5.000 jiwa, sementara industri kimia pada 1984 tercatat 2.500 jiwa. Sementara korban lalu lintas yang tewas selama 1994-1999 mencapai 10.950 jiwa. Selain itu, kecelakaan nuklir selama 60 tahun berjumlah 34 kecelakaan dengan total korban yang tewas mencapai 189 jiwa. Sementara kecelakaan industri kimia mencapai 14 kecelakaan selama 18 tahun, dengan total korban yang tewas mencapai 4.287 jiwa. Kemudian korban yang tewas akibat kecelakaan lalu lintas dalam kurun lima tahun mencapai 54.733 jiwa.

Karena itu, sejumlah pakar nuklir menilai tidak perlu tragedi tersebut menjadi penghambat dalam mengimplementasikan energi nuklir.

Tragedi tersebut terjadi karena desain reaktor Chernobyl yang tidak stabil pada daya rendah. Sementara daya reaktor bisa naik cepat tanpa bisa dikendalikan. Ledakan juga terjadi karena tidak mempunyai kungkungan reaktor (containment), sementara setiap kebocoran readiasi dari reaktor akan langsung menyebar ke udara.

Kecelakaan Chernobyl juga karena pelanggaran prosedur. Saat pekerjaan penelitian (test) dilakukan, diketahui hanya 8 batang kendali reaktor yang dipakai. Semestinya minimal 30 agar reaktor tetap terkontrol. Sistem pendingin juga dimatikan. Test juga dilakukan tanpa memberitahukan kepada operator.

Selain itu, sebuah dokumen rahasia Rusia menjelaskan ”Chernobyl construction weaknesses.” Pekerja instalasi Chernobyl juga diyakini tidak memiliki budaya keselamatan dan tidak mampu memperbaiki kelemahan desain yang sudah diketahui akan terjadi kecelakaan.

Karena itu, tragedi Chernobyl tidak berdampak pada berkurangnya minat beberapa negara mengembangkan teknologi nuklir. Italia misalnya, yang semula ingin mematikan 4 PLTN-nya, ternyata tidak dilaksanakan, Swedia juga berubah pikiran untuk menutup 12 PLTN, Swiss bergeming tatap 5 PLTN, Jerman memutuskan untuk menutup PLTN hingga habis masa baktinya, sementara Prancis justu menambah menjadi 59 PLTN.

Eropa Timur jumlah PLTN bertambah dari 16 menjadi 22 PLTN, Amerika Serikat memperpanjang masa bakti PLTN, dan bahkan condong untuk membangun lagi. Sementara PLTN di kawasan Asia Timur dan India meningkat dari 54 menjadi 105 PLTN.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia. Hingga kini, kita belum memiliki PLTN. Tragedi Chernobyl masih menjadi momok yang menakutkan. Dus, jarang sekali masyarakat yang tahu kontribusi positif nuklir bagi kesejahteraan manusia. Nuklir juga dinilai menjadi momok senjata yang menakutkan. Padahal, Indonesia tidak pernah berminat membangun infrastruktur senjata nuklir untuk berperang.

*******

REALISASI pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tinggal menunggu langkah kongkret dari pemerintah. Sejumlah studi kelayakan sudah dilakukan sejumlah institusi bersama Kementerian Riset dan Teknologi.

Dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR di Senayan Jakarta belum lama ini, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan pembangunan fisik PLTN pertama di Indonesia yaitu di Gunung Muria, Jawa Tengah, paling lambat harus sudah selesai pada 2010-2011 sehingga tender sudah harus dilakukan pada 2008.

”Namun, hingga saat ini belum ada keputusan tentang pembentukan organisasi pelaksana pembangunan PLTN oleh pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro memperkirakan tahun depan pemerintah akan menggelar tender proyek PLTN Gunung Muria, Jateng berkapasitas 4.000 Megawatt.

Pembangunan PLTN Muria dengan teknologi PWR (pressure water reactor) membutuhkan waktu lima tahun, sehingga 2010 sudah harus mulai dibangun. Menurut Purnomo, tim ahli dari Indonesia siap dengan teknologi yang juga dipakai di Prancis, Amerika, Korsel dan Jepang.

Kusmayanto mengatakan Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan) sebagai institusi bidang iptek sekaligus promotor pembangunan PLTN di Indonesia sudah sangat mengharap agar pembentukan organisasi pelaksana pembangunan PLTN segera diputuskan dalam waktu dekat ini.

Pembangunan PLTN tidak semata-mata untuk mengatasi krisis listrik, tetapi juga diarahkan untuk memberikan jaminan terhadap security of supply dari pemenuhan kebutuhan energi nasional di masa mendatang. Selain itu, mengurangi beban dampak lingkungan pada masyarakat dan alam di sekitar, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Dia mengungkapkan, dampak lingkungan akibat pengoperasian PLTN sudah menjadi pertimbangan dan prasyarat untuk memenuhi standar regulasi dan perizinan di bidang keselamatan dan keamanan nuklir.

Studi kelayakan serta lingkungannya di Semenanjung Muria, Jawa Tengah sudah selesai sejak tahun 1996. Studi lingkungan PLTN dan penyusunan data Amdal dapat dipergunakan untuk menyusun Amdal PLTN.

Kajian Batan tentang konsep dasar pembangunan PLTN juga telah menghasilkan 10 kompabilitas kegiatan di bidang pembangkit energi nuklir secara konsisten. Hasil studi menyimpulkan, PLTN layak secara teknologi dan ekonomi untuk dioperasionalkan pada tahun 2016 di Indonesia. ”Hasil tersebut sudah diserahkan ke Presiden pada 6 Agustus 2003 lalu,” kata Kusmayanto.

Batan juga sudah melakukan pemilihan jenis teknologi PLTN dengan standar keamanan yang tinggi. Untuk itu, PLTN yang akan dibangun nani adalah PLTN yang proven secara teknis, aman, dan berkinerja tinggi.

PLTN juga dibangun jika secara ekonomis kompetitif dengan jenis pembangkit listrik lainnya, serta menggunakan komponen dalam negeri yang sebesar-besarnya.

Batan juga tengah menyiapkan peraturan dan perizinan mengenai tapak, konstruksi, komisioning, operasi, dan dekomisioning PLTN secara nasional, dan internasional. Saat ini, RPP tentang pembangunan reaktor nuklir sudah selesai, dan tinggal menunggu pengesahan final di Setneg.

Selain itu, faktor geopolitik juga sudah diperhatikan dan diantisipasi, dengan telah meratifikasi traktat dan konvensi internasional di bidang ketenaga nuklir seperti NPT, proteksi fisik, keselamatan nuklir, third party liability, dan menandatangani CTBT. ”Dengan demikian, Indonesia mempunya posisi kuat dalam lingkup internasional dalam pengembangan program PLTN.”

Sementara itu, Bapeten sebagai lembaga pengawas nuklir, sedang mempersiapkan PP tengan Sistem Kesiapsiagaan Nuklir Nasional untuk menjadi pedoman menanggulangi jika terjadi kedaruratan. Lembaga tersebut juga sudah membentuk rencana pengembangan SDM pengawas yang akan mengawasi pembangunan PLTN sejak dari penentuan tapak, hingga operasional dan dekomisioning PLTN.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VII DPR Sony Keraf menilai pembangunan PLTN harus menjadi alternatif terakhir dalam menjawab krisis energi di Indonesia.

Sony mengaku tidak setuju jika pembangunan PLTN direalisasikan secepatnya karena Indonesia masih memiliki sumber energi alternatif lainnya yang potensial untuk dikembangkan.

Selain itu, Mantan Menteri Lingkungan Hidup era Presiden Megawati mengatakan letak Indonesia yang berada di jalur gunung merapi amat berbahaya dan rentan terhadap gempa bumi sehingga dapat mengkhawatirkan rusaknya PLTN yang sudah bangun. Akibatnya akan sangat fatal bagi kehidupan masyarakat.

”Jadi, harus dipertimbangkan secara serius mengenai lokasi, baiknya pembangunan PLTN di kawasan Kalmantan Barat, yang tidak rawan gempa.”

Namun, katanya, pembangunan PLTN adalah pilihan terakhir sehingga harus disosialisasikan kepada masyarakat, dan proses pembangunannya berdasarkan konsultasi dengan publik.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s