Saatnya TNI Kembali ke Barak


PERUBAHAN doktrin TNI dari Catur Dharma Eka Karma menjadi Tri Dharma Eka Karma, membuktikan ada upaya kongkret di tubuh institusi militer untuk melakukan reformasi.

Salah satu perubahan subtansial dari doktrin TNI tersebut adalah TNI akan fokus ke barak, meninggalkan hiruk pikuk politik praktis yang tadinya dominan dimainkan elit TNI sebagai bagian dari fungsi kekuatan sosial politik seperti yang diatur dalam doktrin lama.

”TNI sama sekali tidak ikut campur dalam persoalan sosial politik seperti di masa-masa lalu. TNI ke depan hanya bertugas untuk menegakkan kedaulatan negara RI,” tegas Panglima Marsekal TNI Djoko Suyanto belum lama ini.

Dalam doktrin TNI yang baru, TNI murni menjadi alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. Dengan penegasan itu, Kepala Divisi Penerangan Umum (Kadispenum) Puspen TNI Kol Ahmad Yani Basuki mengatakan, secara internal TNI akan lebih bisa memelihara diri dari hal yang bersifat eksesif.

”Karena apapun yang dilakukannya berdasarkan keputusan politik negara, bukan berdasarkan ketentuan untuk menentukan nasibnya sendiri,” katanya kepada Jurnal Nasional di Jakarta kemarin.

Dengan dihapuskannya peran sosial dan politik, maka bagi elit TNI yang ingin terjun ke politik praktis, harus melepaskan jabatan yang masih disandangnya di internal TNI.

Selama masih menjadi anggota TNI, tidak bisa terjun dalam politik praktis, kampanye, maupun terlibat dalam partai politik.

Sementara mengenai hak memilih dalam pemilihan umum, Yani mengatakan, Mabes TNI masih mendalami manfaat dan mudaratnya bagi eksistensi TNI.

”Untuk Pemilu 2009, TNI masih dalam proses mendalami manfaat dan mudaratnya dengan memperhatikan wacana yang berkembang secara internal dan eksternal, dan tentu pada saatnya, TNI akan memutuskan.”

Namun, dia menegaskan, apapun yang nanti diputuskan soal hak pilih itu, keputusan tetap akan berangkat dari komitmen TNI untuk mengedepankan soliditas TNI, persatuan dan kesatuan bangsa, netralitas, dan mengacu pada UU yang berlaku.

Dengan perubahan doktrin itu, kata Yani, TNI mengharap agar masyarakat dapat melihat TNI lebih jernih dan jelas lagi, tanpa perlu was-was jika nanti TNI ada inisiatif tertentu.

Lantas, sejauhmana kesiapan seluruh prajurit TNI terhadap doktrin baru itu, Yani mengatakan, TNI sudah menyiapkan perubahan doktrin sejak Rapat Pimpinan (Rapim) TNI tahun 2000. Kala itu, TNI telah menyatakan keluar dari politik praktis dan fokus pada pertahanan. ”Jadi, kalau dikatakan siap atau tidak, maka TNI sudah siap. Tidak kaget. Itu merefleksikan kita pada fokus reformasi TNI.”

Selain itu, apakah peningkatan profesionalisme TNI hanya terkait dengan perubahan doktrin? Yani menjawab, untuk menjadi tentara yang profesional sesuai dengan UU No 34 tahun 2004, maka tentara harus terlatih, terdidik, diperlengkapi peralatan yang baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dijamin kesejahteraan, serta mengikuti kebijakan negara. Artinya, tak cukup dengan mengubah doktrin dalam meningkatkan profesionalisme TNI.

Menurut Yani, TNI memahami jika hingga kini kesejahteraan TNI belum seperti yang diharapkan. ”Namun, upaya ke sana sudah ada. Pemerintah sudah ada perhatian, tetapi TNI juga memahami pemerintah punya keterbatasan. Tetapi, ya itu, untuk menjadi tentara yang profesional maka itu semua harus diwujudkan.”

Dalam rapim TNI 2007, pada Rabu (24/1) lalu, dibahas pula mengenai hak pilih TNI, kesejahteraan prajurit, terutama tunjangan istri dan anak serta penambahan jumlah alutsista yang saat ini baru dapat dipenuhi 50 persen dari anggaran yang diajukan dari kekuatan minimum esensial.

Secara terpisah, anggota Komisi I DPR Bidang Pertahanan Keamanan dan Hubungan Internasional dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Untung Wahono, mengatakan perubahan doktrin adalah bagian dari reformasi TNI yang sudah dilakukan sejak tahun 1998.

Realitas politik di era reformasi dewasa ini telah memaksa TNI dan Polri tidak lagi bermain dalam wilayah politik. Namun, bukan berarti TNI tidak punya hak memilih seperti warga negara lainnya. Untung menilai, hak memilih bukan berorientasi pada politik praktis.

Untung juga menilai masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar konsolidasi TNI dapat direalisasikan secara riil menuju profesionalisme.

Dia mengatakan hal penting yang harus segera dibereskan adalah pelarangan bisnis militer. Selain itu, Untung menilai, masih ada kegamangan di lingkungan TNI dalam menindak oknum TNI yang bermasalah.

Dia mencontohkan, pembahasan UU Pengadilan Militer. ”Nampak TNI masih enggan untuk diadili oleh peradilan umum bagi oknum yang terlibat dalam tindak pidana umum,” katanya kemarin.

Kegamangan juga nampak di lingkungan Polri yang enggan ditempatkan di departemen, namun ingin langsung di bawah Presiden sehingga meninggalkan pro kontra di Departemen Keamanan dan Polri. ”Masih banyak persoalan yang harus dilakukan, terkait dengan konsolidasi untuk mengarah pada profesionalisme.”

Panglima TNI Djoko Suyanto telah menegaskan TNI tidak akan berhenti dan akan terus berjalan meski terdapat berbagai kekurangan di sana-sini. Dia mengharap, seiring proses perubahan TNI, diperlukan kontrol dan saling mengingatkan hingga reformasi TNI dapat terus berlanjut. Dalam implementasinya, TNI akan memperhatikan perkembangan tuntutan yang ada.

Reformasi TNI merupakan tekad TNI untuk kembali ke jati dirinya sebagai tentara rakyat, tentara pejuang dan tentara profesional.

*****

DOKTRIN Tri Dharma Eka Karma mengamanatkan kepada TNI agar pisah dari Polri.

Doktrin itu juga memutuskan agar segala peran yang dilakukan TNI sebagai alat negara di bidang pertahanan harus berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. TNI tidak lagi berperan seperti dalam doktrin TNI Catur Dharma Eka Karma yaitu sebagai kekuatan sosial politik.

Dalam doktrin yang baru, TNI tidak lagi berfungsi sebagai pelatih dan pembimbing rakyat bagi penyelenggara tugas Hankamreg dalam mewujudkan kemampuan dalam kekuatan perlawan rakyat semesta untuk menghadapi ancaman.

TNI tak lagi berfungsi membina kemampuan dan kekuatan Hankamneg dalam pembinaan Hankamneg dengan memelihara dan meningkatkan kemampuan dan kekuataan Hankam di darat, laut dan udara serta penertiban dan penyelamat masyarakat.

TNI juga melepaskan tanggungjawab dalam menyelamatkan, mempertahankan dan melestarikan ideologi Pancasila dan UUD 1945, serta pengamanan dan pelestarian pembangunan nasional.

Namun, TNI tetap menjadi penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer dan non militer dari dalam dan luar negeri terhadap kedaulatan keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa. TNI juga berfungsi sebagai penindak yang digerakan untuk menghancurkan kekuatan musuh yang mengancam terhadap kedaulatan keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa.

TNI juga menjadi pemulih yaitu kekuatan bersama TNI bersama dengan instansi pemerintah membantu fungsi pemerintah untuk mengembalikan kondisi keamanan negara akibat kekacauan perang.

Dalam Tri Dharma Eka Karma, tugas pokok TNI adalah menegakan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan NKRI, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

Sementara tugas pokok TNI melalui operasi militer untuk perang dilaksanakan dalam bentu OPS Gab TNI, OPS darat, OPS laut, OPS udara, kampanye militer, OPS bantuan. Sementara operasi militer selain perang, yaitu mengatasi, gerakan saparatis bersenjata, pemberontakan senjata, aksi terorisme, mengamankan wilayah perbatasan, mengamankan obyek vital nasional yang strategis, melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri.

Selain itu,TNI bertugas mengamankan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarga, memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukung secara dini dalam rangka sistem pertahanan semesta, membantu tugas pemerintah daerah, membantu Polri dalam mengamankan dan menertibkan masyarakat, mengamankan tamu negara setingkat kepala negara dan perwakilan asiong, membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan.

TNI juga membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan, dan membantu pemerintah untuk pengamanan pelayaran dan penerbangan terhadap pembajakan, perompakan dan penyelundupan.

M. Yamin Panca Setia

photo: http://www.tni.mil.id



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s