Dalam Kepungan para ”Raksasa”

Minat Berasuransi Pun Rendah

Rate of penetration, rasio antara premi dengan Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia sangat rendah. Angkanya hanya 0,05 persen.


SEKTOR infrastruktur seperti telekomunikasi, konstruksi, keuangan, perdagangan, dan listrik, gas dan air diperkirakan tahun ini tumbuh seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi naik 6 persen. Pertumbuhan infrastuktur serta menggeliatnya aktivitas bisnis di Indonesia diharapkan dapat mendorong pertumbuhan iklim usaha asuransi.

Pertumbuhan ekonomi yang diiringi dengan pertumbuhan infrastruktur diharapkan mendorong minat individu, masyarakat maupun perusahaan untuk mengasuransikan diri dari resiko pekerjaan maupun kerugian properti akibat kecelakaan, maupun bencana yang kemungkinan akan menimpa.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Frans Sahusilawane, mengatakan pertumbuhan ekonomi yang mendorong lancarnya aktivitas bisnis akan mendorong semakin cerahnya iklim usaha asuransi.

”Kalau ekonomi bagus, maka parformance asuransi umum cenderung membaik. Tapi, kalau buruk, maka akan menurun,” katanya saat ditemui Jurnal Nasional belum lama ini.

Tahun ini pertumbuhan pasar asuransi umum nasional diperkirakan naik sekitar 15 persen. Sementara pertumbuhan industri asuransi jiwa diperkirakan sama dengan tahun 2006, yaitu naik 25 persen. Evelina F. Pietruschka, Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengaku optimis asuransi jiwa meningkat pada 2007.

Namun, pertumbuhan iklim usaha asuransi di Indonesia amat tergantung realisasi pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pemerintah. Performance asuransi umum amat tergantung stabilitas perekonomian. ”Kalau ekonomi bagus, maka asuransi umum cenderung membaik. Tapi, kalau buruk, maka performance-nya menurun,” ujarnya.

Frans yang juga menjabat Presiden Direktur Tugu Reasuransi Indonesia mengatakan, pengalaman asuransi umum di Indonesia saat sebelum krisis 1997 menghantam, kooefisiennya sampai 3-4 kali. Saat itu, volume premi asuransi masih kecil. Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen kala itu, pertumbuhan premi asuransi umum hingga 25 persen.

Tapi, membaiknya pertumbuhan ekonomi juga harus diringi minat masyarakat untuk berasuransi dan menganggapnya sebagai suatu kebutuhan yang penting. Persoalannya, minat mengangsuransikan diri di Indonesia sangat rendah.

Hotbonar Sinaga, pengamat asuransi yang baru terpilih menjadi Direktur Utama Jamsostek menilai, penduduk Indonesia masih under insurance—masih banyak penduduk yang belum memiliki asuransi baik asuransi jiwa maupun asuransi umum. Jumlah pemegang polis individu masih berada di bawah 10 persen dari total populasi penduduk. Di Jepang, jumlah pemegang polis mencapai 300-400 persen. Sementara di Malaysia dan Singapura, pemegang polis mencapai 30-40 persen.

Frans memandang, Indonesia kalau jauh dengan Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina dan Vietman. Partisipasi berasuransi diukur dari rate of penetration (rasio penetrasi), yaitu membandingkan premi asuransi dengan PDB. ”China sudah bicara mengenai 4 persen dari produk domestik bruto (PDB) dibelanjakan untuk asuransi. Sementara Indonesia hanya 0,05 persen.”

Wajar jika kemudian, stabilitas keuangan negara goyang seiring terjadinya rentetan bencana alam akhir-akhir ini.

Sudah begitu banyak anggaran negara yang terkuras untuk membiayai rehabilitasi gempa tsunami yang menghantam Aceh, Jogja, banjir yang terjadi di sebagian wilayah Sumatera, Jakarta, dan daerah lainnya.

Belum lagi tragedi meluapnya lumpur panas Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, yang telah makan kerugian materi yang tiada tara. ”Saat gempa tsunami di Aceh-Nias, dan gempa Jogja, kerugian ekonomi besar, namun kerugian asuransi kecil,” kata Frans.

Untuk rehabilitasi Aceh, hingga per 27 Desember 2006, jumlah total dana yang sudah ditarik mencapai Rp 7,462 triliun atau 49,65 persen dari total anggaran rehabilitasi. Sementara untuk gempa Yogyakarta, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp 1,075 triliun yang berasal dari APBN 2006, perubahan APBN 2006, serta bantuan sejumlah negara.

Sebenarnya, jika pemerintah dan masyarakat sadar bahwa asuransi merupakan sumber pendanaan untuk jangka panjang, maka begitu besar anggaran yang bisa dimobilisasi dari asuransi. ”Wah, bisa puluhan triliun rupiah,” kata Frans. Dengan demikian, pemerintah tidak perlu begitu menguras anggaran dari APBN.

Rendah minat berasuransi di Indonesia karena rendahnya pendidikan, rata-rata kehidupan per kapita, dan sebagian besar masyarakat Indonesia tidak punya harta yang layak diasuransikan.

Sementara masyarakat yang sudah punya harta untuk diasuransikan, sebagian besar tidak langsung menempatkan asuransi di list belanja. Frans mencontohkan jumlah mayarakat Indonesia yang memiliki mobil. Ternyata, sebagian besar asuransi didaftarkan oleh perusahaan penjualan mobil, bukan karena kesadaran pemiliknya.

Menurut Frans, perusahaan asuransi telah memberikan banyak rekomendasi kepada pemerintah mengenai pentingnya asuransi. Setelah bencana alam berulang kali menghantam di sejumlah daerah, perhatian pemerintah semakin meningkat ke industri asuransi.

”Pemerintah nampaknya sudah mulai sadar jika asuransi juga merupakan sumber pendanaan yang murah untuk jangka panjang. Jadi, kita mengharapkan perhatian pemerintah makin lama makin besar ke asuransi,” katanya.

Indonesia ada baiknya belajar dari pengalaman Jepang yang mewajibkan asuransi wajib bagi seluruh warganya. Pasalnya, negara tersebut rawan gempa sehingga membutuhkan anggaran.

Di Jepang, asuransi diatur dalam UU khusus. Sementara Indonesia, tidak punya UU Asuransi Khusus. Jepang yang kekuatan ekonominya lebih kuat daripada Indonesia mengeluarkan kebijakan akan kewajiban berasuransi kepada masyarakat maupun perusahaan. ”Jepang yang kuat memperhatikan soal bencana dengan mengatur penempatan asuransi sebaik-baiknya.”

Asuransi juga diwajibkan di Amerika Serikat dan Slandia Baru. Pemerintah kedua negara itu benar-benar terlibat dan memperhatikan betapa pentingnya asuransi dalam menopang anggaran rekontruksi pasca bencana.

Peran asuransi tidak kecil. Indonesia adalah negara yang rawan bencana. Selama ini, beban pembiayaan banyak dikuras dari APBN. Sementara APBN tidak menganggarkan biaya pascabencana.

Menurut Frans, jika pemerintah ingin join venture dengan perusahaan asuransi, maka sebagian beban yang tak terduga untuk bencana sudah dialirkan ke asuransi. Anggaran yang tadinya mengucur dari pemerintah dialihkan sektor privat dalam proses rekontruksi pasca bencana alam. Pemerintah memang harus menanggung pembiayaan dalam rekontruksi pasca bencana alam. Namun, tidak 100 persen anggaran dialirkan dari APBN—karena juga ditopang dari asuransi.

Frans mengatakan, jangan anggap dana asuransi itu tidak penting. Asuransi adalah pemupukan dana yang pelan-pelan dalam jangka panjang akan berkembang menjadi kekuatan dana yang dahsyat.

Di Eropa, asuransi yang berkembang sejak ratusan tahun dimiliki pengusaha yang memiliki bank, gedung besar, serta penguasa pasar modal.

Asuransi juga berpotensi menjadi sumberdana alternatif murah untuk pembangunan jangka panjang pembangunan infrastuktur. Dana itu mampu dihimpun dalam waktu yang lama.

Menurut Frans, kalangan pengusaha telah merekomendasikan kepada pemerintah akan pentingnya asuransi. Namun, ada kendala di DPR dalam proses legislasi. ”Kita memang ruwet untuk menciptakan iklim usaha asuransi yang sehat dan menjanjikan.”

Akibatnya, bisnis asuransi di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan industri perbankan, baik dalam revenue, maupun sumbangan pajak. Padahal tanpa asuransi, perbankan tidak dapat jalan karena tidak bisa memberikan kredit kepada masyarakat jika tidak ada jaminan.

Dibalik Defisit Neraca Pembayaran

OPTIMISME tetap menggeliat dalam bisnis asuransi di Indonesia. Pada tahun 2007, diperkirakan meningkat hingga 15-20 persen di sektor asuransi umum. Sementara asuransi jiwa menargetkan kenaikan hingga 25 persen.

Namun, meski realitas pasar menggeliat, ternyata neraca pembayaran asuransi Indonesia terus menerus mengalami defisit. Dalam tiga tahun terakhir, data dari Departmen Keuangan (Depkeu) menunjukan, neraca pembayaran asuransi terus defisit. Tahun 2005, defisit mencapai Rp 2,684 triliun, 2004 sebesar Rp 3,76 triliun dan 2003 sebesar Rp 3,003 triliun.

Defisitnya neraca pembayaran karena belum adanya mekanisme reasuransi ke dalam negeri yang kuat. Stabilitas pasar asuransi juga harus terus digenjot untuk menarik minat pemilik modal tanamkan investasinya di perusahaan asuransi dalam negeri. Akibatnya, banyak perusahaan asuransi yang mereasuransikannya ke luar negeri. Untuk asuransi umum, preminya yang mencapai Rp17 triliun per tahun, 50 persen di bayar ke luar negeri.

”Artinya tiap tahun premi asuransi ke luar negeri sebesar Rp9 triliun. Reasuransi sama saja dengan mengimpor barang dari luar negeri sehingga menekan neraca pembayaran. Akan lebih baik di dalam negeri reasuransi di tingkatkan,” kata Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Frans Sahusilawane.

Sebenarnya, pada tahun 1953, ekonom Indonesia yang memegang kendali di dewan moneter dan Bank Indonesia sudah memikirkan perlunya dibentuk perusahaan reasuransi di Indonesia itu karena dapat menguntungkan dan menekan premi asuransi yang dibayar ke luar negeri sehingga tidak menguras cadangan devisa.

”Sekarang, ekonom kita lupa. Sehingga Premi lari ke Singapura, Eropa, Amerika, Bermuda,” kata Frans yang juga menjabat Presiden Direktur PT Reasuransi Tugu.

Pada tahun 2005, reasuransi yang dilakukan perusahaan asuransi Indonesia ke luar negeri mencapai Rp 2,982 trliun. Berbeda jauh dengan reasuransi dari perusahaan luar negeri ke Indonesia yang hanya mencapaiRp 298,549 miliar.

Keengganan reasuransi di Indonesia karena sebagian perusahaan asuransi di Indonesia modalnya terbatas. Sehingga kemampuan menanggung risikonya kecil. Jasindo hanya memiliki modal Rp400 miliar. Padahal dalam UU yang ada maksimal risiko yang dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi hanya 10 persen dari ekuitas. Sehingga Jasindo hanya bisa menanggung risiko sebesar Rp 40 miliar.

Managing Director Allianz Utama Indonesia, Petrus Siregar, menawarkan ide yang dapat mengurangi defisit neraca pembayaran asuransi Indonesia, yaitu melakukan penambahan modal dan kerja sama beberapa asuransi untuk menanggung satu klien, dan bekerja sama dengan beberapa perusahaan asuransi, atau asuransi massal dengan mengumpulkan modal yang cukup untuk menanggung risiko.

Hal senada juga diutarakan Frans, sebanyak 97 perusahaan asuransi umum di Indonesia layaknya ikan yang hidup di laut. Ada yang modanya besar, ada juga yang modalnya kecil—yang masing-masing bisa memainkan perannya. ”Kita seperti di laut, ada ikan besar dan kecil yang saling melengkapi.” Hal itu dilakukan untuk menjaga keuntungan perusahaan, dengan menekan biaya operasional,

Departemen Keuangan telah berjanji akan meningkatkan modal. Direktur Asuransi Departemen Keuangan Firdaus Djaelani, mengatakan modal akan diberikan secara bertahap hingga 2010 yaitu sebesar Rp100 miliar. Saat ini, jumlah perusahaan yang modalnya di bawah Rp 25 miliar sekitar 32 perusahaan. Adapun total perusahaan asuransi sebanyak 162 perusahaan, terdiri atas 102 asuransi kerugian, 56 asuransi jiwa, dan 4 reasuransi.

Kuatnya modal berpengaruh terhadap eksistensi perusahaan asuransi domestik dalam menanggung resiko. Perusahaan asuransi asing, modalnya cukup besar, sehingga respon nasabah sangat besar.

Wajar, jika Singapura, Malaysia, atau Thailand, rasio premi asuransi terhadap sumbangan Pendapatan Poduk Nasional Bruto/PDB terus meningkat. Saat ini, negara-negara tersebut mampu menyumbangkan PDB hingga di atas 15 persen. Sementara perusahaan asuransi di Indonesia, baru 5 persen.

Persaingan pun dipastikan akan semakin ketat, karena pada tahun 2015 nanti, sesuai dengan kesepakatan perdagangan di tingkat ASEAN akan dibuka secara total. Keterbukaan tersebut tentu akan berdampak negatif bagi eksistensi perusahaan asuransi domestik yang tidak ditopang dana dan sumberdaya manusia yang kuat.

Perusahaan asuransi yang tidak mempunyai modal cukup, tidak dapat menanggung risiko besar—dipastikan akan menurunkan minat masyarakat akan asuransi.

Frans mengharap perhatian pemerintah makin besar ke asuransi. “Ini aspek yang kurang diperhatikan di Indonesia. Di Amerika Serikat, Jepang, Singapura dan Malaysia, pemerintah terlibat dan perhatian terhadap sektor asuransi. Selain sebagai dana jaminan bencana, asuransi juga merupakan sumber pendanaan yang murah untuk jangka panjang. Frans mengusulkan agar perlu UU Khusus yang dapat menumbuhkan iklim asuransi di Indonesia yang sehat dan menjanjikan. Pemerintah juga diharapkan dapat memberikan alternatif dalam menjawab persoalan permodalan.

Apalagi, sesuai kesepakatan perdagangan di tingkat ASEAN, pada tahun 2015 akan dibuka secara total sistem asuransi. Konsekwensi itu akan berdampak negatif semakin tergulungnya perusahaan asuransi domestik yang tidak mempunyai kekuatan modal, lantaran nasabah enggan mengasuransikan diri karena perusahaan asuransi domestik tak kuat menanggung risiko.

Hotbonar Sinaga, pengamat asuransi menilai pemerintah harus berpandangan luas dan bijak dalam upaya membantu pengusaha domestik tanpa harus bersikap terlalu membela segala sesuatu yang berbau lokal. Pembelaan itu wajar dilakukan karena perusahaan asuransi domestik menghadapi keterbatasan dan akses terhadap penambahan.

POTENSI bisnis asuransi Indonesia sangat luar biasa. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 220 juta jiwa, Indonesia adalah lahan basah bagi bisnis asuransi. Namun, potensi itu belum dijamah maksimal oleh pelaku usaha asuransi.

Untuk asuransi jiwa, keikutsertaan masyarakat Indonesia masih sangat minim. Baru sekitar 10 persen dari total penduduk Indonesia.

Rasio pendapatan premi industri asuransi Indonesia sangat minim dibandingkan Pendapatan Nasional Kotor (Gross Domestic Product) yang dalam tahun 2005 besarnya hanya 1,8 persen untuk jiwa dan umum, turun dari angka tahun sebelumnya (2004) sebesar 1,93 persen. Sementara pengeluaran per kapita untuk membayar premi asuransi jiwa dan umum per tahun sekitar US$7,84 yang juga turun dari angka sebelumnya US$ 8,61 pada tahun 2004.

Ambisi pemerintah yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen diharapkan dapat menjadi stimulus bagi sejumlah pelaku bisnis asuransi untuk semakin menggenjot pertumbuhan bisnis asuransinya di Indonesia. Dan, jika melihat realitas pasar, pergerakan bisnis asuransi nampaknya tetap menggeliat. Lewat pelbagai jurus, industri-industri asuransi gencar melakukan diferensiasi pemasaran kepada konsumen.

Namun, dalam persaingan, harus diakui, betapa kuatnya pemain asing dalam menguasai pasar asuransi domestik.

Asing berhasil mendominasi asuransi jiwa dengan pertumbuhan premi yang diperoleh rata rata per tahun mencapai 38,1 persen (2003-2005). Sementara pertumbuhan perusahaan asuransi jiwa domestik hanya 17,4 persen.

PT AIG Life misalnya. Perusahaan asuransi jiwa berskala global—anggota American International Group Inc, menjadi penguasa di Indonesia. AIG Life yang telah memiliki jaringan lebih dari 130 negara kini melayani masyarakat di lebih dari 70 kota seluruh Indonesia.

Di Indonesia, AIG Life yang sudah menerapkan sistem manajemen mutu internasional ISO 9001 versi 2000, menempatkan posisi pertama—di atas industri asuransi milik pribumi Bumiputera. Sementara Prudential Life Assurance mengklaim mampu menguasai pangsa pasar penjualan produk unit link di Indonesia sebesar 35,3 persen untuk asuransi jiwa.

Perusahaan itu, pada tahun 2006, investasinya meningkat 28 persen dibandingkan tahun 2005, atau menjadi Rp4,3 triliun. Sementara pendapatan premi bisnis baru Prudential berdasarkan annual premium equivalent (APE), atau premi berkala ditambah 10 persen premi tunggal per semester pertama tahun 2006, meningkat 47,62 persen sehingga menjadi Rp529,7 miliar. “Kenaikan itu merupakan bukti adanya kepercayaan masyarakat kepada Prudential untuk mengelola dana masyarakat lebih aman dan pasti,” kata Direktur Utama PT Prudential Life, Kevin Holmgren. Prudential juga mengklaim sebagai pemimpin pasar asuransi di Indonesia—khususnya dalam penjualan produk unit link, sebuah produk asuransi yang didalamnya terkait dengan investasi.

Pada Juni 2006, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia(AAJI) memposisikan Prudential menguasai 35,3 persen dari seluruh penjualan produk unit link. Prudential Indonesia yang merupakan bagian dari Prudential PLC–sebuah grup jasa keuangan terkemuka di Inggris—semakin gencar melakukan ekspansi dengan mengerahkan tenaga pemasaran sebanyak 28,387 orang, dengan jumlah kantor keagenan 85 unit. Sementara jumlah nasabahnya mencapai 234,843 nasabah.

Kelvin optimistis dengan perolehan bisnis Prudential pada 2007 karena potensi asuransi di Indonesia masih sangat besar.

Ekspansi juga gencar dilakukan PT Asuransi Manulife Indonesia. Perusahaan asuransi asal Kanada itu semakin melebarkan sayapnya karena berhasil menggaet perbankan untuk memperkuat ekspansi asuransi hingga akhir 2007. Sebanyak 12 bank yang beroperasi di Indonesia digandeng dengan maksud memperbesar jumlah nasabah asuransi.

Tujuh perusahaaan jasa keuangan juga telah menunjuk Manulife untuk mengelola program dana pensiun, kesehatan jiwa dan program uang pesangon. Tujuh perusahaan itu adalah PTB Great Eastern Life Indonesia, PT Bahana Pembina Usaha Indonesia, PT Papertech Indonesia dan Tira Uastenite. Manulife juga menandatangani kontrak kerjasama dengan sejumlah perusahaan untuk mengelola dana kesejahteraan karyawannya.

”Nampaknya tahun ini dan tahun berikutnya dominasi asing di jiwa akan semakin kuat. Harapan tertumpu pada Bumiputera, perusahaan asuransi lokal yang diharapkan akan tetap tumbuh,” kata Hotbonar Sinaga kepada Jurnal Nasional beberapa waktu lalu.

Dalam persaingan bisnis di asuransi jiwa, memang hanya Bumiputera yang menempel AIG Life. Direktur Utama Asuransi Jiwa Bumiputera 1912 Madjdi Ali menegaskan, Bumiputera menargetkan pendapatan premi tahun 2007 sebesar Rp4,5 triliun atau tumbuh sekitar 32 persen dari total pendapatan premi tahun lalu yang mencapai Rp3,4 triliun.

Bumiputera telah meluncurkan produk Asuransi Republik Indonesia (ASRI) dengan pembayaran premi Rp5000 per tahun dengan jumlah klaim sampai Rp5.000.000 pada saat jatuh tempo. Produk itu dimaksudkan membantu kelompok marjinal, buruh tani, nelayan, tukang cuci dan tukang ojek yang selama ini tidak tersentuh dengan perlindungan asuransi.

Dalam asuransi jiwa, asing memang mampu menggeser dominasi perusahaan domestik. Pada tahun 2003 pangsa asuransi domestik berada di puncak yaitu mencapai 54 persen. Pada tahun 2004 menurun menjadi 52 persen. Baru pada tahun 2005, pangsa asuransi asing mendominasi yaitu 54 persen. Pertumbuhan premi yang diperoleh perusahaan asuransi jiwa asing rata rata per tahun mencapai 38,1 persen dalam kurun waktu 2003-2005, sementara pertumbuhan perusahaan domestik hanya 17,4 persen. Bila terus berlanjut, kemungkinan pangsa pasar asuransi jiwa lokal akan semakin tersingkirkan.

Sementara untuk industri umum, Hotbonar menilai perusahaan domestik yang mendominasi.
”Perusahaan asuransi lokal tetap akan dominan karena pasar yang digarap adalah korporasi,” katanya.

Dominan di Asuransi Umum

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Frans Sahusilawane mengatakan, dalam asuransi umum, perusahaan asuransi nasional masih berkuasa. Dominasinya pun terus meningkat. Pangsa asuransi domestik pada tahun 2005 mencapai 78,3 persen, sementara asuransi asing hanya 21,7 persen.

”Ada perusahaan asing yang masuk ada dalam 10 besar, tapi bukan top five,” katanya.

Dia menilai, asing akan lebih ekspansif jika penanaman modal asing marak di Indonesia. Pangsa pasar join venture akan semakin besar. Korporasi lain akan memilih perusahaan asuransi captive-nya sendiri.

Karena itu, Frans tidak terlalu khawatir asing akan ekspansif karena tergantung captive. ”Misalnya Sinar Mas bermain dengan captive. Asing akan ekspansif jika penanaman modal asing marak di Indonesia dengan mengembangkan pangsa pasar join venture.

Memang tiga besar asuransi umum seperti Jasindo, ASM dan TPI, masih mengandalkan segmen korporasi yang yang nota bene sebagian besar perusahaan nasional lebih prefer mentransfer risikonya kepada perusahaan asuransi yang mempunyai kaitan kepemilikan. Jasindo misalnya, bersinergi dengan BUMN. Pertamina jelas menunjuk TPI. Memang pada kenyataannya pemegang polis perorangan, tidak terlalu melihat untung ruginya perusahaan asuransi yang dipilihnya. Nasabah asuransi pada umumnya hanya mementingkan jaminan keuangan. Namun, jangan lantas serta merta seluruh sektor asing menguasai.

Walau bagaimana pun, pemerintah harus mengedepankan kepentingan pengusaha domestik, namun tidak serta diskriminatif dalam bisnis asuransi. Perusahaan asing memang menang dalam segalanya—khususnya modal dan sistem yang baik. Namun, jangan sampai perusahaan domestik menjadi tamu di negeri sendiri.

Menurut Frans, persaingan asing dan domestik dipastikan semakin keras. Asing bisa saja mendominasi. Realitas menunjukan pergerakan pasar pada mengalir ke asing lewat perusahaan join venture dengan mengambil pangsa pasar nasional.

Dalam persaingan itu tentu ada pelanggaran yang dilakukan perusahaan seperti penetapan premi. ”Dalam UU No 5 tahun 1999, kami (asosiasi, Red) tidak bisa campur tangan menetapkan tarif. Sekarang bebas.”

Perang tarif seringkali hanya demi mencari keuntungan perusahaan, namun mengabaikan etika dalam pengelolaan asuransi secara baik (good corporate governance). AAUI akan mengeluarkan peringatan kepada perusahaan yang menjual harga premi di bawah harga wajar. Menetapkan harga adalah hak perusahaan bersangkutan, namun jangan lantas merugikan kepentingan yang lebih luas.

Selain itu, AAUI juga terus berusaha membersihkan praktik nakal yang sering dijumpai dalam dunia asuransi di Indonesia. Saat ini, sudah ada biro mediasi asuransi Indonesia, yang menjadi tempat nasabah mengadukan persoalan hukum, tanpa dipungut biaya sepeser pun. ”Kita akan bersama-sama menghukum orang yang melakukan kejahatan di asuransi.”

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s