Pemerintah Harus Jaga Stabilitas Harga Beras

INDONESIA pasti dapat merealisasikan swasembada beras jika petani, pemerintah pusat dan pemerintah daerah mau bekerja keras dan bersungguh-sungguh melakukan segala upaya yang dapat mendorong tercapainya program swasembeda beras.

Pernyataan itu diutarakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dihadapan ratusan petani dan seluruh pejabat pemerintah provinsi dan kabupaten Lampung Tengah pada acara peresmian daerah irigasi Bekri dan Rumbia Barat, Lampung Tengah kemarin (26/2).

Menurut Presiden, swasembada beras bukan mimpi di siang bolong jika petani, pemerintah dan seluruh pihak terkait mau bekerja keras. Realisasi program ketahanan pangan nasional adalah salah satu prioritas pembangunan nasional yang dicanangkan pemerintah dalam rencana pembangunan jangka menengah.

Pencapaian program tersebut sangat penting karena akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, pengurangan kemiskinan dan pengangguran di Indonesia.

Menurut Presiden, pemerintah telah menetapkan program pencapaian ketahanan pangan dengan menetapkan target produksi 2 juta ton beras. “Itu merupakan tugas besar dan tantangannya tidak ringan. Tetapi, kalau kita bekerja keras, dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka Insya Allah akan tercapai,” katanya.

Pemerintah telah menetapkan 16 propinsi yang salah satunya Lampung sebagai daerah andalan dalam mewujudkan program produksi 2 juta ton beras. Menurut Presiden, Lampung dapat menyumbang beras untuk kecukupan pangan nasional sebanyak 200 ribu ton.

Dengan diresmikannya irigasi Bekri dan Rumbia Barat, kata Presiden, diharapkan produksi beras Lampung ke depan bisa ditingkatkan lagi dari 200 ribu ton mencapai 500 ribu ton per tahun.

Presiden menyerukan agar pemprov dan pemkab, terus memacu semangat petani untuk tetap eksis bertani agar mampu memproduksi beras lebih banyak lagi. Dengan meningkatnya produksi beras, maka kesejahteraan petani pun meningkat

Untuk mendukung realisasi program ketahanan pangan, pemerintah berusaha menyediakan sarana dan prasarana bidang pertanian, khususnya sarana prasarana ketersedian air untuk mengairi sawah petani. Usaha perluasan lahan juga terus dilakukan.

“Salah atu elemen penting yang dapat memacu produksi beras adalah ketersedian air baku dengan kualitas dan kuantitas yang memadai yang memerlukan irigasi yang memadai.” Presiden mengharap agar infrastruktur irigasi yang sudah dibangun dirawat agar tidak cepat rusak.

Dalam peresmian irigasi tersebut, Presiden bersama Ibu Negara Hj Ani Yudhoyono, didampingi Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf, dan Menteri Pertanian Anton Apriantono.

Sementara itu, Djoko Kirmanto mengatakan, pembangunan irigasi adalah program nasional yang dicanangkan pemerintah. Menurut dia, pembangunan irigasi dilakukan di seluruh daerah di Indonesia. Di Sumatera Barat, pembangunan infrastruktur pertanian tersebut sudah selesai, namun belum diresmikan.

Pembangunan irigasi juga masih dilaksanakan di Aceh, Sulawesi Selatan, Bali, dan seluruh provinsi di Indonesia. “Pembangunan jaringan irigasi adalah program secara nasional yang setiap tahun dibangun terus oleh pemerintah di setiap daerah,” katanya. Departemen PU, katanya, sudah menginventarisi daerah mana saja yang akan dikembangkan untuk pembangunan irigasi.

Menurut Djoko, jaringan irigasi Bekri dan Rumbia Barat merupakan tindak lanjut pemanfaatan air waduk Batutegi yang telah selesai dibangun dan difungsikan pada tahun 2002 yang lalu dengan kapasitas tampung mencapai 690 juta m3.

Pembangunannya dimulai tahun 2000 hingga 2006 dengan menelan anggaran Rp732,5 miliar. Pelaksanaan proyek mencangkup pembangunan 34,42 km saluran induk beserta bangunan pelengkapnya, 57 buah kantor dan rumah jaga, 6,922 ha percetakan sawah serta 252,73 km jalan usaha tani. Irigasi ini mampu mengairi areal sawah di Bekri seluas 6.500 ha dan 5.790 ha di Rumbia Barat.

Debit Sungai Way Sekampung dapat dialirkan secara teratur guna memberikan pelayanan air baku untuk daerah irigasi di wilayah Bekri dan Rumbia.

Pembangunan irigasi tersebut mendapat sambutan positif dari petani. Itu dibuktikan dari 41 persen sawah baru seluas 4.800 ha telah dicetak masyarakat.

Manfaat yang akan didapat dari petani dengan irigasi tersebut adalah pengembangan komoditas padi yang sebelumnya lahan ditanam ubi, peningkatan produksi padi antara 4,5 ton hingga 6 ton per hektar. Djoko menghimbau agar irigasi yang telah dibangun dijaga dengan usaha penghijauan di kawasan tangkapan air.

Gubernur Provinsi Lampung Sjachroedien mengatakan, dengan peresmian irigasi Bekri dan Rumbia Barat, Lampung diharapkan dapat merealisasikan target pemerintah untuk memproduksi 2 juta ton beras.

“Paling tidak, Lampung dapat menyumbang 120 ribu ton untuk kebutuhan stok beras nasional. Asal irigasi lancar dan bisa mencapai 500 ribu ton kalau kita melihat kondisi tanah di Lampung sangat baik,” ujarnya.

Stabilitas Harga Beras

Di tempat yang sama, Presiden juga berjanji akan berusaha maksimal menjaga stabilitas harga beras petani pascapanen, dan mengupayakan penyediaan pupuk saat musim tanam. Janji Presiden itu, terkiat dengan harapan Ngatimir, seorang petani Bekri Lampung Tengah.

Menurut Presiden, pemerintah tetap berusaha menjaga stabilitas harga beras, namun Petani juga harus memahami jika harga beras terlalu mahal, maka sebagian besar rakyat Indonesia tidak dapat membeli.

“Tidak semuanya juga petani menghasilkan beras, dan memiliki sawah yang luas sehingga dapat mencukupi kebutuhan beras,” kata Presiden.

Namun, Presiden menegaskan harga beras petani tetap mengutamakan keuntungan bagi petani, dan harus dijaga kestabilannya. “Tidak boleh di luar jangkauan rakyat, karena itu amanah kita dengan menentukan harga beras yang terjangkau. Pemerintah pusat dan daerah harus menjaga stabilitas harga beras.”

Sementara soal kelangkaan pupuk yang selalu dihadapi petani saat musim tanam tiba, Menteri Pertanian Anton Apriantono mengingatkan agar petani juga hemat dalam penggunaan pupuk SP36.

Menurut Menpan, petani perlu mengetahui bahwa produksi pupuk SP36 sangat terbatas karena bahan bakunya masih impor sehinggga petani hemat dalam penggunaannya. “SP36 tidak dibutuhkan banyak-banyak. Maksimum untuk 1 hektar 100 kilo, nanti akan ada pengujian tanah sehingga penggunaannya tidak banyak seperti yang biasa digunakan,” katanya.

Pengurangan penggunaan SP36 juga dapat dilakukan dengan cara tidak membakar, tapi masukan kembali ke tanah, atau jerami dibuat kompos jadi pupuk urganik. Mentan juga menambahkan, pemerintah pusat lewat APBN juga mengalokasikan dana untuk penyediaan traktor. “Petani Lampung Tengah kebagian, kita akan siapkan,” katanya.

Selain akan dibagikan secara gratis, pemerintah juga punya program untuk memberikan uang muka 25 persen untuk pembelian traktor yang sisanya dibayar angsuran oleh petani. Pemerintah juga menyiapkan dana LUEP yang diharapkan dapat dikelola oleh pemerintah kabupaten dan gabungan kelompok petani agar dapat mengelola dana tanpa bunga tersebut secara baik untuk mendukung stabilitas harga beras petani.

Dalam tanya jawab dengan Presiden, Ngatimin mengharapkan, agar pascapanen harga beras stabil. Selama ini, saat panen tiba, harga beras turun, sehingga petani dirugikan. Dia juga meminta pemerintah menyediakan pupuk saat musim tanam tiba. Menurut dia, petani sering mengeluh lantaran kurangnya pupuk saat musim tanam tiba.

Setelah meresmikan jaringan irigasi, Presiden beserta rombongan langsung meninjau pabrik etanol dan mengujicoba mobil etanol di PT Indo Lampung Distellery (ILD) di Seputih Mataram, Lampung Tengah,

Di sana, Presiden kembali menegaskan bahwa pemerintah akan meningkatkan lahan perkebunan tebu untuk meningkatkan produksi gula nasional sekaligus dapat menghasilkan produk etanol. Pernyataan tersebut terkait dengan komitmen pemerintah dalam merealisasikan program peningkatan ketahanan energi itu.

Menurut Presiden, program peningkatan ketahanan energi dengan pengembangan energi etanol diharapkan dapat menekan penggunaan bahan bakar premium sehingga menghemat pengeluaran negara, mengurangi subsidi yang tinggi, sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan.

Saat meninjau pabrik etanol dan mengujicoba mobil etanol di PT Indo Lampung Distellery (ILD) di Seputih Mataram, Lampung Tengah, Presiden mengatakan Lampung memiliki potensi pengembangan bioenergi terbesar di tanah air. Pemerintah juga akan mengembangkan bioenergi tersebut di daerah lain.

Karena itu, terhadap usulan manajemen Sugar Group Company (SGC) di Lampung bisa memperoleh dukungan penyediaan lahan seluas 600.000 ha, dinilai Presiden sebagai angka yang feasible.

Presiden juga mengatakan, tim nasional akan segera mengkaji bersama-sama dengan gubernur provinsi tertentu, seperti Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan dan Papua untuk menghitung ketersediaan lahan.

“Semuanya akan dijalankan secara bertahap dan berlanjut, saya juga dapat laporan sejumlah gubernur yang menindaklanjutinya sehingga semuanya akan bergerak bersama-sama,” demikian esiden SBY.

Menurut Presiden, bukan hanya soal lahan, tapi dalam tiga hingga lima tahun ke depan, pemerintah akan memikirkan cara guna meningkatkan ketahanan energi.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Pikiran Rakyat


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s