Dari Bakauheni-Merak, Presiden Tinggalkan Pesan

AROMA tak sedap menyengat saat memasuki dek I KM Baruna yang akan berlabuh dari Bakauheni Lampung ke Merak, Banten.

Kepulan asap yang keluar dari cerobong truk, dan bau solar yang tercecer di lantai dasar, belum lagi bau pesing agak bikin pusing. Bagi yang tak kuasa menahan, bisa-bisa aroma di dasar kapal itu membuat muntah.

Tapi, kondisi miris itu tak menyurutkan semangat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menggelar inspeksi mendadak (sidak) di kapal itu. Bersama sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), Presiden menyisiri setiap sudut kapal itu.

Di ruangan yang udaranya tak bersahabat itu, Presiden tak hanya harus menghirup udara tak sedap. Tapi, dia harus memandang kondisi tak elok di ruang yang dipadati truk itu.

Puluhan truk yang tumplek di ruangan itu, memaksa Presiden menyelipkan badan agar bisa menembus setiap sudut ruangan. “Ini mungkin hanya 40 cm,” kata Presiden mempersoalkan batas antar truk.

Mengapa begitu dekat jarak antartruk. Apakah setiap truk diberi ganjalan, dan diikat agar tak mudah bergeser?” tanyanya lagi.

Presiden rupanya khawatir jika kondisi semraut itu dapat mengancam keselamatan seluruh penumpang.

“Kalau ada gelombang, akan bergeseran dan tabrakan, iyakan. Jadi jaraknya harusnya 60 cm (antar truk, red). Masing-masing kendaraan harus diikat. Rawan jika terjadi percikan api. Sebelum kapal berangkat harus dicek satu per satu kondisinya sehingga kita yakin akan keamanan,” Presiden mengingatkan.

Di ruangan yang pengap itu, Kepala Negara juga ditemani sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) seperti Menteri Perhubungan Hatta Rajasa, Menteri PDT Saifullah Yusuf, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, Sekretaris Kebinet Sudi Silalahi, Menko Politik Hukum dan Keamanan Widodo AS, Panglima TNI Djoko Suyanto, Kapolri Sutanto, dan beberapa pejabat negara lainnya.

Presiden tak juga sungkan menyambangi sejumlah penumpang di kapal itu. Beliau tak juga sungkan menjawab sapaan masyarakat—sambil melambaikan tangan, dan senyum lepasnya. “Baik-baik semua ya, utamakan keselamatan,” kata Presiden kepada seorang penumpang.

Ratusan penumpangan dan masyarakat sekitar yang menyaksikan langsung kunjungan Presiden begitu antusias menyapa. “Mimpi apa ya, Presiden naik kapal ini,” kata seorang penumpang penumpang Kapal Jatra III milik PT ASDP saat akan menyebrang dari Pelabuhan Bakauheni ke Pelabuhan Merak, Banten (27/2).

Meski tidak satu ruangan dengan Presiden, lelaki itu senang sekali bisa naik satu kapal dengan kepala negara. Bersama penumpang lain, dia menepati kelas ekonomi paling atas.

Jatra III, kata petugas ASDP, adalah kapal yang paling nyaman. Presiden bersama sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) menepati ruang eksekutif.

Apa karena ada Presiden? “Oh tidak, kapal ini sering kok disewa orang ke Malaysia, ini kapal paling baik” jawab petugas itu.

Tapi, saat mengecek semua sudut kapal, sebenarnya hanya ruangan Presiden yang bertabur aroma wangi dan AC sejuk. Sementara di dek I dan dek III kelas ekonomi, kondisinya memperihatinkan.

Kapal itu sepertinya tak layak ditumpangi Presiden RI. Pasalnya, kenyamaan kurang begitu diperhatikan. Kenyamanan hanya dapat dinikmati saat memasuki ruang eksekutif, tempat Presiden berserta rombongan beristirahat.

Ruangan itu wangi sekali. Apa karena Presiden yang menaiki?

Kenyamanan itu sebenarnya jarang sekali bisa dinikmati penumpang umumnya. Meski kelas eksekutif yang mematok harga tambahan Rp6.000 per penumpang, tetap saja kenyamaan tak didapatkan.

Ssidak) yang dilakukan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyo kemarin di pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, ternyata menemukan sejumlah masalah teknis, pelaksanaan manajemen keselamatan, dan permasalahan pelaksanaan prosedur tetap yang tidak dipenuhi—yang jika dibiarkan, menjadi potensi terjadi kecelakaan transportasi laut.

“Saya menyimpulkan banyak hal yang perlu dibenahi, seperti masalah teknis, manajemen keselamatan dan masalah pelaksanaan prosedur tetap yang harus dipenuhi,” kata Presiden usai melakukan sidak di atas Kapal Jatra III milik PT ASDP Indonesia Ferry.

Presiden menegaskan bahwa faktor keselamatan manusia sangat penting, termasuk faktor lainnya seperti kenyamaan dan keamanan, dan ekonomi. Kecelakaan kapal dua kali berturu-turut, kata Presiden, menunjukan banyak permasalahan yang harus dibenahi bersama-sama.

Presiden sudah memerintahkan Menteri Perhubungan, dan Pimpinan ASDP, untuk melakukan langkah terpadu untuk memperbaiki manajemen transportasi laut agar kecelakaan dapat diantisipasi maksimal. “Saya sudah membahas dengan Menhub, dan Pimpinan ASDP, dan akan dilakukan langkah terpadu kepada perusahaan Ferry yang dikelola ASDP maupun swasta.”

Dari sidak yang dilakukan, Presiden menemukan jarak yang terlalu dekat antar truk yang menumpangi kapal di dek 1, sehingga dikhawatirkan akan berbahaya jika terjadi penumpukan. “Itu (jarak, red) mestinya 60 cm, ternyata ada yang terlalu dekat.”

Menurut Presiden, kalau terjadi goncangan kapal karena gelombang, maka bisa saja terjadi tumpukan kendaraan yang menyebabkan kapal menjadi miring sehingga berbahaya. Presiden menilai perlu dipastikan jarak antar kendaraan dan harus ada alat untuk mengikat, dan menahan (kendaraan, red) agar tidak bergeser.

“Posisi dan bahan baker mesti diperhatikan, ketika naik kapal juga dilihat isinya apa, itu harus dicek satu persatu sehingga sekali berlayar tidak ada masalah yang rawan.”

Presiden juga menilai, kapal juga harus menyediakan pelampung. Saat sidak, Presiden mengatakan, pelampung yang tersedia di kapal Jatra III, lebih banyak daripada penumpang. Namun, Presiden mengingatkan, agar penumpang diberitahu cara penggunaan pelampung dan sekoci. Perahu penyelamatan juga harus disediakan kapal saat akan berlayar.

Presiden juga mengingatkan kepada Menteri Perhubungan akan melakukan perbaikan sistem dan memantau pelaksanaan prosedur tetap. Dia juga menghimbau agar ada tanggungjawab nahkoda, serta kesadaran penumpang agar melaksanakan prosedur tetap yang sudah ditentukan. Dia mengingatkan agar jumlah yang ada di manifest tidak berbeda dengan jumlah penumpang yang menaiki kapal.

“Jumlahnya harus sama, kalau ada 100 orang yang beli tiket, maka 100 orang yang berangkat. Jangan ada penyimpangan di situ. Kalau ada penyimpangan, harus dicopot karena dapat mengganggu keselamatan kita semua. Di atas segalanya adalah pengecekan sebelum berangkat,” Presiden mengingatkan. Jka jumlah yang ada di manifest berbeda dengan jumlah penumpang sesungguhnya, maka dapat berbahaya bagi pelayaran.

“Yang berbuat macem-macem harus ditindak. Barang-barang yang tidak boleh dibawa saat penyebrangan ya tidak boleh diizinkan. Kita harus memperbaiki bersama, dengan harapan makin baik ke depan. Saya minta kesadaran semua pihak, dari perusahaan transportasi, penumpang dan pemerintah, kita kelola bersama-sama,” tegas Presiden.

Saat Sidak, Kepala Negara didampingi sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) antara lain: Menteri Perhubungan Hatta Rajasa, Menteri PDT Saifullah Yusuf, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, Sekretaris Kebinet Sudi Silalahi, Menko Politik Hukum dan Keamanan Widodo AS, Panglima TNI Djoko Suyanto, Kapolri Sutanto, dan beberapa pejabat negara lainnya. Ibu Negara Ani Yudhoyono juga menemani Presiden saat sidak.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Hatta Rajasa mengatakan pemerintah akan lebih tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan baik dari pihak pelabuhan maupun perusahaan kapal. Jika ada pelanggaran, kata Menhub, pemerintah tidak segan-segan memberhentikan syah bandar dan mencabut izin trayek perusahaan kapal. Menurut dia, banyak perusahaan perhubungan yang belum melaksanakan prosedur yang sudah ditetapkan.

Hatta mengatakan, regulasi dan prosedur tetap sudah ada. Namun, ada kelemahan dalam pelaksanaan di lapangan. “Ini yang seharusnya diperbaiki,” katanya.

Terkait dengan tregedi tenggelamnya Kapal Levina I beberapa waktu lalu, Hatta mengatakan investigasi dan pencarian para korban Levina akan terus dilakukan.

Menhub juga menegaskan agar perusahaan memberikan asuransi kepada para korban. Perusahaan kapal juga diharapkan memberikan santunan kepada para korban. Menhub juga akan segera mencopot Dirjen Perhubungan Laut dan Dirjen Perhubungan Udara Departemen Perhubungan. “Segera dilakukan pergantian. Namun belum ditentukan waktunya karena pemberhentian pakai Perpres. Tapi akan segara diganti,” ujarnya.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s