Semalam di Tanjung Priok

MALAM semakin melarut. Namun, denyut kehidupan di sekitar pelabuhan Tanjung Priok rasanya tak juga berhenti. Kesibukan tak hanya dilakukan oleh sejumlah kuli pelabuhan yang melakukan bongkar muat barang di sekitar dermaga.

Denyut kehidupan hingga pagi menjelang juga nampak di sejumlah tempat hiburan malam yang ada di sekitar kawasan pelabuhan terbesar di Indonesia itu.

Saat menelusuri area sekitar pelabuhan, dengan mudah ditemukan sejumlah tempat hiburan malam. Di sana juga terdapat sejumlah penginapan, meski hanya sekelas prodeo.

Tepatnya di sebuah lokasi hiburan malam, sekitar 500 meter dari pusat pelabuhan, nampak sejumlah gadis muda—berusia sekitar 20-30 tahun, dengan penampilan agak seksi, pada asyik bercengkrama antar sesamanya.

Mereka tertawa lepas, seolah memaksa menenggelamkan hentakan suara musik yang mengalir deras dari ruang karaoke. Mereka juga sama sekali tak terusik oleh bisingnya deru kendaraan berat yang lalu tak hentinya lalu lalang di hadapan mereka.

Tebalnya debu jalanan yang tersapu truk-truk berat pengangkut barang juga tak mampu mengusik kegembiraan mereka nikmati suasana malam.

Kawasan di sekitar pelabuhan terbesar di Indonesia itu sepertinya sudah menjadi salah satu tempat mangkal para wanita tuna susila (WTS) atau biasa disebut wanita pekerja seks di Jakarta.

Keberadaan para WTS itu dirasakan semakin ramai di kawasan itu, setelah kompleks pelacuran Kramattunggak ditutup pemerintah DKI Jakarta. Disinyalir, para WTS yang biasa mangkal di Kramattunggak hijrah beroperasi di sekitar pelabuhan.

Bagi para WTS, pelabuhan adalah ladang basah dalam mengembangkan bisnis syahwat. Pasalnya, pelabuhan juga menjadi tempat mangkal para sopir truk jarak jauh, yang sudah sekian lama tak terlampiaskan hasrat seksualnya. Dan, sudah menjadi cerita basi jika tak sedikit sopir truk suka berpetualang meraih kepuasan seks bersama WTS yang biasa mangkal di sekitar ruas jalan.

Saat menelusuri kawasan pelabuhan, banyak ditemukan truk-truk dengan pelbagai ukuran, berjejer di sekitar ruas jalan.

Biasanya, setelah lelah menyapa lantaran sekian lama mengendarai truk mengangkut barang dari tempat asal ke pelabuhan, para sopir kadang menyempatkan diri mampir sejenak ke sejumlah tempat hiburan malam.

“Di sini, kadang ramai dengan para sopir, ya sekedar minum bir, ngobrol, atau cari wanita,” kata Sutini, sebut saja begitu, wanita malam yang mengaku terbiasa menemani kencan dengan para sopir.

“Kalau sopir lagi sumpek, ya main ke sini, atau ke beberapa tempat remang-remang. Di sini banyak bar, café, dan mess. Kalau cara cewek, minta model apa saja, kayak gitar Spanyol, Prancis, dan yang gendut juga ada,” ujar Maryati, rekan Sutini.

Namun, tak jarang pula para kupu-kupu malam itu berkeliaran menyantroni satu per satu sopir truk yang tengah mangkal di sekitar jalan. Gerilya biasa dilakukan ketika langganan sepi yang datang.

Dalam kondisi demikian, para WTS kadang terpaksa mematok tubuhnya dengan harga yang melorot tajam. “Bisa hingga Rp50.000,” ungkap Sutini.

Kalau mau membawa WTS ke sebuah tempat, juga bisa, tergantung transaksinya. “Tidak dipatok berapa harus bayar,” timpal Sutini.

Dus, jika tak sanggup bayar sewa penginapan, ‘hajat’ biologis pun bisa dilampiaskan di dalam bak truk yang ditutup dengan kain atau terpal.

Hubungan ‘gelap’ antara sopir truk dengan para WTS memang sudah bukan lagi rahasia masyarakat.

Bahkan, sebuah survai yang pernah dilakukan Yayasan Kerti Praja (YKP) Bali—lembaga yang respon terhadap penyakit HIV dan AIDS, diketahui 41 persen responden yang diambil dari sopir truk, mengaku pernah melakukan hubungan seks dengan WTS. Padahal 74,9 persen di antara mereka telah kawin.

Tak jarang, ditemukan kasus karena keseringan main perempuan, sejumlah sopir terserang penyakit kelamin.

Mulkan, seorang sopir truk yang biasa membawa arang dari Menggala ke Jakarta misalnya. Ia mengaku sering melakukan hubungan seks dengan sejumlah WTS usai menempuh perjalanan jauh. Karena keseringan, lelaki berusia 33 tahun itu pernah mengidap penyakit spilis alias raja singa.

Meski demikian, hubungan ‘gelap’ antar sopir truk dengan WTS, sebenarnya tidak hanya berdasarkan urusan syahwat.

Menurut Sutini, dirinya sering diajak sopir hanya sekedar menemani perjalanan jauh dari Tanjung Priok ke Semarang. “Saya dikasih Rp300.000. Itu tidak ada tawaran, karena hanya menemani sopir.”

Selama perjalanan, Sutini mengaku hanya bertugas mengusir rasa kantuk yang dikhawatirkan dapat membahayakan perjalanan.

“Tidak sampai begituan, cuma ngobrol, becanda, tapi, kalau mau main bisa saja, kalau lagi tidak nyopir,” akuinya.

Sejauh ini, pergaulan antara Sutini dengan para sopir yang berlangsung sudah lima tahun, berjalan dengan baik.

Ia mengaku tidak pernah mengalami tindak kekerasan yang dilakukan sopir saat berkencan. Ia juga tidak pernah tidak dibayar jika sudah memberikan pelayanan.

Kadang, Sutini juga menjadi teman curhat para sopir. Atau sekedar teman ngobrol, sambil menemani si sopir meminum bir.

“Tidak semuanya sopir jelek, sama saja dengan orang kantor kalau kelakuan jelek, ya sama saja,” ujar Maryati.

“Bergaul dengan sopir, ya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa,” timpal Sutini yang mengaku tinggal di Purwokerto. Baginya, selain sebagai konsumen utama, sopir juga adalah teman minum, atau mengobrol tatkala pikiran sumpek.

Bagi Sugeng, sopir truk perusahaan Kunci Mas yang bertempat di Malang, main perempuan itu kelakuan buruk tempo dulu.

Saat krisis melanda, ia menyatakan stop bermain dengan WTS. “Uangnya tidak cukup. Bisa-bisa isteri dan anak rumah tidak bisa makan.”

Sugeng mengaku setelah harga bahan bakar solar naik, penghasilannya sebagai sopir pengangkut sayur-sayuran dan buah-buahan dari Malang ke Jakarta, turun drastis.

“Sekarang paling cuma Rp200.000 selama lima hari,” keluhnya.

Bahkan, tak jarang harus merugi, lantaran banyak pungutan uang yang cukup memberatkan, mulai dari tilangan polisi, petugas DLLAJ, hingga pungutan bongkar muat yang harus dibayar ke sejumlah preman.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s