(Photo: AP/Dita Alangkara)

Dikhawatirkan Banjir 2007
Lebih Dahsyat Dibanding 2002


BANJIR masih menghantam warga DKI Jakarta. Guyuran hujan yang berlangsung sejak Jum’at pekan lalu membuat sejumlah titik di kawasan ibu kota terendam air. Sebagian warga pun panik. Sejumlah jalur transportasi pada macet lantaran diblokir petugas dan masyarakat.

Saat melintasi kawasan Manggarai, puluhan petugas memblokade terminal Manggarai. Pengguna kendaraan yang ingin menuju Matraman dilarang melintas. Pasalnya, Pintu Air Manggarai meluap hingga menggenangi jalan. Di bibir sungai, nampak ribuan warga tumplek blek hingga menutupi ruas jalan.

Pengguna kendaraan yang datang dar arah Pejompongan juga tak bisa menembus jalan menuju Manggarai. Mereka terpaksa balik arah lantaran tak kuasa menghadapi genangan air yang tingginya mencapai sekitar 1 meter.

Jika ingin menuju Matraman, pengguna kendaraan terpaksa harus melewati Jalur Proklamasi. Namun, tepatnya di perempatan Matraman, genangan air setinggi 60 cm yang menutupi ruas jalan terpaksa menghentikan laju kendaraan.

Terpaksa, sebagian besar pengguna kendaraan bermotor melewati jalur tikus, merayap masuk dari satu gang ke gang lain jika ingin menembus Jalan Pramuka.

Dari kawasan Tanah Abang, ribuan rumah terendam air akibat tanggul air di Banjir Kanal Barat (BKB) jebol. Puluhan ribu warga di enam kelurahan Kecamatan Tanah Abang harus mengungsi. Benhil dan Petamburan paling parah diterjang banjir.

Jebolnya tanggul sekitar 11.00 dan ketinggian air terus meningkat seiring hujan yang tak henti. Di Petamburan, ketinggian air mencapai tiga meter. Sementara di Benhil, ketinggiannya mencapai dua meter.

Jebolnya tanggul menyebabkan sejumlah kawasan di Tanah Abang terendam air, seperti Jalan Jati Baru III dan Jati Baru Bengkel. Arus lalu-lintas Tanah Abang-Cideng pun kacau lantaran tergenang air sampai ketinggian 30 cm.

Di Kampung Melayu, Jakarta Timur, sejumlah rumah warga masih terendam banjir. Warga setempat terpaksa mengungsi ke SD Santa Maria, Rumah Sakit (RS) Hermina, Masjid Attawabin, dan Masjid Istihadun Ihwan. Mereka juga terpaksa memadati jalan untuk menghindari genangan air.

Staf Kelurahan Kampung Melayu, Sumarsono, menyebutkan, rumah yang terendam air tersebut diperkirakan mencapai dua ribu rumah yang tersebar di delapan RW dan 53 RT. Menurut dia, jumlah korban yang terkena genangan air itu mencapai 2.735 kepala keluarga (KK) atau 10.260 jiwa, dan saat ini 628 KK sudah mengungsi ke pos pengungsian sementara.

Genangan air juga ditemukan di sejumlah ruas jalan Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Tepat di samping Bank Indonesia, genangan setinggi 60 cm memaksa pengguna kendaraan bermotor balik arah. Genangan air setinggi 50-60 cm juga terjadi di bundaran HI .

Ruas jalan lainnya yang tergenang air, seperti, Jalan Hang Lengkiu, Jalan Sisingamaraja, dan Jalan Pakubuwono, Jalan Thamrin, Bundaran HI dan Jalan Gatot Subroto.
Bisa Melebihi 2002

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengingatkan warga dan pemerintah DKI Jakarta agar lebih waspada karena intensitas hujan saat ini lebih besar daripada tahun 2002. Karenanya diperkirakan banjir 2007 lebih parah dibandingkan 2002.

Endro Santoso, Kepala Bidang Informasi Meteorologi BMG, mengatakan potensi hujan dengan intensitas lebat dan sedang masih akan terjadi hingga 7 Februari mendatang. ”Terutama pada sore dan malam hari,” katanya kepada Jurnal Nasional kemarin.

Intensitas hujan itu, katanya, tidak terjadi secara terus menerus, namun berpotensi terjadi secara lebat dan sedang.

Endro belum bisa memastikan banjir 2007 akan melebihi tahun 2002. Namun, melihat situasi dan tanda-tanda saat ini—hujan terjadi selama tiga hari berturut-turut. BMG hanya memprediksi dua atau tidak hari saja.

”Yang mengkhawatirkan jika intensitasnya hujan yang sering—meski tidak terlalu tinggi–dimungkinkan akan terjadi banjir melebihi pada tahun 2002,” ujarnya.

Namun, kalau intensitasnya berkurang, banjir seperti tahun 2002, tidak akan terjadi.

Endro menilai, intensitas hujan yang terjadi pada 2 Februari lalu, intensitasnya sebanding dengan tahun 1996.

Menurut Endro, hujan cukup intensif terjadi dari tanggal 1 yang mengakibatkan banjir esoknya. ”Itu (banjir, red) akibat murni curah hujan di wilayah DKI Jakarta yang tinggi.”

Sementara pada tahun 2002, lanjutnya, banjir hebat terjadi karena akumulasi hujan di daerah puncak. Menurut dia, di daerah Puncak, intensitas hujan kecil sehingga tidak menyebabkan banjir yang besar.

Apa mungkin akan terjadi akumulasi? Endro tidak bisa memastikan. Namun, dia menilai banjir kemarin terjadi akibat hujan pada Jum’at hingga Sabtu. Saat itu, intensitas hujan agak beda. ”Curah hujan intensitasnya tinggi terjadi pada Sabtu dan Minggu dini hari tadi dan juga terjadi di wilayah Puncak, Bogor” katanya.

Salah satu penyebab banjir besar di Jakarta tahun 2002 adalah akibat banjir kiriman dari Bogor. Air Sungai Ciliwung pun meluap akibat dibukanya Pintu Air Manggarai untuk menuju Masjid Istiqlal, Harmoni, Gunung Sahari, dan sekitarnya telah merendam halaman Istana Kepresidenan, baik Istana Merdeka di Jl Medan Merdeka Utara maupun Istana Negara di Jalan Juanda.

Menurut Endro, akumulasi hujan terjadi dari hari ke hari. ”Sampai saat ini, intensitasnya masih sangat tinggi, namun, BMG belum bisa memastikan. Tapi, melihat tanda-tanda, hujan yang telah terjadi selama tiga hari berturut-turut,” katanya.

Endro mengatakan, pada Februari ini masyarakat harus siaga dan waspada karena hujan lebat akan terus terjadi. BMG akan terus melakukan pemantauan, dan berkoordinasi dengan instansi terkait, khususnya dengan crisis center DKI.

Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso usai rapat koordinasi dengan Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana Provinsi (PBP) di Balaiokota menyerukan agar masyarakat mewaspadai kemungkinan tersebut sambil terus memerhatikan peringatan yang akan dikeluarkan oleh petugas di wilayah.
“Saya minta masyarakat untuk terus waspada dan merespons setiap peringatan yang dikeluarkan oleh petugas-petugas di lapangan. Bila memang harus evakuasi, laksanakan evakuasi awal pada tempat yang telah disediakan,” kata Sutiyoso.
Bila kondisi terus memburuk, Gubernur meminta setiap warga untuk mengambil langkah yang diperlukan dalam rangka penyelamatan diri dan keluarga serta mengimbau masyarakat di pemukiman untuk menggiatkan siskamling.

BKT bukan Solusi

SEBAGAI kota yang terletak di wilayah pesisir pantai, DKI Jakarta sejak awal perkembangannya selalu dihadapi banjir. Bencana itu disebabkan karena tingginya curah hujan, serta kondisi geologi di kawasan dekat pantai.

Upaya penanggulan bencana tahunan sebenarnya sudah dilakukan dengan membangun Sistem Banjir Kanal Timur (BKT) yang mengelilingi kota. Namun, hingga kini proyek itu tak juga rampung.

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto usai rapat koordinasi penanganan banjir di Crisis Center di Balaikota DKI Jakarta, kemarin, mengatakan kendala pembangunan BKT karena lahan belum tersedia. Sejauh ini, yang ang sudah terselesaikan cuma 7,7 km dari rencana proyek sepanjang 23,5 km.

Proyek BKT dibangun untuk mengurangi potensi banjir khususnya di wilayah timur Jakarta.

Selain pembangunan BKT, Gubernur DKI Jakarta mengatakan untuk mencegah banjir juga perlu dikembangkan sistem waduk atau folder, untuk menampung aliran air.

Dengan sistem tersebut, maka waduk akan menampung air melalui suatu saluran sehingga tidak menggenangi daerah sekitarnya. Dengan sistem tersebut, setidaknya dapat mengalihkan 25 persen beban Banjir Kanal Timur.

Kepala Dinas PU DKI Jakarta Wisnu Subagyo Yusuf sebelumnya mengklaim banjir besar yang selalu melanda Ibu Kota setiap musim penghujan dapat diatasi tahun ini bila semua pompa dan saluran air yang ada saat ini berfungsi dan volume air sama dengan hujan tahun 2002 lalu. Namun, Wisnu mengaku pemasangan pompa-pompa air tidak berarti Jakarta dijamin bebas banjir sebelum pembangunan proyek banjir Kanal Timur terealisasi.

Wahyu Budi Setyawan dari Pusat Penelitian Oseanografi menilai sistem BKT belum bisa menyelesaikan persoalan banjir di Jakarta.

Bahkan kemungkinan besar berpotensi erosi atau sedimentasi di pantai. Sejak tahun 1619 sistem tersebut secara bertahap telah dibangun. Tanah galiannya digunakan untuk menimbun lahan kepentingan kontruksi.

Akibatnya, pada tahun 1665 air berada lebih tinggi dari desa Jakarta kala itu. Pada tahun 1670, sejumlah jalan di Jakarta sudah tergenang saat pasang tinggi (spring tide).

Para ahli justu sangat menekankan agar seluruh sistem penangkapan air yang relevan untuk Jakarta harus diperhatikan agar banjir dapat diatasi.

Pembangunan BKT hanya untuk mengatasi banjir yang berkaitan dengan aliran permukaan. Padahal, banjir yang terjadi di Jakarta karena faktor kawasan dekat pantai lebih disebabkan pasang surut dan subsidence belum diupayakan cara untuk mengatasinya.

Dewasa ini, tengah dibangun Sistem Banjir Kalan Timur sebagai bagian dari Sistem Banjir Kanal. Namun, pembangunan tersebut hanyauntuk mengatasi banjir yang berkaitan dengan aliran permukaan. Padahal, banjir yang terjadi di Jakarta karena faktor kawasan dekat pantai lebih disebabkan pasang surut dan subsidence belum diupayakan cara untuk mengatasinya.

Akibatnya, genangan banjir semakin meluas. Di kawasan Manggadua dan Jalan Gunung Sahari misalnya. Pembangunan gedung-gedung di kawasan tersebut telah memperbesar subsidence seperti terlihat di Pademangan Jalan Budi Mulia dan aliran sungai Ciliwung.

Penembangan pohon hutan kawasan hulu Sungai Ciliwung juga menyebabkan semakin tingginya permukaan air sungai, dan meningkatnya jumlah muatan sedimen, dan runtuhnya tebing-tebing sungai menyebabkan meningkatnya muatan sedimen.

Persoalan semakin menjadi karena sampah dibuang sembarang oleh warga di Sungai Ciliwung, dan seluruh sungai di Jakarta. Akibatnya, hampir seluruh sungai yang mengalir melalui kota beserta jaringannya tidak berfungsi dengan baik, dan terjadinya pendangkalan. Air sungai pun mudah meluap ke daratan saat hujan datang.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s