Kaliawi Kampung Warna Warni

PENGHUJUNG Jalan RA Kartini. Ruko-ruko berjajar rapi. Aneka jenis barang dan jasa; alat listrik, elektronik, kertas, sembako, motor, kursi, fotokopi, studio foto, dokter gigi, sampai bank ada di sana. Nasabah, pasien dan pembeli datang dan pergi. Tak pernah sepi. Di depan ruko, sepanjang hari, beragam jenis kendaraan pribadi, bus dan angkot, lalu lalang tanpa henti. Tergesa mengakut dan menurunkan penumpang. Pak sopir sebuah angkot warna kulit telur kesal, “Setoran belum juga sampai, tapi polisi yang berdiri di tengah jalan tak juga mau pergi,” keluhnya.

Belakang bangunan ruko-ruko yang kukuh. Melalui sebuah gang sempit, rumah-rumah penduduk berhimpit-himpit. Jemuran menggantung di sana-sini. Intonasi suara dari obrolan beberapa orang warga di depan rumah terasa khas. Akrab meledak-ledak. Hati-hati! Becak dan sepeda motor kapan saja bisa nyelonong. Dari arah gang dan lorong yang sempit. Tiba-tiba tanpa permisi.

Di belakang ruko-ruko Jalan RA Kartini itulah lokasi Kampung Kaliawi berada. Berdiri. Kampung yang selama ini cukup disegeni–disegani.

Setiap subuh, usai gema adzan dari corong speaker mesjid reda, kehidupan Di Kaliawi mulai menggeliat. Ibu-ibu dengan bakul sayur dipunggung, satu persatu ke luar dari pintu rumah menuju ujung gang. Keluar menghampiri abang becak yang masih terkantuk dalam jok becaknya.

“Mas. becak yuk,” seru salah seorang ibu mengagetkan. Mas becak yang mendengar panggilan tersebut langsung terbangun. Sambil ucek-ucek mata, tentunya. Tergopoh mengarahkan moncong becaknya ke arah pasar yang diminta.

Perlahan namun pasti. Seiring putaran jarum jam, warna gelap menyelimuti langit Kaliawi Sirna. Dan, kampung itu terbuka wajah aslinya. Setiap pagi Kaliawi selalu sibuk. Ibu-ibu memulai harinya dengan pekerjaan rumah. Memasak dan menggoreng nasi untuk sarapan anggota keluarga. Mencuci pakaian dan perabotan. Anak-anak sudah siap berangkat ke sekolah. Sementara para bapak siap berangkat ke tempat kerja. Sarapan dulu, tentunya.

Pedagang berlari ke arah pasar. Pegawai berangkat ke kantor. Buruh, kuli pasar, tukang becak, ojek dan sebagainya pun tak mau ketinggalan. Mereka berangkat meninggalkan rumah menuju tempat kerjanya masing-masing. Kecuali pengangguran, mereka tetap di rumah.

Matahari terus bergulir ke arah barat. Jaka Utama, nama tempat yang diambil dari nama sebuah gang di belakang jalan Kartini. Muaranya tepat berhadapan dengan Jalan Suprapto semakin siang kian ramai. Para cakil yang ngepos berebut menarik hati penumpang. Jaka Utama memang lokasi strategis bagi para cakil. Angkot berbagai jurusan seperti Rajabasa – Tanjung Karang, Teluk Betung – Tanjung Karang, Way Halim – Tanjung Karang dan lainnya mampir di sana. “Lumayan, nyakil di Jaka Utama, gua bisa ngantongin uang minimal Rp30 ribu perak perhari,” ungkap seorang cakil sambil menatap sibuk mencari penumpang. Ia salah satu warga Kaliawi yang mengaku sudah lama bekerja sebagai cakil.

******

Kaliawi merupakan salah satu kampung tua di Bandarlampung. Ia sudah ada dan dikenal sejak jaman penjajahan Belanda. Sebelumnya, Kampung Kaliawi bernama Simpur Kramat. Tapi, entah tak adayang tahu pasti kapan Simpur Kramat berubah menjadi nama Kaliawi. Orang-orang sepuh yang sempat ditemui di kampung itu tak ada yang bisa menceritakan sejarahnya.

Namun yang jelas, kata Kaliawi berasal dari bahasa Banten. Terdiri dari dua suku kata, kali yang berarti sungai dan awi yang berarti bamboo. Nama ini, konon muncul lantaran memang ada sungai yang mengalir yang membelah kampung. Sungai tersebut memanjang mulai dari Sukadana, Sampai ke Kramat Kuala. Aliran sungai tempo dulu sangat deras. Airnya pun bersih dan bening. Di sepanjang bibir sungai, banyak tumbuh rumpun bamboo yang lebat menjorok ke badan sungai. Nama Kaliawi yang mengandung arti kali bambu itu pun akhirnya dikenal luas hingga sekarang.

Luas Kaliawi dulu jauh lebih luas disbanding wilayah yang secara administratif tercatat sebagai Kelurahan Kaliawi sekarang. Drs H Hairudin Yusuf, yang pernah menjabat sebagai lurah Kaliawi selama 15 tahun menceritakan, lingkup wilayah Kaliawi tempo dulu meliputi kelurahan Pasir Gintung, Simpur, Kelurahan Kampung Sawah dan Kelapa Tiga.

“Bahkan, jauh hingga ke wilayah Enggal,” Ungkapnya antusias. Semua wilayah tadi dikepalai oleh seorang kepala kampung yang disebut beck bur, sebuah istilah Belanda yang artinya lurah. Beck burn itu berkedudukan di Tanjung Karang.

Wilayah Kelurahan Kaliawi mulai berkembang pada tahun 1970. Saat itu, Kecamatan Tanjung Karang dipecah menjadi dua kelurahan, yaitu Kelurahan Tanjung Karang dan Kelurahan Kaliawi. Kemudian, pada tahun 1975 – 1976, Kelurahan Kaliawi kembali dipecah menjadi dua kelurahan, yaitu Kelurahan Kaliawi dan Kelapa Tiga.

Beberapa etnis pernah menjabat sebagai lurah di Kaliawi. Mulai dari etnis Tionghoa, Padang, Lampung sampai kemudian Banten. Hairudin mengaku tahu banyak perjalanan Kampung Kaliawi. Beberapa keluarganya pernah menjabat lurah di sana. Mulai dari paman, kakak sampai akhirnya ia sendiri pernah menjabat sebagai lurah Kaliawi, “Paman saya sekitar tahun 1955, kemudian disusul kakak saya yang bernama Mahyudin. Saya sendiri menjabat posisi tersebut dari tahun 1979 sampai 1993,” Hairudin mengenang.

Selama perjalanan sejarahnya, masyarakat asal etnis Lampung tercatat sebagai penduduk pertama Kaliawi. Mereka datang dari berbagai umbul (dusun), seperti Sukadana Ham, dan Menggala. Adapula yang berasal dari Umbul Kuripan, Teluk Betung, Olok Gading dan Kampung Negeri. Tapi, sejak dulu Kaliawi memang terbuka bagi pendatang dari berbagai etnis dan turunan. Bengkulu, Padang, Banten, dan Jawa sudah lama tercatat sebagai penduduk Kaliawi. Oleh sebab itu, warga Kaliawi sekarang terdiri dari beragam etnis dan keturunan. Kata Hairudin, mereka semua adalah buyut (moyang) bagi warga Kaliawi.

Meski demikian, bukan berarti komposisi penduduk Kaliawi antara satu etnis dengan etnis yang lain sama jumlahnya. Etnis Lampung misalnya, kini tercatat sebagai warga minoritas di Kaliawi. Kian hari jumlah mereka kian menyusut. Banyak dari mereka yang pindah ke wilayah lain.

Sekarang, mayoritas warga Kaliawi adalah etnis Banten. Hasan, seorang tokoh masyarakat Kaliawi mengatakan, “Hampir semua warga perantau dari Banten menclok (hinggap) dulu ke Kaliawi. Saya sendiri tidak tahu persis kapan wong Banten mulai masuk ke Kaliawi. Yang pasti banyak warga banten di Kaliawi yang telah masuk beberapa generasi. Hasan sendiri adalah warga Kaliawi keturunan Banten yang masuk di generasi ketiga. “Orang tua saya, sudah menginjakkan kaki di Kaliawi sejak usia 7 tahun,” katanya. Hasan sendiri mengaku, lahir dan besar di Kaliawi. Bila dihitung dari usia generasi yang saat ini ada, sekitar tahun 40-an warga asal Banten yang sudah menetap di Kaliawi.

Kedatangan orang-orang Banten di Kaliawi awalnya adalah untuk bekerja. Kebanyakan mereka bekerja sebagai manol atau kuli. “Mereka awalnya datang ke Lampung tidak untuk tinggal menetap,” kata Hasan dengan logat khas Banten.

Tapi, banyak dari mereka yang merantau ke Lampungitu dinilai berhasil oleh orang-orang kampungnya. Hal ini yang menjadi faktor pendorong bagi saudara, teman dan para tetangga mereka untuk ikut datang mengadu nasib di Lampung.

Pendapat berbeda soal faktor pemicu banyaknya warga Banten di Kaliawi diungkap Hairudin. Katanya, warga Kaliawi dari Etnis Lampung dari dulu dikenal sangat baik kepada pendatang dari Banten. Mereka menilai, etnis Banten sebagai saudara tua.

Banyak penduduk Lampung yang memberikan tumpangan hidup kepada orang Banten. Bahkan, ada yang sampai memberikan lahan mereka kepada para pendatang dari Banten dengan tujuan agar Kaliawi cepat menjadi ramai. Kedekatan warga Lampung – Banten ini memang sudah dikenal sejak lama. Ada ikatan sejarah yang membuat mereka dekat. Di Banten sendiri, ada sebuah kampung bernama Cikoneng. Kampung tersebut menurut cerita, khusus diberikan ke suku Lampung oleh Kesultanan Banten. Bahkan, prinsip kalau Banten diserang Lampung di depan. “Pun sebaliknya, kalau Lampung diserang, Banten yang akan di depan,” terang Hairudin.

Layaknya tempat lain yang cukup tua, Kaliawi pun menyimpan banyak legenda. Sebuah pohon beringin tua, dulu tumbuh di tengah-tengah kampung. Usia pohon itu telah mencapai ratusan tahun. Diameter Batangnya sekitar lima rangkulan orang dewasa. Akar dahan beringin itu menjurlur sampai menyentuh tanah. Daunnya lebat dan rimbun. Tepat di bawah beringin itu terdapat dua makam; Makam Tubagus Maqmum, seorang ulama dari Banten dan Haji Cecep Supriyadi, seorang ulama asal Cirebon. Tak ada satu orang yang tahu sejak kapan makam itu ada di sana. Hanya sebuah nisan dari kayu tanpa tahun yang menjadi petunjuk satu-satunya petunjuk. Nisan itu diyakini sebagai kuburan Haji Cecep Supriyadi dari Cirebon. Sementara, makam Tubagus Maqmum tak diketahui jelas keberadaannya.

Dulu daerah di sekitar beringin itu dikenal sebagai tempat yang angker. Pernah ada seseorang yang mencoba menebang beringin tua itu. Tapi entah mengapa, ia langsung kesurupan dan akhirnya jatuh sakit. Setelah kejadian itu, Hasan bertutur, ada lagi seorang pendatang bernama Hamdani mencoba membuat sumur di sekitar lokasi makam. Ketika mata air dari sumur keluar. Hamdani pun mengalami nasib serupa. Ia kesurupan di dalam sumur, “Eh kamu ini, kenapa rumah saya dirusak,” Hasan menirukan kata-kata Hamdani yang tengah kesurupan.

Kedua kejadian tersebut menggemparkan warga Kaliawi. Sejak itu, tak ada yang berani menebang beringin dan mengusik kawasan tersebut. Meski beberapa warga bersedia membayar Rp300, sebuah harga yang cukup mahal pada saat itu. Uang itu akan diberikan kepada siapa saja yang sanggup menebang beringin. Sampai akhirny, pada tahun 1982, Pak Ali (72 tahun), warga asal Bogor yang sudah datang ke Kaliawi sejak tahun 1952 menyatakan sanggup untuk menebang beringin tua itu. Sebelum saya menebang pohon itu, saya puasa dulu beberapa hari, baru kemudian saya menebangnya,” Ali bercerita. Sejak saat itu, nama beringin dijadikan nama sebuah gang yang tak jauh dari tempat beringin itu berdiri.

Ali yangsaat ini menjadi kuncen makam, dan tinggal di rumah yang berada di belakang makam mengaku pernah beberapa kali berjumpa dengan roh Haji Cecep Supriyadi, “Haji Cecep pernah mengatakan bahwa ia adalah salah satu murid dari Syarif Hidayatullah atau yang bias dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Ke Lampung untuk menyebarkan agama. Ia meninggal saat hendak mendirikan mesjid dan pesantren,” Ali menceritakan perjumpaannya dengan Haji Cecep yang sudah lama meninggal.

Banyak orang dari berbagai daerah, semisal Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten datang berziarah ke makam. Ali tak pernah tahun dari mana orang-orang tersebut mendapat informasi tentang keberadaan makam Haji Cecep yang dikramatkan itu. Ali pun menceritakan, banyak orang yang kehilangan barang seperti mobil, motor, komputer dan lain sebagainya datang kepadanya untuk meminta jawaban dari Haji Cecep soal keberadaan barang mereka yang hilang tersebut. Dan, dengan senang hati ia mengantarkan orang-orang tersebut untuk menanyakan langsung kepada Haji Cecep di ruang khusus di salah satu kamar di rumahnya. Di kamar itulah, Haji Cecep akan menjawab semua pertanyaan lewat tulisan. Prakteknya mirip dengan kita main jelangkung, “Alhamdulillah, sudah banyak yang berhasil kembali menemukan barangnya yang hilang,” kata Ali bangga. Anehnya, syarat yang tak boleh dilanggar, ketika barang itu ditemukan, si pencuri harus diberi uang sekadarnya. “Tak boleh sedikit pun disakiti,” jelas Ali.

Seorang ustad bernama Abdul Karim satu-satunya orang yang dulu berani menunggu daerah Beringin sebelum ditebang Pak Ali. Sang Ustad mempunyai anak bernama Mat Suari. Anaknya itu dikenal memiliki kemampuan mengobati berbagai jenis penyakit. Katanya, entah benar atau tidak, Suari mendapatkan ilmu dari daerah angker tersebut.

Selain beringin, ada satu lagi tempat di Kaliawi yang memiliki banyak cerita. Tempat adalah sebuah bukit yang biasa disebut warga sebutan Gunung Kucing. Saat perang kemerdekaan, bukit itu merupakan tempat berkumpulnya para pejuang republik yang dipimpin seorang pejuang bernama Kapten Dulhak. Sejak dulu hingga kini, setiap tanggal 17 Agustus, di atas bukit tersebut selalu ditancapkan sebuah bendera Merah Putih, sebagai tanda penghormatan penduduk atas jasa para pahlawan pejuang kemerdekaan.

Ketika pemberontakan G 30 S/PKI meletus pada tahun 1965, warga Kaliawi yang beretnis Tionghoa banyak yang terusir dari Kaliawi. Mereka dicurigai ikut mendanai pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) tersebut. Apalagi, saat itu PKI dikenal dekat dengan pemerintah Republik Rakyat China. Negara leluhur mereka. Banyak asset milik warga keturunan yang disita militer Indonesia. Berapa lama, mereka tidak berani masuk ke Kaliawi. Segala aktivitas yang biasa dilakukan etnis Tionghoa sebelum terjadi pemberontakan pun pada mati. Termasuk aktivitas pendidikan di sekolah yang telah dibangun khusu untuk etnis Tionghoa. Gedung sekolah Tionghoa tersebut merupakan aset yang disita militer. Sejak saat itu, sekolah berada di bawah kendali militer, “Kepala sekolahnya saja berasal dari Angkatan Darat,” ujar Hasan.

Militer kemudian menyerahkan gedung itu kepada pemerintah. Sampai akhirnya pemerintah menjadikan gedung tersebut sebagai Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan di bawah naungan Departemen Agama RI.

Drs Said Jamal, Dosen Fakultas Syariah IAIN Raden Intan menceritakan, tiga fakultas sempat dibuka di sana, yaitu fakultas Tarbiyah, Syariah dan Usuluddin. Masing-masing jurusan terdiri dari sekitar 50-an mahasiswa. Uniknya, semua aktivitas pendidikan saat itu masih ditangani oleh militer. Belum ada dosen yang khusus mengajar di sana.

Pada tahun 1978, IAIN dipindahkan ke Labuhan Ratu. Gedung yang sebelumnya digunakan sebagai kampus IAIN itu pun berubah fungsi menjadi gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Taman Kanak-kanak (TK) Raden Intan. Dan sekarang, gedung itu telah beralih fungsi menjadi rumah tinggal dosen dan pengawai IAIN Raden Intan.

Wajah sebagian besar gedung yang dulu berupa ruang kelas telah lama berubah menjadi bedeng. Hampir mirip dengan kos-kos-an. Sebelas kepala keluarga kini tinggal di sana. Said adalah salah satu penghuni gedung tersebut. Sudah 12 tahun, alumni pertama IAIN Raden Intan itu tingal di sana bersama istri dan anak-anaknya.

Meski demikian, beberapa sisi gedung tua itu masih menyisahkan wajah sebagai bekas gedung sekolah. Di pojok gedung sebuah ruang belajar dibiarkan kosong melompong. Terbengkalai. Dua gambar kartun Donald Duck dan Mickey Mouse masih terlihat menghiasi dinding. Warnanya kusam. Beberapa sisi dinding terlihat kotor akibat percikan air hutan dari atap yang lama dibiarkan bocor. Plafon pun sudah lapuk dimakan waktu. Di halaman belakang, beberapa petak bangunan bekas kelas dibiarkan tanpa atap, daun pintu dan jendela. Robohnya bekas gedung sekolah tampah hanya persoalan waktu saja.

******

Seiring perjalanan jaman, wajah Kaliawi pun kini banyak berubah. Air sungai yang membelah kampung yang dulunya putih jernih kini berubah menjadi hitam pekat bak cairan oli. Sungai itu dipenuhi berbagai jenis sampah. Hal tersebut membuat aliran tak lagi terlihat, mati. Lebar dan kedalaman sungai telah jauh berkurang akibat timbunan sampah.

Padahal dulu, “Masya Allah, jangankan untuk mandi, air kali itu bahkan dapat diminum,” kenang Hasan. Air limbah dari pemukiman penduduk yang cukup padat hampir semuanya diarahkan ke sungai itu. Kini, sungai itu tak ubahnya got raksasa yang membelah kampung. Mengeluarkan aroma busuk menusuk hidung, “Sungai tersebut lebih pantas disebut comberan,” sesal Hasan.

Kepada penduduk Kaliawi memang terbilang tinggi. Menurut data monografi tahun 2002, jumlah penduduk Kaliawi mencapai 13 ribu jiwa yang terdiri dari 2.425 Kepala Keluarga. Jumlah penduduk tersebut menyebar dalam 13 Rukun Warga (RW) dan 37 Rukun Tetangga (RT). Sementara, luas wilayah Kelurahan Kaliawi saat ini tercatat hanya 57 hektar.

Dr Damsyik Ujang, Kepala Kelurahan Kaliawi mengakui kalau kampungnya memang sudah sangat padat. Kepadatan penduduk Kaliawi ini bisa terlihat dari wajah pemukiman di sana. Rumah-rumah penduduk berdiri berhimpitan. Paling-paling dipisahkan oleh gang atau lorong kecil yang lebih mirip dengan ‘Lorong Tikus’. Bahkan, tak sedikit antara satu rumah dengan yang lain bersambung dalam satu dinding. Akan sulit menemukan rumah warga Kaliawi yang memiliki halaman yang luas. Sebagian besar pintu depan rumah mereka langsung berhadapan dengan bibir jalan atau gang. Wajar kalau banyak anak-anak Kaliawi terlihat bermain bola disela-sela gang dan lorong kampung mereka yang sempit. Tak ada lagi tempat untuk mereka bermain bola. Boro-boro untuk lapangan sepakbola, untuk sekedar mencari tempat parkir kendaraan pun susahnya minta ampun.

Sama halnya perkampungan lain yang berada di tengah-tengah keramaian kota di Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan, kesan semrawut dan kumuh memang tak bisa ditutupi. terlebih di salah satu sudut Kaliawi yang biasa disebut warga sebagai kawasan “Kidul”. Penghuni daerah itu sebagian besar berprofesi sebagai buruh kasar. Sampah-sampah berceceran di sepanjang jalan, gang dan lorong. Apalagi kalau kita melewati belakang Gedung SMEA Trisakti. Timbunan sampah yang menggunung langsung menyergap mata dan bau busuk pun langsung menyergap hidung. Kaliawi memang tak memiliki tempat pembuangan sampah. Tempat sampah tak resmi yang ada saat ini pun lokasi tepat di samping kantor kelurahan. Anehnya, warga bagai tak terlalu terganggu oleh pemandangan dan aroma busuk dari sampah tersebut.

Banyak anak-anak yang bertelanjang dada tetap ceria bermain di tempat-tempat kotor itu. Sudah terbiasa barangkali. Kesadaran untuk hidup sehat bagi sebagian warga memang masih rendah. Soal penyediaan jamban (WC), misalnya, “Masih ada keluarga yang tidak mempunyai jamban. Jadi, masih ada warga yang buang air besar tanpa jamban,” ungkap Hasan jujur.

Rendahnya kesadaran warga untuk hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan menurut Hairudin, banyak disebabkan sebagian besar penghuni kawasan tersebut adalah pendatang. “Mereka tak mempunyai lahan sendiri. Mereka umumnya hidup menumpang. Sementara yang punya tanah tidak mengizinkan mereka membuat jamban,” kata Hairudin.

Buruknya kondisi lingkungan dan rendahnya kesadaran masyarakat akan kesehatan ini pernah menyebabkan menyebarnyawabah penyakit cacar dan muntaber di Kaliawi. Sebagai Kepala Kelurahan, Damsyik mengaku sudah berusaha melakukan penyadaran soal pola hidup sehat kepada warganya. Bentuk penyadaran itu, menurutnya, dilakukan dengan cara mengelar Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebulan sekali. Dokter dari Puskesmas setempat stand by setiap posyandun digelar. Tapi, Damsyik mengaku kalau upayanya untuk mengajak warga berpola hidup sehat itu masih banyak menemui hambatan. Cukup berat, memang.

Untungnya, tokoh masyarakat, adat dan agama berperan dalam melakukan pendekatan kepada warga. “Pengaruh mereka cukup besar,” terang Damsyik. Dulu, hampir 80 persen warga kawasan tersebut tak memiliki jamban. Kondisi ini mulai berubah sejak kelurahan terus melakukan penyuluhan. Minimal 5 Kepala keluarga memiliki satu jamban.

Angka perkawinan usia muda di Kaliawi juga terbilang tinggi. Budaya Kawin Gantung yang masih berjalan menjadi salah astu pemicunya. Dalam budaya tersebut, seseorang bocah perempuan yang belum cukup umur sudah dinikahkan dengan seorang laki-laki yang biasanya hasil pilihan orang tua. Tujuannya, mengikat si perempuan agar tak diambil orang lain. Sebelum perempuan dianggap dewasa, pengantin laki-laki dan perempuan hidup terpisah di rumah orang tua masing-masing. Begitu sang pengantin sudah menginjak usia belasan tahun, usia yang dinilai sudah cukup dewasa, mereka dapat hidup bersama layaknya suami istri. “Tradisi kawin gantung, dibawa oleh warga dari jawa,” ungkap Hasan. Tingkat pendidikan yang rendah kian menyuburkan praktik kawin gantung.

******

Warga Kaliawi yang multi etnik ternyata tidak menghalangi kekompakan antar warga. Di mata warga kampung lain, warga Kaliawi justru dikenal sangat kompak. Bagi penduduknya, ada semacam kebanggaan menjadi warga Kaliawi. Terlebih lagi jika Kaliawi diganggu warga dari kampung lain. Bisa dipastikan, secara otomatis hampir seluruh warga mulai dari yang muda sampai yang tua bergabung membela kampungnya. Kenyataan ini membuat Kaliawi disegani kampung lain.

Apalagi, sebagai kampung yang mayoritas penduduknya dari Banten. Kaliawi dikenal memiliki banyak jawara. Sebutan bagi jawara tersebut, saat ini berubah menjadi preman. Beberapa jawara dari Kaliawi yang dikenal sebagai tokoh yang malang melintang di dunia hitam adalah Medi Kalong.

Sepak terjang jawara yang tak diketahui rimbanya ini pernah menggemparkan warga Kota Bandarlampung. Banyak preman Kaliawi yang menjadi mandor di pasar-pasar di Bandarlampung. Arif, salah seorang pemuda Kaliawi mengaku, kalau banyak preman berasal dari kampungnya. “Kebanyakan mereka bekerja sebagai centeng atau penjaga pasar,” terangnya.

Sejak tahun 60 dan 70-an, preman Kaliawi sudah menguasai sebagian besar wilayah pasar di Bandarlampung. “Gang Senen” menjadi markas besar para preman Kaliawi. Umumnya, para preman tersebut dari etnis Lampung dan Banten. Mereka menyatu dan mangkal di sana. Jawara yang terkenal kala itu adalah Ubay dan Zakaria.

Gang Senen, memang menjadi salah satu tempat yang terkenal di Kaliawi. Nama Senen, diambil dari nama seorang tukang cukur yang membuka salon di salah satu sudut gang. Meski salon tersebut sudah menghilang, nama Gang Senen sudah terlanjur terkenal. Pak Senen yang legendaris itu kabarnya masih hidup sampai sekarang. Tapi entah di mana.

Hairudin mengaku, preman Kaliawi memang terkenal di banyak tempat. Tapi, katanya, hal itu merupakan sisi hitam sejarah Kaliawi yang kini sudah berubah, “Kini sudah banyak generasi baru,” terangnya. Perubahan menepis kisah kelam Kaliawi tidak terlepas dari peran para kyai dan ulama. Kaliawi kini relatif aman. Tindak kejahatan, lebih banyak dilakukan orang yang mengatasnamakan Kaliawi.

Meski demikian, sejarah kema Kaliawi yang dikatakan Hairudin sampai kini belum semuanya hilang. Sikap preman tersebut bisa terlihat jika Kaliawi bentrok dengan warga kampung sebelah. Beberapa kampung tetangga yang pernah berhadapan dengan Kaliawi seperti Kampung Sawah dan Durian Payung. Tapi, Hairudin mengatakan, justru kekompakan warga membela Kaliawi menunjukan besarnya rasa cinta warganya atas Kaliawi.

Pernah, saat bentrok dengan warga kampung sebelah, seluruh pemuda Kaliawi diminta berkumpul melalui speaker. Mereka berbondong-bondong kumpul. Bahkan, bukan hanya pemuda yang kumpul, namun bapak-bapaknya pun turun tangan meramaikan. Sebagian anak Kaliawi tak mau cari ulah. Tapi, jangan harap bila kampung diganggu, mereka akan mundur.

Di luar persoalan premanisme dan perkalahian, masih ada beberapa sisi kelam Kaliawi. Perjudian, narkoba dan minuman keras sudah lama merebak di Kaliawi. Arif sendiri, saat dimintai komentar tentang kampungnya, tengah asyik menenggak minuman keras bersama kawan-kawannya di kamar. Suara musik mengiringi pesta mereka.

Dengan terus terang ia mengatakan, saat malam menjelang lebaran, selalu banyak judi koprok menggelar perjudian di pinggir jalan kampung. Diakui oleh Damsyik kenyataan tersebut. Namun, Kaliawi memang sering kecolongan peredaran pil koplo. Meski oknum tersebut tak lagi berani mengedar barang haram di Kaliawi, tetapi tetap saja mereka menjual ke luar. Pernah, seseorang pengedar putaw tertangkap tim Buru Sergap Poltabes Bandarlampung. Oknum tersebut asli orang Kaliawi. “Ia sudah diamankan,” kata Damsyik.

Meski demikian, Amin Agen, Kepala Bidang Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Kelurahan Kaliawi mengatakan, tingkat kejahatan di Kaliawi lebih disebabkan pengangguran dan rendahnya tingkat pendidikan. Banyak pula kejahatan yang dilakukan warga dari tempat lain yang mengatasnamakan Kaliawi.

Satu hal yang aneh. Selain dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak Jawara dan Preman, di Kaliawi pun banyak kyai dan ulama. Mulai dari ulama, jawara, copet, maling dan sebagainya tumplek blek di Kaliawi. Ulama dan kyai punya peran besar dalam membimbing masyarakat. Beberapa pemuda juga disibukkan dengan kegiatan positif di organisasi kepemudaan kampung.

Aktivitas keagamaan terus berjalan. Sanwari, seorang ustad yang tinggal di Kaliawi menjelaskan, minimal seminggu sekali digelar pengajian di kampungnya. Organisasi Remaja Islam Masjid (Risma) berjalan dengan baik. Anggota mencapai tiga puluh remaja. Mereka rajin menggelar majelis ta’lim di beberapa masjid . Setiap ada kematian, masyarakat juga secara spontan bahu membahu membantu meringankan beban keluarga yang terkena musibah.

Selain Risma, Forum Pemuda Pemudi Kaliawi juga dikenal sebagai wadah berorganisasi di tiap lingkungan. Organisasi tersebut dinilai telah banyak memberikan kontribusi positif bagi warga. Seperti membuka lowongan kerja bagi anggotanya, “Lewat link yang dibangun dengan perusahaan, tak sedikit pemuda Kaliawi yang berhasil mendapat kerja.

Dalam soal keagamaan, sebagian besar warga Kaliawi bisa dibilang sebagai warga yang taat beragama. Para pemuda Kaliawi yang nakal, tak sedikit mereka yang rajin ibadah. Sebuah pengalaman mengelikan pernah dialami Amin. Pernah, ada seorang warga yang tertangkap mencuri tape speaker mesjid. Meski sudah ada barang bukti, pencuri tak juga mau mengaku kalau dirinya dituduh telah mencuri tape speaker. Amin lalu memaksanya untuk bersumpah atas nama Allah SWT. Tapi, pencuri tersebut tak juga mau mengakui kesalahannya. Akhirnya, Amin lalu mengatakan pada lelaki tersebut, jika kamu tak mau mengaku, “Saya akan bacain surat Al Fatihah 100 kali, biar kamu mampus,” gertakannya. Rupanya gertakannya manjur. Si pencuri ketakutan. Tanpa dipaksa ia mengakui kalau sudah mencuri tape speaker mesjid yang hilang. Barang tersebut akhirnya dikembalikannya. Tak kalah dengan warga yang beragama Islam, Warga Kaliawi dari Etnis Tionghoa yang beragama Budha pun punya organisai keagamaan. Mereka mendirikan Majelis Budha yang mengajarkan pemeluknya untuk bersikap toleran, gotong royong, serta hidup berdampingan. Warga Tionghoa menyatu dengan warga dari agama lain. Jika Ramadhan tiba, Remaja Kaliawi Etnis Tionghoa sering membangunkan untuk makan sahur. Pun pada saat pembangunan mesjid. Mereka kadang memberikan bantuan moral dan materi yang jumlahnya tidak sedikit.

Kaliawi dengan segala warnanya, sejatinya sama dengan kampung lain. Preman, ulama, solidaritas dan seluruh watak serta adat istiadat adalah cermin jujur Kaliawi yang plural. Kampung tersebut tampil ditengah Kota Bandarlampung dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tapi, di tengah perjalanan, Kaliawi rentan dengan pengaruh negatif pesatnya kemajuan kota. Kerasnya kehidupan kota yang tak sebanding dengan pembinaan mental manusianya, seringkali menghasilkan perubahan yang tidak diinginkan. “Sebagian anak muda Kaliawi kini tak lagi menghargai orang tua,” sesal Hairudin. Bukan tanpa sebab. Selain karena kehidupan Kaliawi bersentuhan langsung dengan dasyat kehidupan kota Bandarlampung, kesadaran pendidikan bagi sebagian besar warganya menjadi penyebab timbulnya persoalan. Terlebih bagi keluarga di Kaliawi yang umumnya berada di tingkat ekonomi ke bawah. Jangankan untuk menyekolahkan anaknya sampai bangku kuliah, untuk makan sehari saja, mereka sudah susah. Tapi bagaimana pun, itulah Kaliawi.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s