Eksekusi Tanpa Vonis Mati

SEBUAH mobil kijang kapsul biru tua berhenti tepat di sebuah rumah di perempatan jalan Desa Sekampung Udik, Lampung Timur. Mobil itu datang dari arah Kota Bandarlampung. Sekitar satu jam perjalanan menuju desa Sekampung. Setelah merapat ke halaman, pintu mobil pun terbuka. Seorang lelaki berusia sekitar 50 tahun, langsung turun dari mobil tersebut.

Rambutnya cepak ala aparat. Kumis dan janggutnya pun dipangkas habis. Ia tampil tak begitu rapi. Memakai kemeja biru muda dengan celana jeans berwarna hitam yang mulai pudar pekatnya dimakan usia. Ujung kemejanya tak dimasukkan. Dibiarkan menggantung di bawah perut. Ia tampil lepas dengan gaya layaknya anak muda.

Kedatangannya ditemani dua orang lelaki berusia muda. Sekitar 24 tahun usia keduanya. Penampilannya lebih rapi. Yang satu, lelaki bertubuk kekar, memakai kemeja warna kulit telur, lengkap dengan dasi coklatnya. Sedang yang satu lagi, agak kurus, berkemeja putih, dengan jas warna hitamnya. Kedua lelaki itu laiknya eksekutif muda.

Di halaman rumah tua dengan gaya khas arsitektur Lampung itu, telah menunggu beberapa pasang mata. Penampilan para penjamu amat bersahaja. Orang dusun yang tampil apa adanya. Abu Bakar, 60 tahun langsung menyapa kedatangan ketiga lelaki tersebut. “Api kabar nikuw, (apa kabar kamu, red),” sapanya kepada lelaki tua yang baru turun dari mobilnya. Wawai (Baik, red), jawabnya singkat.

Tak lupa, Abu beserta lelaki lainnya menyalami kedua lelaki muda yang bersamanya. Seuntas senyum dilepas mereka menyambut kedatangannya. Sudah sekitar satu jam, tuan rumah telah menunggu. “Hadu sejam, kham nugguw nikuw,” ungkap Abu kepada Syafrin. Yang disapa hanya menjawab, maaf agak terlambat, sambil langsung ngeloyor masuk ke dalam rumah.

Syafrin Sulaiman, demikian nama lelaki tua yang datang dari Tanjung Karang Bandarlampung tersebut. Ia disambut bak seorang raja. Makanan dan minuman langsung disuguhkan tanpa ada perintah. Ia begitu disegani. Yang tua, maupun muda memberikan salam hormat padanya. “Beginilah, kalau saya pulang kampung,” paparnya.

Di rumah warisan Syamsudin dan Zubaidah, orang tuanya, Syafrin pun istirahat sejenak. Merebakan tubuh yang lemas di atas empuknya kursi sofa. Rumah itu agak tak terurus. Dinding bercat biru muda sudah mulai memudar. Di lapisan dinding yang sudah mulai retak itu, menempel beberapa foto tua tak berwarna. Tekstur sosok dalam photo itu agak memudar. Bingkai kayunya pun sudah pada lapuk di makan rayap.

Ketika mata menerawang ke atas, putih cat plafon rumah itu tak lagi bercahaya. Di sekitar plafon, ditemukan bercak berwarna hitam. Seperti bekas air yang masuk dari celah genteng yang bocor. Ada pula yang sudah pada jebol.

Saat menoleh ke sebuah kamar, ada plang dari papan berukuran sekitar 50×60 cm yang bertuliskan, “Lembaga Bantuan Hukum Warga Lampung Timur”. Di kamar itu juga ditemukan dua perangkat komputer yang kondisinya tak lagi bisa dipakai. Rupanya, rumah tersebut kerap menjadi “markas besar” warga sekitar. Di rumah tua itu, sering menjadi tempat perkumpulan. Entah sekedar untuk berbicang-bincang ringan, atau menjadi tempat musyawarah adat dan perbincangan isu seputar situasi kondisi desa.

Sekitar pukul 11.00, rumah itu makin ramai dikunjungi warga sekitar. Jumlahnya kurang lebih 30 orang. Umumnya lelaki. Kedatangan mereka, rupanya sesuai dengan rencana pertemuan yang telah disampaikan Syafrin lewat Kautsar, Ketua Yayasan Persatuan Mergo Sekappung Lampung Timur. Satu persatu mereka masuk ke ruang tamu yang menjadi tempat pertemuan. Duduk rapi di atas tikar yang sudah dibentangkan. Tak lama berselang, ruang yang berukuran 4x6m itu pun telah padat oleh warga.

Lalu, digelarlah sebuah perbicaraan serius. Masalah yang dibahas seputar aksi brutal yang dilakukan beberapa oknum Polisi Sektor Sekampung Udik. Dalam pertemuan itu, hadir Muhammad Yusuf, Abdul Rahman, Adam dan Sadikin. Keempatnya adalah warga sekitar.

Namun, ada yang janggal dari mereka. Wajah mereka terlihat pucat. Seperti tengah mengidap suatu penyakit. Mereka pun tak banyak bicara. Hanya menjawab beberapa patah kata saja, ketika ditanya seputar tragedi kekerasan yang dilakukan oknum polisi Polsek Sekampung Udik, pada Selasa, 28 Oktober 2004 lalu.

Yusuf, lelaki kurus berambut plontos itu hingga kini masih terlihat depresi. Nada bicaranya gemetar. Sesekali ia memegang kepala. Pening tiada tara. Yusuf pun tak mampu berjalan karena masih sering sempoyongan. Di kepalanya masih ada bercak darah yang membeku. Seminggu ini, waktu ia habiskan untuk beristirahat dan berobat.

Abdul Rahman, Muhammad Yusuf, Adam dan Sadikin adalah korban kebrutalan oknum polsek saat melakukan pengrebekan terhadap tiga tersangka curanmor yaitu Yunus Sulaiman, Chairul Saleh dan Abu Bakar, di Desa Sekampung Udik, pada Selasa malam itu. Dari obrolan warga tersebut, disimpulkan, lantaran letih tak berhasil menemukan pelaku, polisi jadi gelap mata kepada mereka. Polisi menduga jika keempatnya turut menyembunyikan pelaku. Lalu, polisi pun semaunya main bak-bik bug.

Namun, Adam mengaku tidak ada untungnya menyembunyikan tersangka. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah berkali-kali menyakinkan polisi jika dirinya tidak tahu sama sekali seseorang yang bernama Abu. “Ada hubungan keluarga saja tidak,” terangnya. Tapi, polisi tidak percaya pengakuan Adam. Sambil diseret ke luar rumah, Adam terus dipaksa menyerahkan Abu.

Tanpa surat izin penangkapan, polisi juga memaksa mengacak-acak isi rumahnya untuk memeriksa setiap sudut ruangan. Tak juga ketemu, polisi melakukan pengrusakan rumah Adam. Pintu belakang rumahnya hancur didobrak paksa polisi. Bahkan, barang berharga berupa senjata kuno miliknya raib digondol polisi. “Senjata itu peninggalan nenek saya, kenapa diambil juga,” akui Adam.

Ulah brutal polisi membuat geram beberapa sanak saudara Adam. Ada keinginan melawan. Tapi, di bawah ancaman pistol, nyali mereka meregang. “Saya tembak nanti kalian,” kata Adam menirukan perkataan polisi. Ancaman itu membuat Aisah (45 tahun), isteri Adam jatuh pingsan. Aisah jatuh lantaran tak kuasa melihat suaminya ditodong pistol oleh polisi. Sampai sekarang, Aisah masih terlihat ketakutan.

Agar kebrutalan polisi tak berlanjut, Adam teringat jika ada yang bernama Abu (tersangka) di sekitar kampungnya. Dengan langkah terpaksa, ia lalu mengantar polisi ke rumah Abu. Saat tiba di rumah Abu, polisi semakin berang karena tidak menemukan tersangka. “Abu memang pagi itu sedang tidak di rumahnya,” jelas M Yusuf, kakak Abu meyakinkan polisi.

Tapi, polisi tak juga percaya. Kali ini, Yusuf yang menjadi korban. Ia diancam akan ditembak jika tidak memberikan informasi seputar keberadaan adiknya. Di bawah ancaman, Yusuf bersikukuh menyakinkan polisi bahwa Abu tidak di rumah. “Saya tidak tahu kemana Abu pagi itu,” ungkapnya.

Polisi mengira Yusuf menyembunyikan Abu. “Jangan coba-coba menyembunyikan adikmu,” papar Yusuf menirukan pernyataan polisi. Kesal tak jua menemukan Abu, seorang polisi tiba-tiba memukul kepala Yusuf dengan gagang pistol. Sekejab, darah pun mengalir dari kepala membasahi bajunya. Yusuf sempoyongan. “Hingga sekarang, saya masih pening, tak kuat berjalan,” keluhnya.

Dalam kondisi kritis, Polisi masih saja memaksa sambil mengancam Yusuf untuk berjalan mencari Abu. Dengan langkah gontai, pagi itu, Yusuf berjalan temani polisi menemukan Abu. Yusuf mengira Abu ada di rumah keluarga Hasan, yang kebetulan sedang mengelar represi pernikahan anaknya. Bagi pemuda pemudi sekitar, dua hari menjelang represi, diadakan lek-lekan (begadang). “Siapa tahu, di tempat tersebut ada Abu,” Yusuf mengira. Selain mencederai, Yusuf mengaku jika ia sempat ditahan selama tujuh jam di tahanan Polsek Sekampung Udik. “Kenapa saya ditahan, saya kan tidak bersalah,” sesalnya.

Saat di tengah pemuda yang tengah lek-lekan, lagi-lagi polisi tidak berhasil menemukan Abu. Polisi pun kembali berbuat ulah. Kali ini, yang ketiban sial adalah Abdur Rahman. Oleh polisi, bujang berusia 28 tahun tersebut diduga Abu. “Memang saya biasa dipanggil Abu, tapi saya tidak mencuri motor seperti dituduhkan polisi,” katanya menyakinkan polisi.

Tapi, pengakuan tersebut tak juga mampu menurunkan tensi amarah polisi. Abdur justru dihadiahi tonjokan dari seorang polisi ke arah bibirnya. Akibatnya, bibirnya jontor dan gigi depannya copot. “Gigi saya copot karena ditinju polisi,” kata Abdur sambil menunjukkan gigi depannya yang ompong. Namun, tak lama berselang, entah darimana sumbernya, polisi berhasil menangkap Abu tersangka sebenarnya yang sedang tidur di lokasi yang tak jauh dari tempat lek-lekan tersebut.

Warga sekitar tak mengira jika Abu terlibat dalam aksi curamor, “Dia anak muda belia, tidak nakal” terang Kautsar. Dihadapan polisi, Abu pun ‘nyanyi’ jika pencurian motor juga dilakukannya bersama Yunus dan Chairul. Dari pengakuan tersebut, polisi berhasil menangkap tiga pelaku curanmor tersebut. Ketiganya dicokok dari rumahnya masing-masing.

Namun, warga sekitar berang lantaran mendapat kabar sekitar pukul 11.00 WIB, jika ketiga tersangka curanmor tersebut ditembak polisi. Emosi warga semakin meletup, ketika mendapat informasi Yunus tewas. Dadanya diterjang timah panas. Seperti biasa, polisi berdalih, ketiganya terpaksa ditembak karena berusaha melarikan diri.

Warga sekitar tidak percaya dalih polisi tersebut. Polisi diniali telah menambak ketiga tersangka dengan sengaja. “Meski mereka tersangka, tapi tidak asal main dor dong,” sesal Syafrin. Ketiganya juga bukan penjahat kelas berat. “Mereka anak baru besar, mungkin hanya sekedar iseng,” katanya.

Dari pengakuan Chairul, polisi menembak mereka dengan cara sengaja. Namun, Chairul yang dijumpai tergelatak tak berdaya di ruang Gelatik, Rumah Sakit Abdoel Moeloek, Bandar Lampung, mengatakan tidak mengetahui persis oknum polisi yang melakukan penembakan.

Sebelum eksekusi dilaksanakan, kedua mata ketiganya ditutup dengan kain oleh polisi.

Mereka ditembak di sebuah lokasi yang jauh dari keramaian, “Yang jelas, lokasinya sepi jauh dari keramaian,” Chairul menduga.

Bujang tanggung bertubuh kurus tersebut, mengungkap jika mereka sudah berkali-kali “sembah sujud” ke polisi agar tak menembak. Namun, polisi tak juga menghiraukan. Justru polisi menghardiknya dengan makian, “Kalian telah maling motor dinas polisi,” papar Chairul menirukan ucapan seorang polisi.

Chairul ingat betul ada sekitar enam polisi yang mengiringi proses eksekusi. Dua orang polisi yang ia kenal, yaitu Bripka Asnawi dan Briptu Anshori. Chairul ingat betul akan cacian Anshori, “Kamu tuh jatah saya,” katanya. Sebelum ditembak, Anshori berkata “Kamu ada pesan terakhir sebelum ditembak,” tanya Anshori seperti yang ditirukan Chairul. Anehnya lagi, Anshori masih sempat menanyakan togel kepada Chairul. “Sebelum mati, kira-kira berapa nomor togel yang keluar,” kata Anshori. Chairul pun menjawab, “Nomor 23 pak, pasaran togel minggu ini,” katanya.

Sekitar pukul 07.00 WIB, eksekusi pun dimulai. Ketiga ditembak di sebuah tempat yang jauh dari keramian. Mereka digotong dengan menggunakan mobil operasi Polsek Sekampung Udik.

Dor, dor, dor. Suara letusan pistol memecah keheningan. Tiga peluru dimuntahkan. Masing-masing pelaku curanmor tersebut dapat jatah satu peluru. Tak ada yang tewas. “Kok kalian tak mati ya,” kata Chairul menirukan suara seorang polisi. Polisi merasa tak puas. Lalu, Kedua mata ketiga pelaku tersebut ditutup. Mereka diperintahkan untuk tidur telengkup berjejer. Satu meter jarak antar mereka. Laiknya regu penembak yang akan mengeksekusi terdakwa hukuman mati, satu persatu timah panas diletupkan ke arah punggung dan kaki para tersangka.

Chairul mendapat jatah dua tembakan. Satu proyektil menyarang punggung kanan yang tembus ke dada dan kaki kirinya. Satu lagi, proyektil menyarang di kaki kirinya. “Awalnya saya ditembak kaki kiri, lalu punggung dada kanan hingga tembus,” kata Chairul lemas.

Ulah sadis para polisi tersebut membuat dirinya depresi. Kondisinya sangat kritis. Untuk mengerakkan sedikit tubuhnya saja, ia tak sanggup.

Abu Bakar lebih parah lagi. Tiga proyektil menyarang di kedua kakinya. Abu yang dijumpai di tahanan Polres Lampung Timur, sama sekali tidak bisa berjalan. Kaki kirinya terlihat memar lantaran proyektil masih menyarang di kakinya. Tak ada tindakan medis sedikit pun dari polisi. Sudah ditembak, langsung dijebloskan ke tahanan. Namun, keduanya masih beruntung. Nasib tragis dialami Yunus. Ia tewas lantaran dadanya tertembus timah panas.

Menurut pengakuan Chairul, Yunus diperkirakan tewas di tempat, karena usai penembakan, tidak terdengar suara jerit kesakitan dari mulut Yunus.

Di dada lelaki yang baru satu bulan menikah tersebut ditemukan dua lobang peluru. Lantaran ulah jahanam polisi, Jumilah (16 tahun), isteri Yunus terpaksa menjadi janda muda. Saat dijumpai dirumahnya, Jumilah tak banyak komentar. Ia masih depresi atas kematian suaminya. Ia ketakutan, tak mau makan dan mengingat terus suaminya.

Usai melampiaskan kekesalannya, polisi lalu mengirim Chairul dan mayat Yunus ke Rumah Sakit Ahmad Yani, Kotamadya Metro. Lalu, polisi langsung tancap gas tinggalkan keduanya. Sedangkan Abu langsung dijebloskan ke Tahanan Polres Lampung Timur. Tidak ada perlakuan medis yang dilakukan pihak kepolisian untuk mencabut tiga proyektil yang menyarang di kedua kakinya.

Imam Rahayu, orang tua Chairul, berang mendengar penuturan aksi sadis polisi dari mulut anaknya, “Emang, polisi tuh malaikat pencabut nyawa, mau mematikan anak saya” sesalnya. Imam tak menerima perlakukan semena-mena oknum polisi tersebut. “Meski tersangka, jangan main tembak dong,” katanya.

 

Lagian, lanjut Imam, ia justru menyerahkan Chairul secara baik-baik ke pihak polisi.

Imam tahu kalau anaknya salah dan harus diproses secara hukum, “Tapi, bukan untuk ditembak. Kalau tahu begitu, lebih baik saya sembunyikan anak saya,” katanya. Kepada Mantoni B Tihang, Kapolsek Sekampung Udik, Imam berharap anaknya jangan disiksa. Tapi, Manthoni cuma jawab, “Oh, mapas (walah-walah), dia (Chairul, red) itu anak kamu, tapi dia maling,” jawabnya. Lagian, Chairul yang masih terlihat shock mengaku sudah memohon agar jangan ditembak. Ia berjanji tidak akan melakukannya mencuri motor lagi. Lelaki yang baru saja menyelesaikan bangku SMU tersebut mengaku hanya ikut-ikutan saja.

Menurutnya, otak aksi pencurian adalah Yunus. Ialah yang membawa kunci T untuk menghidupkan motor. Motor yang dicuri berada di sebuah rumah, tak jauh dari PT Indo Miwon.

Ketiganya mengelar aksi dengan mengendari motor Suzuki Bravo, yang disewa dari Yahya, tukang ojek. Saat tiba di kawasan PT Indomiwon, mereka melihat ada motor Suzuki Smash tengah diparkir di depan rumah. Lalu, strategi pun dirancang. Yunus bertugas mengutak-atik kunci kontak motor. Dengan menggunakan kunci T, ia berhasil menyalakan mesin. Dengan cepat, motor curian berhasil dibawa kabur. Motor tersebut dibawa Yunus. Dia juga yang menjual. Chairul mengaku tidak tahu pasti kepada siapa motor curian tersebut dijual. Dari penjualan motor, Chairul kecipratan Rp200 ribu dari Yunus.

Rupanya, motor yang mereka curi adalah motor dinas Polsek Sekampung Udik, yang tengah dikendarai Briptu Mujiono, anggota polsek setempat. Dari situ, polisi polisi naik pitam. Pelaku curanmor sudah keterlaluan, karena nekat gasak motor polisi.

Dari hasil penyelidikan polisi, diketahui identitas ketiga pelaku. Lalu, Selasa pagi, sekitar jam 03.00 WIB, dibawah komando Manthoni B Tihang, tim polisi berpakain preman melakukan pengrebekan. Menyisir setiap sudut kampung yang diperkirakan kerap menjadi tempat mangkal ketiga pelaku. Tapi, operasi polisi berakhir tragis. Warga yang tidak terlibat dalam kasus tersebut, menjadi korban penganiayaan.

Warga sekitar juga tak mau menerima begitu saja tindakan kekerasan dan penembakan terhadap ketiga tersangka. Kautsar menuntut, agar oknum polsek yang terlibat penganiyaan dan penembakan sengaja ditindak secara hukum. “Polisi sudah sangat arogan kepada warga,” sesalnya. Warga menuntut kasus ini ditangani Polda Lampung.

Dari pertemuan yang digelar di rumah Syafrin, warga sepakat untuk menyatroni Andjar Dewantoro, Kapolres Lampung Timur, siang itu juga. Lepas Dzuhur, puluhan warga pun bersiap untuk bertandang ke Polres Lampung Timur. Lima buah mobil mikrolet telah dipersiapkan untuk mengantar rombongan. Sekitar tiga puluh menit perjalanan yang ditempuh dari Desa Sekampung Udik ke Polres Lampung Timur.

Mobil yang mereka tumpangi lalu merengsek ke halaman Polres. Ada sekitar lima bintara polisi nampak berjaga-jaga di pos gerbang Polres. “Selamat siang pak, bisa saya Bantu,” sapa seorang bintara. Syafrin yang memimpin rombongan, lalu menjelaskan ikhwal kedatangan mereka. “Kami ingin ketemu Kapolres,” terangnya kepada bintara. “Maaf, apa tujuan bapak-bapak sekalian,” bintara tersebut membalas. Syafrin menjelaskan, kedatangan rombongan ingin minta kejelasan dari Kapolres untuk menindak tegas oknum Polsek Sekampung Udik atas tindak penganiayaan terhadap warga Sekampung. Mendengar penjelasan tersebut, bintara tersebut berharap, rombongan bersedia menunggu.

Lalu, bintara tersebut masuk ke kantor. Usai menunggu sepuluh menit di luar, bintara tersebut datang kembali menemui warga. Kapolres bersedia menemuai rombongan, asal jangan terlalu ramai, sekitar delapan orang yang diperbolehkan masuk. “Yang lain, diluar saja,” terangnya.

Warga menerima tawaran tersebut. Lalu, masuklah delapan orang ke dalam ruangan. Namun, perwakilan warga tersebut kembali menunggu. Seorang ajudan Kapolres menyarankan warga menunggu di luar ruangan. “Kapolres lagi ada rapat dengan jajaran polisi lain,” kata menjelaskan. Usai menunggu sekitar 30 menit, warga baru bisa ketemu langsung dengan Kapolres diruangannya.

Rupanya, Kapolres sudah mengetahui maksud kedatangan warga. Kasus penganiayaan yang dilakukan oknum Polsek Sekampung Udik, menurut Andjar Dewantoro, tengah ditangani tim provost dari Polda Lampung. “Kita hasil penyidikan nanti,” Andjar menjelaskan kepada warga. Tim provost Polda Lampung turun ke lapangan untuk membuktikan pengaduan puluhan warga Sekampung Udik, tentang ulah brutal yang dilakukan oknum Polsek Sekampung Udik, pada Kamis, 30 September 2004. Dengan menggunakan dua truk, puluhan warga bertandang ke Polda untuk menindak lanjuti kasus tersebut.

Kedatangan warga didampingi tim kuasa dari LBH Nasional Bandarlampung. Sumarsih SH, Kuasa Hukum LBH yang mendampingi warga Sekampung Udik mengatakan, warga melaporkan kasus tentang tindakan kekerasan yang dilakukan oknum Polsek Sekampung Udik. Menurutnya, cara polisi melakukan kekerasan terhadap warga yang tidak bersalah, merupakan tindakan kesewenangan. “Penangkapan pun tidak sesuai prosedur karena tidak dilengkapi dengan surat izin penangkapan,” katanya.

Warga kala itu sangat emosi. Jika tidak ada upaya yang jelas, besar kemungkinan mereka akan bertindak balas dendam terhadap polisi polsek Sekampung Udik. Jika tidak ditindaklanjuti, bukan tidak mustahil aksi sporadis seperti pembakaran polsek yang pernah terjadi di Jabung, Lampung Timur terulang lagi. Syafrin tahu persis emosi warga meletup karena kelakukan oknum aparat polsek. “Kenapa warga yang tidak berdosa jadi korban penganiayaan,” katanya. Kautsar menuntut, jika tindak ada tindakan hukum, warga akan mengelar aksi memblokir jalan.

Andjar memaklumi kemarahan warga. Makanya, pada pertemuan siang itu, ia memerintah Manthoni B Tihang, untuk menghadapnya. Kapolsek Sekampung Udik tersebut dipaksa harus berhadapan dengan warga. Di hadapan atasannya, Manthoni tak terlihat gagah seperti biasanya. Tak terdengar pula suara lantangnya. Ia benar-benar bak terdakwa di pengadilan. Manthoni hanya mengangguk sambil menundukkan kepalanya. Sambil sesekali berkata “Siap Pak” ketika Andjar menanyakan kasus kekerasan anak buahnya yang diadukan warga Sekampung Udik.

Andjar menegaskan, secara institusi jika ditemukan bukti anggota terlibat kesalahan, harus dihukum. Ia berjanji tak akan pandang bulu. Namun, Andjar berharap warga mau menunggu hasil penyidikan yang dilakukan Polda Lampung terhadap oknum Polsek Sekampung Udik. “Warga harus mampu menahan emosi, kita selesaikan kasus ini secara hukum,” paparnya.

Mengenai pengakuan Chairul jika tersangka ditembak sengaja oleh polisi, Andjar belum bisa memastikan kebenarannya. “Kita harus tahu dulu kondisi dan situasi, ada saksi lain tidak,” terangnya. Pengakuan Chairul sebagai saksi tersangka belum bisa menguatkan kebenaran. Sebelumnya, pihak Polsek Sekampung Udik berdalih, ketiga tersangka terpaksa ditembak karena berusaha melarikan diri saat akan ditangkap. Namun, Imam membantah dalih tersebut. Tidak benar jika Chairul coba melarikan diri. Demikian pula pengakuan Abu Bakar, ayah Yunus. “Saat pengrebekan, kami tidak melakukan perlawanan,” katanya. Saat itu, Yunus sedang tidur. Dia saya bangunkan untuk menyerahkan diri ke polisi, “Tidak ada upaya Yunus untuk melarikan diri,” papar Abu.

Mendengar pengakuan warga tersebut, Manthoni sama sekali tak bergemim. Ia hanya diam. Wajahnya terlihat sayu. Di sekitar dahi dan leher mengalir keringat. Namun, tatkala Andjar bertanya kepadanya tentang sangsi hukum yang akan diterima jika terbukti oknum polisi bersalah, Manthoni menjawab, “Saya siap diberikan sangsi pak, jika terbukti salah,” katanya dihadapan Andjar.

M. Yamin Panca Setia

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s