Tregedi Bom Marriott
Yang Pergi Tinggalkan Asa

MENTARI jenuh taburkan cahaya. Kilaunya terhalang awan hitam yang berarak. Si bola api rupanya tengah enggan menghisap embun basahi bumi. Angin sepoi agak malu menyapa rimbunnya pepohonan. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00. Tapi, suasana alam di hari Jum’at, 10 September 2004, masih terlihat gelap.

Di sebuah Desa bernama Ruktiharjo, Lampung Tengah. Desa yang lokasinya mencolok ke arah pelosok, sekitar 50 km dari Kota Bandarlampung. Ratusan warga berjejal datangi sebuah rumah sederhana.

Rumah bertembok bata. Belum dilapisi acikan semen. Separuh alasnya adalah tanah, dengan atap seng yang sudah mulai menghitam berkarat. Wajah warga yang berkumpul di rumah itu, sama redupnya dengan suasana pagi. Mereka datang dari pelbagai dusun dengan diselimuti perasaan mendung.

Sang tuan rumah, menyambut satu persatu para tamu dengan wajah sendu. Terdengar jelas, tangis kesedihan memecah ruang. Duka tengah merajut hati mereka. Anak, kakak dan adik yang mereka cintai, dikabarkan telah pergi selama-lamanya.

Anton Sujarwo, sosok manusia yang mereka tangisi. Lelaki dambaan keluarga miskin tersebut itu tewas menggenaskan. Putra kesayangan dari pasangan Komarun (65 tahun) dan Utami (55 tahun) itu meregang nyawa lantaran ulah jahanam para teroris dalam tragedi Bom Kuningan, di depan Kantor Kedutaan Australia, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, 9 September 2004 lalu.

Pagi itu, suasana terasa memilukan. Pihak keluarga belum melihat langsung jasadnya. Komarun bertutur, jasad anaknya masih dalam perjalanan. Sekarang tengah berada di sekitar Panjang, Bandarlampung. Sekitar satu jam lagi mayatnya tiba di kampung halaman.

Dari Jakarta, jenazah Anton meluncur pada pukul 20.00 WIB dengan menggunakan mobil Ambulan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Utami, ibu almarhum, nampak terlihat lemas. Kedua matanya sembab lantaran letih menangis. Wanita tersebut sempat jatuh tak sadarkan diri usai mendengar kabar bahwa anaknya meninggal dunia.

Satu jam berlalu. Sekitar pukul 07.10, terdengar sayup lantunan suara ambulan datang dari kejauhan. Suaranya semakin terdengar di telinga warga. Ya, tepat di sebuah tikungan kecil, Jalan Raya Seputih Raman, mobil berwarna putih berbelok ke arah rumah yang telah ramai didatangi warga. Tak salah lagi, itu ambulan yang membawa jenazah Anton Sujarwo.

Kedatangan jenazah Anton disambut tangis histeris keluarganya. Diselingi gema takbir saling menyambut, warga sekitar langsung berbondong-bondong mendekati mobil ambulan tatkala merapat. Kala pintu mobil terbuka, nampak jasad kaku berkain putih tergeletak. Bercak darah mengotori putihnya kafan yang melapisi tubunya. Pihak keluarga tak kuasa menyambut. Hanya bisa meratap jasad Anton yang tak lagi bisa bergerak.

Kedatangan jenazah, ditemani Sri Maryati, kakak perempuan dan Maryadi, rekan seprofesi Anton. Jenazah diantar dari Jakarta ke Lampung dengan menggunakan jalur darat.

Spontan, para lelaki kampung bersiap-siap mengatur keperluan penguburan. Beberapa orang telah mempersiapkan cangkul, sekop, linggis dan alat keperluan penguburan lainnya. Mereka langsung bergegas menuju Tempat Pemakaman Umum untuk segera melakukan penggalian kuburan buat Anton.

Sedangkan yang lain, juga sibuk membuat nisan dan mempersiapkan papan penutup mayat. Pihak keluarga berharap Anton dikubur secepatnya, “Kasian si mayat, kalau kelamaan,” kata Komarun. Ibu-ibunya dan gadis sekitar pun tak kalah sigap.

Mereka menyiapkan keperluan konsumsi, seperti kopi, teh, dan kue ala kadarnya untuk yang bekerja. Satu persatu, pelayat pun bertambah. Datang dari pelbagai dusun. Hingga rumah sempit itu penuh dijejali para pelayat. Karangan bunga duka cita dari Pemerintah Kabupaten dan DPRD Lampung Tengah juga turut menghiasi suasana duka.

Ba’da Shalat Jum’at, langit mendung berubah menjadi cerah. Mentari pancarkan teriknya ke bumi. Namun, terik matahari yang cerah siang itu sesekali terusir oleh semilir angin lembut menyapu kulit. Sekelompok warga yang ditugaskan menggali kubur telah mengabarkan, jika penggalian kuburan buat Anton sudah selesai. Lalu, Mayat pun dimandikan. Tangis sedih masih terus mewarnai. Setiap siraman air ke tubuh jenazah, selalu diiring doa dan shalawat.

Setelah dikafani, jenazah pun dishalatkan. Perlahan, beberapa lelaki ditugaskan untuk mengangkut mayat untuk dimasukkan ke sebuah keranda mayat (katil) yang sudah disiapkan. Katil tersebut dilapisi kain hijau bertulis Dua Kalimat Syahadat dalam bentuk arab yang artinya pengakuan atas keyakinan bahwa

“Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad Adalah Utusan Allah”. Sebuah payung peneduh juga mengiringi keberangkatan jenazah untuk dishalatkan di Mushollah Nurul Huda. Ada sekitar 50 jemaah yang mengikuti shalat jenazah di Mushollah yang berukuran sekitar 8×10 meter tersebut.

Selesai dishalatkan, jenazah lalu diangkat untuk diantarkan ke liang lahat. Pengantaran jenazah diiringi gema takbir dan syahalawat nabi. Puluhan pelayat mengantarkan kepergian Anton. Terik matahari yang menyengat, tak mengurangi kekhusyukkan pelayat mengirim doa buat almarhum. Prosesi penguburan berlangsung lancar.

Satu persatu, keluarga, saudara, tetangga dan rekan almarhum pun pergi tinggalkannya. Namun, Utami tak kuasa melangkahkan kedua kakinya meninggalkan jasad anaknya yang telah ditelan bumi. Ia terpaksa dipapah oleh sanak saudara agar meninggalkan makam Anton.

Duka mendalam juga merajut di wajah Komarun. Kedua matanya berkaca-kaca mengenang masa hidup bersama Anton. Mengenai tragedi tersebut, komarun bertutur, tidak mengira jika nama Anton yang ditayangkan dalam pemberitaan di televisi adalah Anaknya.

Ia juga berusaha mati-matian menyakinkan Utami, jika dugaannya jika Anton telah mati adalah salah. Karena, Anton masih ingat betul jika informasi yang ditayangkan di televisi seputar tragedi bom kuningan menjelaskan, jika Anton yang tewas berusia 44 tahun. Bukan 24 tahun usia sebenarnya Anton, anaknya. Saat menyimak berita di televisi, Komarun beserta Utami juga tidak melihat persis wajah Anton.

Namun, setelah mengingat sejenak masa hidup Anton, Komarun baru yakin jika Anton memang ditakdirkan tewas dalam tragedi tersebut. Masih basah dalam ingatannya, akan ucapan Anton, jika hanya ialah yang bernama “Anton Sujarwo” yang berkerja sebagai Satpam di Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta. “Cuma saya yang bernama Anton Sujarwo yang bekerja sebagai satpam di kantor Dubes Australia,” terang Komarun menirukan ucapan Anton. Ingatan itu membuat perasaan Komarun cemas.

Kabar kematian Anton semakin jelas, ketika sekitar jam 13.00 WIB, Sri Maryati, yang tinggal di kawasan Bekasi, menghubungi Komarun dan Utami perihal kematian Anton di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM) Jakarta. Melalui telepon milik saudaranya yang berada di Metro, Komarun dan Utami mendapat informasi dari Sri, jika Anton tewas karena ledakan Bom Kuningan.

Bak disembar geledek. Utami langsung menjerit histeris ketika mendengar kabar kematian anaknya tersebut. Ia langsung jatuh pingsan. Sanak saudara dan tetangga sekitar berdatangan membantunya. Mereka berupaya tenangkan jiwa Utami yang tengah kalut agar sabar atas malapetaka yang menimpa. Kepada Sri, Komarun menyarankan agar secepatnya memulangkan jenazah Anton ke Lampung.

Sri mengaku, awalnya juga tidak menduga jika adiknya menjadi sasaran teroris. Ia juga tidak tahu jika di depan kantor Dubes Australia, tempat Anton bekerja, luluh lantak oleh dentuman bom dasyat. Informasi memilukan itu justru datang dari majikannya. Sang majikan mengabarkan kepada Sri, jika telah terjadi ledakan dasyat di depan Kantor Dubes Australia, “Kala itu, majikan saya menanyakan kondisi Anton,” jelas Sri yang bekerja sebagai baby sister.

Sri mencoba untuk tak kalut. Ia merasa adiknya tak akan menjadi tumbal kekejian teroris. Tidak mungkin Anton tewas karena ia biasa tugas pada malam hari. “Sedangkan ledakan terjadi sekitar pukul 11.00 WIB,” Sri menduga. Namun, Sri mulai grabak-grubuk ketika sebuah pesan singkat (SMS) masuk ke handphone-nya. Pesan tersebut datang dari Maryadi, rekan Anton yang juga berprofesi sebagai Satpam Kedubes Australia. Dalam pesan, Maryadi mengabarkan bahwa Anto terkena serangan bom. Kini, tengah dirawat intensif di RSCM.

Tanpa pikir panjang, Sri langsung tancap gas. Ia bergegas menjenguk Anton di RSCM. Perasaan gundah semakin menyelimut ketika Sri mendapat kabar, jika tubuh Anton diperkirakan hancur lebur karena ledakan. Jasad Anton kala itu belum berhasil ia temukan. Sri semakin gundah karena mendapat kabar, hanya topi satpam bertuliskan “Anton” yang berhasil ditemukan. Bulu kuduknya semakin bergedik, tatkala Sri sebelumnya sempat melihat ceceran darah, daging dan seikat rambut kucar kacir saat ditayangkan di televisi. “Jangan-jangan, bagian tubuh Anton yang tercecer,” paparnya.

Dugaannya ternyata salah. Sekitar pukul 13.00, ia mendapatkan jasad Anton dalam kondisi utuh. Tidak ditemukan darah membasahi sekitar tubuhnya. Tapi, tubuh Sri menjadi lemah, tatkala menemukan Anton yang tak lagi bernyawa. Anton ditemukan terbujur kaku di ranjang putih RSCM.

Di dada almarhum ditemukan warna hitam legam. Dari keterangan dokter RSCM, Anton tewas karena luka dalam yang parah. Warna hitam legam di dadanya diperkirakan akibat benturan benda keras akibat ledakan bom. Sri mengatakan, kematian Anton bukan di lokasi ledakan, namun di RSCM. Almarhum sempat mendapat perawatan intensif dari tenaga medis.

Dari keterangan Maryadi, Anton ditemukan tergeletak di depan pintu gerbang depan kedutaan. “Tiap beberapa jam, satpam harus ganti jaga, pas Anton kena jadwal jaga, bom meledak,” terang Maryadi. Diperkirakan, posisi Anton tidak jauh dari sumber ledakan. “Saya merasa kehilangan teman karib saya,” katanya.

Sebelum musibah terjadi, Utami memang sudah berfirasat buruk. Ia pernah bermimpi, ada orang lain yang mencabut semua bunga yang telah ditanamnya, “Itu alamat buruk” ungkapnya. Firasat tersebut terjadi seminggu sebelum kematian Anton. Sedangkan, Komarun mengaku tidak mempunya firasat apapun.

Namun, kepergian Anton telah mencabut satu tulang punggung keluarga. “Saya sudah tua, tidak lagi bisa bekerja, kepada siapa saya meminta,” keluh Komarun dengan nada serak. Kematian Anton membuat beban keluarga semakin berat. Komarun hanya seorang petani kecil. Sepetak sawah menjadi taruhan nafas keluarga.

Anton adalah tipikal anak yang berbakti kepada orang tua. Selama bekerja sebagai satpam di Kedubes Australia, ia berhasil merubah nasib keluarga. Sebagian uang penghasilannya sebesar Rp1,7 juta sebulan, selalu ia kirim untuk kebutuhan keluarga tiap bulannya, “Kadang lima ratus ribu hingga satu juta rupiah dalam sebulan buat keluarga yang Anton kirim,” papar Utami.

Komarun bingung, kemana ia dapat mencari uang guna membiayai adik Anton yang tengah duduk di bangku SMU, membayar listrik dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Semua biaya tersebut sudah ditanggung Anton.

Pengabdiannya sebagai anak, telah dilakukan sejak SMP. Kala itu, Anton sudah bekerja bercocok tanam dan mengembala sapi guna meringankan kerja Komarun. Setelah menjadi Satpam, Anton memaksa Komarun untuk tidak lagi bekerja karena penghasilannya sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga, “Sudahlah bapak tidak usah lagi bekerja, nanti sakit, saya juga yang bingung,” kata Komarun menirukan ucapan Anton.

Anak lelaki satu-satunya Komarun dan Utami tersebut sebelum tak berminat menjadi Satpam. Pria lajang lulusan SMU PGRI Seputih Raman tersebut ingin sekali mengubah kemiskinan yang melanda keluarganya dengan cara merantau ke Hongkong. Tawaran kerja di Hongkong dengan gaji besar dari sebuah Biro Tenaga Kerja Indonesia di Lampung, mendorong minatnya untuk beradu nasib di Hongkong.

Cita-cita Anton untuk bekerja di Hongkong coba diamini oleh Komarun. Namun, modal awal untuk ongkos ke Hongkong mencapai Rp12 juta. “Dari mana saya mendapatkan uang sebanyak itu,” kenang Komarun menjelaskan hambatan asa dalam diri Anton untuk terbang ke Hongkong. Terpaksa, dua ekor sapi miliknya dijual dengan harga Rp2,5 juta. Uang tersebut kemudian dibayar untuk cicilan ongkos Anton ke Hongkong.

Namun, setelah menyerahkan uang dari penjualan dua ekor sapi tersebut, biro jasa TKI yang berjanji akan mempekerjakan Anton di Hongkong justru raib entah kemana. Anton rupanya sadar telah dikibuli oleh biro jasa TKI tersebut.

Anton pun prustasi sesaat. Ia selalu berpikir bagaimana mengembalikan uang milik ayahnya yang raib percuma. Merantau ke Jakarta menjadi pilihannya. Tahun 2001, Anton nekat menyeberang ke Jakarta untuk menjadi Satpam.

Awalnya, ia bekerja sebagai satpam di kantor Asuransi. Kemudian menjadi satpam di Kantor Kedutaan Belanda. Merasa tidak betah, Anton melamar menjadi satpam di Kedutaan Australia. Sejak Juni 2003, ia bertahan menjadi calon staf Satpam di Kedutaan Australia. Di Jakarta, Anton tinggal kontrak di sebuah kos-an sempit di bilangan Menteng, Setia Budi Jakarta.

Tanggal 17 Agustus 2004, Anton baru mendapat kabar jika ia lulus dalam masa percobaan sebagai calon staf satpam di Kedutaan Australia. Kabar kelulusan tersebut cukup mengembirakan orang tuanya

Untuk sekedar menyenangkan hati orang tuanya, Anton mengundang Komarun dan Utami datang ke Jakarta. Kepada orang tuanya, Anton juga mengabarkan jika ia baru lulus ujian dari pelatihan kerja dan akan dikirim ke Bali.

Tapi, Komarun tak menduga jika pertemuan itu menjadi akhir perjumpaan bersama anaknya. “Buat apa, jika ternyata Anton tewas dan tidak sempat menikmati keberhasilannya,” sesalnya. Perasaan sedih juga menyayat hati Linda Listiani, 14 tahun adik Anton yang kini duduk di Bangku SMU PGRI Seputih Raman.

“Kalau bukan mas Anton, siapa lagi yang akan membiayai sekolah saya,” katanya. Sedangkan dua kakaknya, yaitu Nafsiah dan Aminati sudah tidak bekerja dan sudah menikah. Harapan Linda hanya dari Sri Maryati, yang hanya sebatas pengasuh anak.

Namun tak dikira, ternyata Anton terdaftar sebagai anggota Jamsostek. Komarun agak bersyukur karena Jamsostek mencairkan dana asuransi yang berhak diterima keluarga Anton sebesar Rp34 juta.

Menurut Nur Yunus Sai Sobar, Kepala Jamsostek Lampung, Pemerintah Australia memang telah mengasuransikan semua tenaga kerja yang bekerja pada pemerintah Australia. “Dalam catatan Jamsostek, Anton berhak menerima asuransi dengan dana sebesar itu,” jelas Nur. Jadi, semua tenaga kerja di kedutaan Australia yang terkena ledakan, akan mendapatkan asuransi.

Namun, uang tersebut tentu tak akan mampu menutupi kesedihan yang dialami keluarga Anton. Satu harapan yang amat diinginkan keluarga Komarun, agar pihak kepolisian dapat menuntaskan tragedi yang mematikan anaknya.

“Kematian anak saya tidak bisa dibayar dengan uang,” ungkapnya. Pihak kepolisian segera mungkin memberikan kejelasan informasi tentang kematian anaknya. Hingga kini, pihak keluarga belum mendapatkan informasi sama sekali. Ledakan Bom Kuningan sama dasyat dengan Bom Bali atau ledakan di Hotel Marriot Jakarta. “Tidak hanya polisi, semua pihak harus terlibat untuk menemukan pelaku yang telah membunuh anak saya,” desaknya. Nyawa harus dibayar nyawa. Kalau tidak didapat pelakunya, Komarun menguntuk, agar hidup matinya teroris selalu sengsara.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s