Tulang Punggung Keluarga itu Telah Tiada

Aparat kepolisian tengah menyelidikan kerusakan Hotel JW Marriott akibat serangan teroris | The Globe and Mail

RATUSAN warga mendatangi sebuah rumah di Desa Ruktiharjo, Lampung Tengah. Wajah sebagian mereka terlihat redup. Sang tuan rumah yang tengah berduka, menyambut satu persatu para tamu. Terdengar pula tangis kesedihan. Mereka berduka lantaran anak, kakak, dan adik yang mereka cintai, telah pergi selama-lamanya.

Anton Sujarwo, sosok yang mereka tangisi. Lelaki dambaan keluarga sederhana itu tewas menggenaskan. Putra kesayangan dari pasangan Komarun (65 tahun) dan Utami (55 tahun) itu meregang nyawa karena ulah jahanam para teroris yang melancarkan serangan Bom Kuningan, Jakarta. Bom itu diledakan di depan Kantor Kedutaan Australia, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, 9 September 2004 lalu.

Pagi itu, suasana terasa memilukan. Utami, ibu almarhum, terlihat lemas. Kedua matanya sembab karena letih menangis. Wanita tersebut sempat jatuh tak sadarkan diri usai mendengar kabar anaknya meninggal dunia.

Pihak keluarga belum melihat langsung jenazah Anton. Menurut Komarun, jasad anaknya masih dalam perjalanan. Sekitar satu jam lagi jasad Anton tiba di kampung halaman.

Dari Jakarta, jenazah Anton dibawa ke kampung halaman pada pukul 20.00 WIB dengan menggunakan mobil Ambulan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Satu jam berlalu. Sekitar pukul 07.10, terdengar suara mobil ambulan. Tepat di sebuah tikungan kecil, Jalan Raya Seputih Raman, mobil berwarna putih itu berbelok ke arah rumah duka. Itulah ambulan yang membawa jenazah Anton.

Kedatangan jenazah Anton disambut tangis histeris keluarga. Diselingi gema takbir yang saling menyambut, warga berbondong-bondong mendekati mobil ambulan tatkala merapat. Kala pintu mobil terbuka, nampak jasad kaku berkain putih tergeletak.

Bercak darah mengotori putihnya kain kafan yang melapisi jasad itu. Pihak keluarga tak kuasa menyambut. Hanya bisa meratap tubuh Anton yang tak lagi bisa bergerak. Kedatangan jenazah Anton, dikawal Sri Maryati, kakak perempuan dan Maryadi, rekan seprofesi Anton.

Tak lama berselang, sejumlah warga bersiap mengatur keperluan penguburan. Beberapa di antaranya mempersiapkan cangkul, sekop, linggis dan alat lainnya. Mereka langsung bergegas menuju tempat pemakaman untuk melakukan penggalian makam buat Anton.

Ada juga yang sibuk membuat nisan dan mempersiapkan papan penutup mayat. Pihak keluarga berharap, jasad Anton dikubur secepatnya, “Kasian si mayat, kalau kelamaan,” kata Komarun. Ibu-ibu dan gadis sekitar pun tak kalah sigap. Mereka menyiapkan keperluan konsumsi, seperti kopi, teh, dan kue ala kadarnya untuk yang bekerja.

Satu persatu, pelayat pun berdatangan. Rumah sempit itu pun dijejali para pelayat. Karangan bunga duka cita dari Pemerintah Kabupaten dan DPRD Lampung Tengah juga turut menghiasi suasana duka.

Ba’da Shalat Jum’at, langit yang tadinya mendung berubah cerah. Mentari pancarkan teriknya ke bumi. Namun, teriknya siang itu terusir oleh semilir angin lembut menyapu kulit. Sekelompok warga yang ditugaskan menggali kubur mengabarkan, penggalian kuburan sudah selesai. Lalu, Mayat pun dimandikan. Tangis sedih masih terus mewarnai. Setiap siraman air ke tubuh jenazah, selalu diiring doa dan shalawat.

Setelah dikafani, jenazah pun dishalatkan. Setelah itu, beberapa lelaki ditugaskan untuk mengangkut mayat untuk dimasukkan ke keranda (katil) yang sudah disiapkan. Katil tersebut dilapisi kain hijau bertulis Dua Kalimat Syahadat.

Sebuah payung peneduh mengiringi keberangkatan jenazah untuk dishalatkan di Mushollah Nurul Huda. Sekitar 50 jamaah yang mengikuti shalat jenazah di mushollah yang berukuran sekitar 8×10 meter tersebut.

Selesai dishalatkan, jenazah lalu diantarkan ke liang lahat. Pengantaran jenazah diiringi gema takbir dan syahalawat nabi. Terik matahari yang menyengat, tak mengurangi kekhusyukkan pelayat melantunkan takbir dan doa. Prosesi penguburan berlangsung lancar.

Satu persatu, keluarga, saudara, tetangga dan rekan almarhum pun pergi tinggalkannya. Namun, Utami tak kuasa meninggalkan kuburan anaknya. Dia pun terpaksa dipapah oleh keluaganya agar meninggalkan makam Anton.

Duka mendalam nampak di wajah Komarun. Kedua matanya berkaca-kaca mengenang masa hidup bersama Anton. Mengenai tragedi tersebut, komarun mengaku, tidak mengira jika nama Anton yang ditayangkan dalam pemberitaan di televisi adalah anaknya.

Dia juga berusaha mati-matian menyakinkan Utami jika dugaannya Anton telah mati adalah salah. Karena, dia ingat jika informasi yang ditayangkan di televisi seputar tragedi bom kuningan mengabarkan jika Anton yang tewas berusia 44 tahun. Bukan 24 tahun, usia Anton. Saat menyimak berita di televisi, Komarun beserta Utami juga tidak melihat persis wajah Anton.

Namun, setelah mengingat sejenak masa hidup Anton, Komarun baru yakin jika Anton memang ditakdirkan tewas dalam tragedi tersebut. Karena, dia masih teringat ucapan Anton jika hanya dirinya yang bernama “Anton Sujarwo” yang berkerja sebagai Satpam di Kedutaan Besar Australia. “Cuma saya yang bernama Anton Sujarwo yang bekerja sebagai satpam di kantor Dubes Australia,” terang Komarun menirukan ucapan Anton. Ingatan itu membuat perasaan Komarun cemas.

Kabar kematian Anton semakin jelas, ketika sekitar jam 13.00 WIB, Sri Maryati, yang tinggal di Bekasi, menghubungi Komarun dan Utami perihal kematian Anton. Melalui telepon milik saudaranya yang berada di Kota Metro, Komarun dan Utami mendapat informasi dari Sri, jika Anton tewas karena ledakan Bom Kuningan.

Bak disembar geledek, Utami menjerit histeris mendengar kabar itu. Dia jatuh pingsan. Sanak saudara dan tetangga sekitar berdatangan membantunya. Mereka juga berupaya tenangkan jiwa Utami yang kalut agar sabar atas malapetaka yang menimpa. Kepada Sri, Komarun menyarankan, agar secepatnya memulangkan jenazah Anton ke Lampung.

Sri mengaku, awalnya tidak menduga, adiknya menjadi sasaran teroris. Dia juga tidak tahu jika di depan kantor Dubes Australia, tempat Anton bekerja, luluh lantak oleh bom. Informasi memilukan itu datang dari majikannya yang mengabarkan, telah terjadi ledakan dasyat di depan Kantor Dubes Australia, “Kala itu, majikan saya menanyakan kondisi Anton,” jelas Sri yang bekerja sebagai baby sister.

Sri mencoba untuk tak kalut. Dia merasa, adiknya tak akan menjadi tumbal kekejian teroris. Tidak mungkin Anton tewas karena dia biasa tugas pada malam hari. “Sedangkan ledakan terjadi sekitar pukul 11.00 WIB,” kata Sri menduga. Namun, dia mulai cemas ketika sebuah pesan singkat (SMS) masuk ke handphone-nya. Pesan tersebut datang dari Maryadi, rekan Anton yang juga berprofesi sebagai Satpam Kedubes Australia. Dalam pesan itu, Maryadi mengabarkan, Anton terkena serangan bom. Kini, tengah dirawat intensif di RSCM.

Tanpa pikir panjang, Sri langsung tancap gas. Dia bergegas menjenguk Anton di RSCM. Perasaan gundah semakin menyelimut ketika Sri mendapat kabar, jika tubuh Anton diperkirakan hancur karena ledakan. Jasad Anton kala itu belum berhasil ia temukan. Sri semakin gundah karena mendapat kabar, hanya topi satpam bertuliskan “Anton” yang berhasil ditemukan.

Bulu kuduknya semakin bergedik, tatkala sebelumnya sempat melihat ceceran darah, daging dan seikat rambut yang kucar kacir saat ditayangkan di televisi. “Jangan-jangan, bagian tubuh Anton yang tercecer,” paparnya.

Dugaannya ternyata salah. Sekitar pukul 13.00, ia mendapatkan jasad Anton dalam kondisi utuh. Tidak ditemukan darah membasahi sekitar tubuhnya. Dan, dugaan Sri itu benar. Dia menemukan Anton yang tak lagi bernyawa, terbujur kaku di ranjang putih RSCM.

Di dada almarhum ditemukan warna hitam legam. Dari keterangan dokter, Anton tewas karena luka dalam yang parah. Warna hitam legam di dadanya diperkirakan akibat benturan benda keras akibat ledakan bom. Sri mengatakan, kematian Anton bukan di lokasi ledakan, namun di RSCM. Almarhum sempat mendapat perawatan intensif dari tenaga medis.

Aparat kepolisian tengah menyelidikan kerusakan Hotel JW Marriott akibat serangan teroris | The Globe and Mail1

Dari keterangan Maryadi, Anton tergeletak di depan pintu gerbang depan kedutaan. “Tiap beberapa jam, satpam harus ganti jaga, pas Anton kena jadwal jaga, bom meledak,” terang Maryadi. Diperkirakan, posisi Anton tidak jauh dari sumber ledakan. “Saya merasa kehilangan teman karib saya,” katanya.

Sebelum musibah terjadi, Utami sudah berfirasat buruk. Dia pernah bermimpi, ada orang lain yang mencabut semua bunga yang telah ditanamnya, “Itu alamat buruk.” Firasat tersebut terjadi seminggu sebelum kematian Anton. Sedangkan, Komarun mengaku, tidak mempunyai firasat apapun.

Kepergian Anton telah mencabut tulang punggung keluarga. “Saya sudah tua, tidak lagi bisa bekerja, kepada siapa saya meminta,” keluh Komarun dengan nada serak. Kepergian Anton membuat beban keluarga semakin berat. Komarun hanya seorang petani kecil. Sepetak sawah menjadi taruhan nafas keluarga.

Anton adalah tipikal anak yang berbakti kepada orang tua. Selama bekerja sebagai satpam di Kedubes Australia, ia berhasil mengubah nasib keluarga. Sebagian uang penghasilannya sebesar Rp1,7 juta sebulan, selalu ia kirim untuk kebutuhan keluarga. “Kadang lima ratus ribu hingga satu juta rupiah dalam sebulan buat keluarga dari Anton,” jelas Utami.

Komarun bingung, kemana ia dapat mencari uang guna membiayai adik Anton yang tengah duduk di bangku sekolah menegah atas, termasuk membayar listrik dan kebutuhan hidup keluarga. Semua biaya tersebut biasanya ditanggung Anton.

Pengabdian Anton sebagai anak yang berbakti, telah dilakukan sejak SMP. Kala itu, Anton sudah bekerja bercocok tanam dan mengembala sapi guna meringankan kerja Komarun. Setelah menjadi Satpam, Anton berpesan pada Komarun untuk tidak lagi bekerja karena penghasilannya sudah mencukupi kebutuhan keluarga, “Sudahlah bapak tidak usah lagi bekerja, nanti sakit saya juga yang bingung,” kata Komarun menirukan ucapan Anton.

Anak lelaki satu-satunya Komarun dan Utami tersebut sebelum tak berminat menjadi Satpam. Namun, pria lajang lulusan SMU PGRI Seputih Raman itu ingin mengubah nasib keluarganya dengan cara merantau ke Hongkong. Tawaran kerja di Hongkong dengan gaji besar dari sebuah Biro Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Lampung, mendorong minatnya untuk beradu nasib di Hongkong.

Cita-cita Anton untuk bekerja di Hongkong diamini Komarun. Namun, modal awal untuk ongkos ke Hongkong mencapai Rp12 juta. “Dari mana saya mendapatkan uang sebanyak itu,” kenang Komarun. Terpaksa, dua ekor sapi miliknya dijual dengan harga Rp2,5 juta. Uang tersebut kemudian dibayar untuk cicilan ongkos Anton ke Hongkong.

Namun, setelah menyerahkan uang dari penjualan dua ekor sapi tersebut, biro jasa TKI yang berjanji akan mempekerjakan Anton di Hongkong justru raib. Anton dikibuli oleh biro jasa TKI tersebut.

Dia pun sempat prustasi dan selalu berpikir untuk mengembalikan uang milik ayahnya yang raib percuma. Merantau ke Jakarta menjadi pilihannya. Tahun 2001, Anton nekat menyeberang ke Jakarta untuk menjadi Satpam.

Awalnya, ia bekerja sebagai satpam di kantor asuransi. Kemudian menjadi satpam di Kantor Kedutaan Belanda. Merasa tidak betah, Anton melamar menjadi satpam di Kedutaan Australia. Sejak Juni 2003, dia bertahan menjadi calon staf Satpam di Kedutaan Australia. Di Jakarta, Anton tinggal di sebuah kontrakan sempit di bilangan Menteng, Setia Budi Jakarta.

Tanggal 17 Agustus 2004, Anton baru mendapat kabar jika ia lulus dalam masa percobaan sebagai calon staf satpam di Kedutaan Australia. Kabar kelulusan tersebut mengembirakan orang tuanya.

Untuk sekedar menyenangkan hati orang tuanya, Anton mengundang Komarun dan Utami datang ke Jakarta. Kepada orang tuanya, Anton mengabarkan jika dia baru lulus ujian dari pelatihan kerja dan akan dikirim ke Bali.

Tapi, Komarun tak menduga jika pertemuan itu menjadi akhir perjumpaan bersama anaknya. “Buat apa, jika ternyata Anton tewas dan tidak sempat menikmati keberhasilannya,” sesalnya. Perasaan sedih juga menyayat hati Linda Listiani, 14 tahun, adik Anton yang kini duduk di Bangku SMU PGRI Seputih Raman.

“Kalau bukan mas Anton, siapa lagi yang akan membiayai sekolah saya,” katanya. Sedangkan dua kakaknya, yaitu Nafsiah dan Aminati sudah tidak bekerja dan sudah menikah. Harapan Linda hanya dari Sri Maryati, yang hanya sebatas pengasuh anak.

Namun tak dikira, ternyata Anton terdaftar sebagai anggota Jamsostek. Komarun agak bersyukur karena Jamsostek mencairkan dana asuransi yang berhak diterima keluarga Anton sebesar Rp34 juta.

Menurut Nur Yunus Sai Sobar, Kepala Jamsostek Lampung, Pemerintah Australia memang telah mengasuransikan semua tenaga kerja yang bekerja pada pemerintah Australia. “Dalam catatan Jamsostek, Anton berhak menerima asuransi dengan dana sebesar itu,” jelas Nur. Jadi, semua tenaga kerja di kedutaan Australia yang terkena ledakan, akan mendapatkan asuransi.

Namun, uang tersebut tentu tak akan mampu menutupi kesedihan yang dialami keluarga Anton. Satu harapan yang amat diinginkan keluarga Komarun, agar pihak kepolisian dapat menuntaskan tragedi yang mematikan anaknya.

“Kematian anak saya tidak bisa dibayar dengan uang,” ungkapnya. Pihak kepolisian segera mungkin memberikan kejelasan informasi tentang kematian anaknya.

Hingga kini, pihak keluarga belum mendapatkan informasi sama sekali. Ledakan Bom Kuningan sama dasyat dengan Bom Bali atau ledakan di Hotel Marriot Jakarta. “Tidak hanya polisi, semua pihak harus terlibat untuk menemukan pelaku yang telah membunuh anak saya,” desaknya. Nyawa harus dibayar nyawa. Kalau tidak didapat pelakunya, Komarun berharap, para teroris hidupnya sengsara. | M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s