DBD Makin Mengganas

WABAH penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menyerang. Penyakit yang disebarkan oleh Nyamuk Aedes Aegypti itu memakan banyak korban. Sejak Januari 2007, sejumlah daerah, DBD tragis menyerang.

Di Bogor, dari 380 kasus DBB, 13 orang meninggal dunia. Di Banten, dari 48 kasus, empat penderita DBD dinyatakan tewas. Sementara di Jakarta, dari 968 kasus, empat orang meninggal dunia. Di Lampung 3 penderita dinyatakan tewas.

Di Depok, Aades Aegypti juga menyerangkan 126 orang. Satu penderita DBD di Depok meninggal dunia. Sementara di Palembang 200 kasus, di Riau 32 kasus, Bali 31 kasus, Jawa Timur 27 ( 2 tewas), Riau 32 kasus, Palembang 200 kasus dan Bangka Belitung 6 kasus.

Pusat Komunikasi Publik dari Sub Direktorat Arbovirosis Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP & PL) Departemen Kesehatan, sebelumnya melaporkan kasus DBD mencapai 2283 kasus. Sementara yang meninggal mencapai 15 orang (24/1). Namun, angkanya terus membengkak seiring penyebaran yang begitu cepat.

Terkait dengan tinggi angka penderita DBD yang meninggal dunia, I Nyoman Kandun, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan, mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena pada Februari, masih musim hujan.

Apalagi, katanya, hujan saat ini tak begitu lebat, tak langsung diserap panas sehingga menimbulkan genangan air di tempat-tempat perindukan (breeding places) Aades Aegypti, seperti batok kelapa, kaleng, ban bekas atau tempat yang bisa terisi air hujan.

Nyoman menyarankan agar masyarakat bersama-sama membersihkan tempat perindukan, pemberantasan vektor untuk memutuskan rantai penularan dalam rangka mencegah dan memberantas penyakit DBD agar tak meluas.

”Tanpa ada gerakan masyarakat, dia menilai, penyebaran DBD sulit diantisipasi. Karena vektornya ada di lingkungan kita. Tinggal orang yang bawa virus saja. Datang, lalu digigit, maka akan menularkan,” katanya kepada Jurnal Nasional di Jakarta kemarin.

Nyoman juga menghimbau agar masyarakat yang terserang panas dan demam pada saat sekarang, segera ke dokter untuk diperiksa guna memastikan apakah masyarakat yang terserang panas dan demam itu digigit Nyamuk Aedes Aegypti, atau tidak.

”Jangan ditunggulah. Karena kalau deman dan panas dalam keadaan sekarang, kita curiga kalau tidak flu burung, maka terserang DBD. Makin cepat dirujuk ke dokter, makin mudah tertolong,” katanya.

Menurut dia, tingginya angka kematikan akibat DBD disebabkan lambannya proses penanganan secara medis dari pihak keluarga.

Dalam memberantas DBD, Nyoman menilai, tidak cukup hanya dengan cara pengasapan (fogging). Usaha tersebut baru dilakukan jika sudah ada indikasi seseorang yang terserang DBD di sebuah kawasan. Pengasapan sudah menjadi standar dalam pemberantasan nyamuk Aedes Aegypti lewat penanggulangan fokus.

”Kalau ada dua orang menderita, yang ditularkan dari 1 orang dalam suatu wilayah, kemudian terbukti positif secara laboratorium, maka dalam radius 100 meter, atau luasnya empat hektar, akan dilakukan penyemprotan.”

Dia menambahkan, penanggulangan fokus, bukan untuk DBD yang tengah terjadi, tetapi mencegah penularan dari seseorang yang sudah terbukti sudah positif agar tidak transmisi ke orang lain.

Secara terpisah, Kepala Subdinas Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Depok, Ani Rubiani, menghimbau masyarakat aktif memberantas sarang nyamuk beserta bintik-bintiknya.

Bersama Pemda Di Depok, katanya, beberapa puskesmas juga melakukan fogging. Penyadaran juga semakin digencarkan. ”Pemberantasan nyamuk diharapkan dapat juga direalisasikan di tingkat masyarakat dan keluharan,” katanya kemarin.

Sementara beberapa kepala dinas kesehatan yang daerahnya terserang DBD, sulit dihubungi untuk dimintai komentar tindakan kongkret yang akan segera dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran DBD.

Selalu Terlambat

Wilhelmus Woa Openg, Anggota Tim Kesehatan Panitia Adhoc (PAH) III Dewan Pimpinan Daerah (DPD), menilai penanganan DBD yang dilakukan pemerintah selama ini kurang komprehensif. Menurut dia, setiap tahun DBD selalu ada. ”Namun, penanganannya baru gencar dilaksanakan saat setelah jatuh korban,” katanya kemarin. Seharusnya, Wilhelmus mengatakan, penanganan DBD tidak hanya menunggu Nopember, saat musim hujan tiba. Namun, harus dilakukan sejak enam bulan sebelumnya.

”Dinas Kesehatan harusnya tahu siklus penyebaran DBD. Penanganannya harusnya enam bulan sebelum DBD menyerang. Itu tidak dilakukan, penanganan hanya dilakukan pada saat terjadi DBD, itu sudah terlambat,” komentarnya.

Sejak tahun 1968, kasus DBD terus meningkat. Penyakit endemis itu awalnya hanya menyerang Jakarta dan Surabaya. Namun, penyebarannya semakin meluas ke sejumlah daerah di Indonesia seiring meningkatnya mobilisasi masyarakat. Sampai sekarang obat dan vaksin untuk membunuh virus dengue belum ada.

Di Indonesia, KLB DBD pernah terjadi pada tahun 1988, 1998, dan 2004. Sepanjang tahun 2005 terjadi 3 puncak peningkatan kasus, yaitu pada bulan Januari-Maret, Agustus dan Desember.

Tahun 2006 terjadi peningkatan sejak Januari hingga Mei. Total jumlah kasus sampai dengan Oktober 2006 sebanyak 72.812 kasus, 753 diantaranya meninggal (CFR 1,03%). Memasuki bulan November 2006 lalu, di beberapa Kalimantan Barat, Cilegon dan Banten sudah mulai terjadi KLB.

Namun, Departemen Kesehatan mengklaim angka kematian (case fatality rate) akibat DBD sejauh ini bisa ditekan hingga 1,2– 1,3 persen. Atau, dari 100 orang yang mengindap DPD, hanya satu orang yang meninggal.

”Bahkan, di Jakarta angka kematian di bawah 1 persen,” kata Nyoman.

Dibandingkan dengan Januari tahun 2006, kasus DBD tahun ini lebih sedikit. Pada Januari 2006, jumlah kasus mencapai 18.929, 192 orang di antaranya meninggal (CFR 1,0%).

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, mengaku sejak 6 bulan lalu telah mengirim surat ke seluruh Gubernur agar menggiatkan program 3 M, yaitu menguras, menutup dan mengubur. Menkes juga menghimbau masyarakat menjalankan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s