M. Yamin Panca Setia

Demokrasi dalam Pemikiran Hatta

MUHAMMAD Hatta rela melepaskan jabatannya sebagai Wakil Presiden karena perbedaan ideologis dengan Presiden Soekarno. Dia menentang paham politik Soekarno tentang Demokrasi Terpimpin karena mengaburkan esensi demokrasi. Mundurnya Hatta mengajarkan sikap kenegarawanan kepada elit politik di negara ini jika kekuasaan bukan tujuan utama dari kegiatan politiknya.

Soekarno dan Hatta, memang dihadapi konflik laten akibat perbedaan ideologis. Prakemerdekaan, di tahun 1932, Hatta bergabung dengan PNI Baru. Sementara Soekarno bergabung dalam Partai Indonesia (Partindo). Hatta menuding Partindo menolak dasar kedaulatan rakyat yang telah menjadi darah daging anggota PNI. Meski demikian, mereka tetap berjalan seiringan untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa dari penjajahan.

Pascakemerdekaan, pertarungan ideologis yang rentan memunculkan kemacetan politik (political gridlock) sering terjadi akibat belum mapannya struktur konstitusi yang menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. UUD 1945 diakui merupakan UUD kilat. Soekarno mengistilahkan sebagai revolutie-grondwet karena disusun secara tergesa-gesa sejak bulan Mei 1945 dalam rangka persiapan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, meskipun banyak ide-ide cemerlang dan cerdas yang berhasil dirumuskan di dalamnya, tetapi UUD 1945 tidaklah diidealkan oleh para pendiri bangsa.

Belum genap tiga bulan usia UUD 1945 sejak disahkan tanggal 18 Agustus 1945, para pendiri bangsa bersepakat membentuk pemerintahan kabinet parlementer pertama dibawah kepemimpinan Perdana Menteri Sjahrir. Namun, dalam perjalanannya, sistem parlementer hanya bertahan tahun 1959 ketika Indonesia kembali memberlakukan UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 juli 1959. Namun, penerapan sistem campuran berdasarkan UUD 1945 itu sampai tahun 1965 gagal menghasilkan sistem demokrasi yang kuat. Soekarno bahkan menerapkan Demokrasi Terpimpin yang kemudian menuai penentangan dari Hatta. Dia menilai kepemimpinan Soekarno tidak demokratis karena semua jabatan di pemerintahan ditentukan Presiden.

“…Lenyaplah sisa-sisa demokrasi yang penghabisan. Demokrasi Terpimpin Sukarno menjadi suatu diktaktor yang didukung oleh golongan-golongan tertentu,” demikian kritik Hatta saat menyampaikan pemikiran politiknya tentang Demokrasi Sosial yang diucapkannya saat menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada pada 27 November 1958.

Dalam pidatonya, Hatta mengecam konsep Demokrasi Terpimpin Sukarno yang seakan frustasi menghadapi kebuntuan politik dalam negeri. Pemikiran politik Hatta itu sejalan dengan pemikiran John Locke (1632-1704) yang memandang perlu adanya pemisahan kekuasaan. Locke menekan perlunya dicegah sentralisasi kekuasaan ke dalam satu tangan atau lembaga. Locke kemudian menawarkan pemisahan kekuasaan politik ke dalam tiga bentuk, yakni kekuasaan legislatif (legislative power), kekuasaan eksekutif (executive power), dan kekuasaan federatif (federative power).

Dalam melaksanakan peran dan fungsinya, ketiga kekuasaan politik itu tidak ada saling campur tangan sehingga dapat memastikan berjalannya mekanisme checks and balances. Locke dalam buku karyanya yang terkenal yakni Two Treatises of Government (Dua persepakatan dengan pemerintah) yang terbit tahun 1689, menyuguhkan ide dasar yang menekankan arti penting konstitusi demokrasi yang memosisikan penguasa sebagai pelindung hak milik warga negara.

Lepas dari jabatan pemerintahan dan tak lagi menjadi aktor di panggung politik, Hatta tidak berdiam diri. Dia tetap aktif menyikapi dinamika politik di bawah kendali Soekarno saat mengajar di Universitas Indonesia. Baginya, demokrasi harusnya ditopang oleh semua kalangan. Tidak seperti konsep Demokrasi Terpimpin yang hanya ditopang oleh para pendukungnya saja. Karena itu, Hatta memprediksi kekuasaan Soekarno akan rapuh karena dililit pertikaian antarpendukungnya.

Soekarno seakan menganggap kritik Hatta hanya angin saja. Dia bahkan menetapkan Dekrit 5 Juli 1959. Pada tahun 1960, Hatta kembali melontarkan kritik terhadap sehabatnya itu. Lewat artikel berjudul: Demokrasi Kita, yang dimuat di majalah Panji Masyarakat, Hatta mempreteli kewibawaan politik Soekarno.

Soekarno berang. Dia melarang keras masyarakat membaca artikel tersebut. Panji Masyarakat bahkan dilarang beredar. Hatta membuktikan dirinya sebagai seorang demokrat yang memiliki kadar intelaktualitas yang tinggi dan integritas yang mumpuni dalam menancapkan prinsip demokrasi dalam kehidupan bernegara.

Hatta kemudian memperkenalkan Demokrasi Sosial yang pada dasarnya mengintegrasikan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Menurut dia, demokrasi tidak sekedar memberikan kebebasan kepada individu. Namun, harus dapat memastikan terwujudnya keadilan dan kemakmuran.

Bagi Hatta, demokrasi politik tidak dapat membebaskan bangsa ini dari jerat kemiskinan dan menempatkan persamaan serta persaudaraan. Karena itu, Hatta menempatkan pentingnya Demokrasi Sosial yang berangkat dari tradisi masyarakat yang menjadi modal sosial. Dia mencontohkan tradisi gotong-royong yang memudahkan segala usaha yang berat yang tidak dapat dikerjakan sendiri.

Hatta juga lebih menekankan pentingnya proses dalam pengambilan keputusan, bukan sekedar suara mayoritas dalam sebuah rapat, atau tak semata-mata setengah plus satu suara. Namun, juga menekankan mekanisme. Jika akhirnya kesepakatan tak dapat ditetapkan, maka barulah menggunakan mekanisme suara terbanyak dalam pengambil keputusan. Meski menolak suara terbanyak, Hatta menganggap hal itu lebih baik daripada pemufakatan semu seperti terjadi di negara-negara totaliter.

Hatta juga tidak yakin rakyat dapat bebas dari ketimpangan ekonomi jika hanya diberikan hak politik saja. Namun, rakyat juga harus diberikan hak dalam bidang ekonomi. Keputusan yang ditetapkan harus mencerminkan demokrasi ekonomi.

Paham demokrasi Hatta tidak terlepas dari pengaruh Islam dan barat. Pemahaman tentang Islam itu tidak terlepas dari pengaruh tradisi Minangkabau, Bukittinggi, tempat kelahirannya yang kuat mengadopsi ajaran Islam. Hatta menempatkan dimensi etis agama yang menghendaki rasa persaudaraan dan tolong menolong antarsesama manusia dalam pergaulan hidup. Hal itu berbeda dengan paham sosialisme yang dituangkan Karl Marx yang menempatkan sosialisme berdasarkan materialisme. Sosialisme yang dituangkan Hatta juga tidak terlepas ekspresi perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan.

Sementara pengaruh barat tidak terlepas dari latarbelakang pendidikannya yang pernah sekolah di Belanda. Hatta pernah menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia (Indonesische Vereeniging) di Belanda pada tahun 1926-1930. Di barat, demokrasi dipahami sebagai aktualisasi kebebasan individu, sedangkan dalam Islam, demokrasi harus menyesuaikan diri dengan tuntutan bersama.

Saat di Belanda, Hatta bersama rekannya Natsir Datur Pamuncak, Ali Sastroamidjojo dan Abdoel Madjid Djojodiningrat pernah ditangkap pemerintah Belanda pada tahun 1927 dan diadili karena dianggap melakukan agitasi lewat pidato yang terkenal masa itu yaitu: “Indonesia Merdeka”. Namun, Hatta akhirnya bebas karena kuasa hukumnya, J.E.W Duys, seorang anggota parlemen dari Partai Buruh Sosialis Belanda, mampu menyakinkan hakim jika dirinya tidak bersalah.

Saat pulang ke tanah air, Hatta kemudian menerbitkan majalah Daulat Ra’jat yang menjadi media menyampaikan pemikiran demokrasinya. Dalam edisi perdana Hatta menulis, “…Bagi kita, rakyat itu yang utama, rakyat yang mempunyai kedaulatan, kekuasaan (souvereiniteit) karena rakyat itu jantung hati bangsa. Dan rakyat itulah yang menjadi ukuran tinggi rendahnya derajat kita. Dengan rakyat kita naik dan dengan rakyat kita kita turun. Hidup matinya Indonesia Merdeka semua itu tergantung pada semangat rakyat. Penganjur-penganjur dan golongan terpelajar baru berarti, kalau dibelakangnya ada rakyat yang sadar dan insyaf akan kedaulatan dirinya.”

M. Yamin Panca Setia

Dari berbagai sumber

About these ads
This entry was published on 05/02/2011 at 5:55 pm and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: